GATRANEWS

Indonesia Jadi Refrensi Harga CPO Dunia, Juli 2013

Jakarta, GATRAnews - Meski tercatat sebagai eksportir crude palm oil (CPO/minyak sawit mentah) terbesar di dunia, Indonesia belum memegang kendali atas harga CPO. Untuk memperkuat kendali Indonesia atas harga CPO dunia, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan akan mengubah kebijakan penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) untuk CPO. Per 1 Juli 2013, penetapan HPE CPO dibuat berdasarkan refrensi rata-rata dari harga di bursa berjangka Jakarta (60%), Kuala Lumpur (20%), dan Rotterdam (20%).

 

"Kami baru mengeluarkan kebijakan terakhir 20 Juni 2013. HPE sawit kita ubah, selama ini harga rata-rata tidak ada pembobotan. Dan berlaku 1 Juli 2013, 60% gunakan Jakarta, 20% dari Bursa Kuala Lumpur, 20% Bursa Rotterdam," jelas Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi kepada wartawan di Kantornya, Jakarta, Jumat (7/6/2013).

 

Bayu berpendapat, Indonesia harus menjadi pengendali harga CPO dunia. Alasannya, 85% pasokan CPO dunia berasal dari Indonesia. Namun, selama ini justru Eropa yang hanya konsumen CPO yang menjadi refrensi terbesar harga CPO. "Indonesia harus jadi 'Mekah-nya' sawit dunia. Saya kira itu bagus, kita produsen dan eksportir terbesar," tandasnya.

 

"Kalau yang lain ingin menggunakan Bursa Rotterdam, silahkan saja. Sampai dengan saat ini, bursa sawit di Jakarta sudah sangat intensif, yaitu ada harga peembukaan dan penutupan dan sudah jalan 3 tahun terakhir," dia menambahkan.

 

Lebih lanjut, Bayu berharap kebijakan baru ini akan membuat kepentingan Indonesia dalam perdagangan CPO lebih terakomodasi. "Ke depan, harga yang terbentuk mencerminkan kepentingan kita, bukan sisi konsumen. Kita tunjukan Jakarta sebagai referensi," tutupnya. (*/MA)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?