GATRANEWS

Indonesia Jangan Cuma Jadi "Penonton" AFTA 2015

Jakarta, GATRAnews - Kevin Wu mengatakan bahwa pemerintah dan pengusaha harus mempersiapkan kompetensi dan mental wirausaha rakyat, agar tidak jadi penonton di era perdagangan bebas Asean Free Trade Area (AFTA), yang segera digulirkan tahun 2015.

Pengusaha muda itu menyampaikan hal tersebut, pada peluncuran buku berjudul "Personal Succes Cockpit", di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu (4/5).

"Era perdagangan bebas sebentar lagi. Pemerintah dan pengusaha harus menyiapkan bangsanya menghadapi era baru. Keduanya harus bisa menyiapkan penduduk menghadapi era persaingan bebas itu," kata Kevin.

Menurutnya, salah satu yang harus ditumbuhkan kepada seluruh warga negara, adalah mental berwirausaha. Pekerjaan ini menjadi program penting, bukan hanya pemerintah, tapi juga kalangan pengusaha.

"Kami di Kadin dan banyak organisasi sosial, terus mengangkat isu-isu berwirausaha. Itu sebagai pilihan alternatif supaya tidak menggantungkan hidup menjadi pekerja. Dengan begitu, kekayaan alam yang melimpah bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh bangsa sendiri, dan kita tidak hanya menonton bangsa lain mengeruk untung dari kekayaan alam kita itu," tegasnya.

Penulis "Personal Succes Cockpit", Frans Budi Pranata, mengatakan bahwa salah satu agenda menumbuhkan semangat berwirausaha, pihaknya akan melakukan seminar besar di Jakarta, 22 Juni 2013 mendatang dengan tema "8 Succesfull People, 8 Great Ways".

"Kami akan menghadirkan 8 tokoh sukses untuk membagikan pengalamannya, sehingga mereka bisa menyebarkan virus-virus keberhasilan. Dengan begitu, 2 tahun mendatang, bangsa kita lebih siap menghadapi era perdagangan bebas," jelasnya.

Sementara itu, pakar kepemimpinan, Urgyen Sim mengatakan, menilai, sangat ironis dari 250 juta penduduk kita hanya bisa menghasilkan sedikit orang berprestasi di dunia. Padahal kalau digali harusnya bangsa kita bisa memimpin dunia.

"Dari 250 juta penduduk kok cuma 2 orang saja yang jadi juara dunia tinju, atau susah banget sih mencari 11 putra terbaik untuk membentuk tim nasional sepak bola. Ini seharusnya bisa. Kuncinya ada di kepemimpinan, mestinya pemimpin itu bisa melakukan pembinaan, pemimpin itu harusnya punya jiwa melayani. Itu kuncinya," pungkasnya. (IS) 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?