GATRANEWS

Masih "Digantung", Status Aduan Konten Pembajakan

Pemusnahan DVD Bajakan (ANTARA/M Risyal Hidayat)Jakarta, GATRAnews - Sebagai produser film Indonesia seperti Pintu Terlarang dan Modus Anomali, Sheila Timothy paham betul seperti apa kurangnya respons sistem hukum di Indonesia terhadap pembajakan karya intelektual yang menghantui hidup para pekerja seni dan pencipta. Pengaduan yang dilakukannya juga masih belum menunjukkan tanda akan ditindak lanjuti serius oleh pemerintah.

"Film Indonesia itu investasinya sulit karena market-nya kecil. Pemasukan dari lokal dan harus self distribute. Tidak ada distributor sehingga menanggung sendiri biaya promosi, itu bisa 200% dari biaya produksi," kata Sheila dalam sebuah diskusi tentang Kekayaan Intelektual bersama Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta, Senin (29/4).

Untuk promosi di luar negeri, yang terpaksa jadi pilihan, produser film harus memakai agen penjualan di luar. Namun penghasilan dari bioskop lokal tetap menentukan sebanyak 80%. Sisanya, film bisa mendapat pemasukan dari penayangan televisi, penjualan video (DVD, VCD, atau Blu Ray), dan pemutaran di internet (internet streaming) yang resmi. Produser sebagai pemilik hak cipta adalah orang yang berhak memberikan materi film ke agen, televisi, atau pembuat video.

Sehingga jika terjadi kebocoran, maka kebanyakan adalah berupa film yang dikopi atau di-rip dari produk orisinil kemudian diunggah ke internet atau digandakan dalam bentuk DVD dan Blu Ray misalnya.

Menurut Sheila, banyak format yang dimanfaatkan untuk membajak sebuah film. Dari materi festival, DVD, hingga P2P atau peer sharing yang diuangkan, dan bermunculannya situs-situs unduhan dengan konten ilegal atau tanpa ijin sang pemegang hak cipta. Belum lagi protes muncul dari distributor di luar karena meski dihapus, namun situs penyedia konten ilegal seperti Ganool.com, downloadfilem.com, dan dennyshotspot itu, sifatnya mati satu, tumbuh seribu.

"Kebanyakan mahasiswa misalnya, beralasan susah mendapatkan film Indonesia. Saya diprotes distributor luar karena setiap hari mereka harus menghapus ratusan situs yang mengupload konten tanpa ijin. Perlu ada pendidikan bahwa ada yang mereka lakukan memiliki dampak buruk," ujar wanita yang akrab disapa Lala itu.

Sheila kemudian mengaku sudah melaporkan lewat surat ke Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menutup situs-situs yang menyediakan konten bajakan. Namun, situs yang ditutup kemudian esok harinya muncul kembali. "Untuk lapor ke polisi sistem link-nya lama sekali. Maka kita lapor sekitar sepuluh website ke Menkominfo dan Dirjen HAKI. Tapi prosesnya lama dan hukumnya belum jelas. Buktinya pelakunya belum dihukum," kata produser yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan sutradara Djoko Anwar itu.

Kebocoran memang sudah terjadi begitu banyak, namun penegakkan hukum yang tegas terhadap pembajakan juga tak terdengar suaranya. Efek jangka panjangnya, menurut Lala selain berkurang jauhnya pendapatan untuk pembuat film, juga iklim invetasi film yang makin sulit karena pendapatan film tidak bisa diprediksi. Akibatnya tidak ada dana lagi untuk membuat film, dan kualitas film Indonesia akan terbatas juga. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?