GATRANEWS

"Pintu Harmonika": Pesan Keluarga dari Balik Tiga Pintu Ruko

Cuplikan Adegan Pintu Harmonika (Malka Pictures)Jakarta, GATRAnews - Film omnibus atau antologi sepertinya menjadi wadah yang membantu para pendatang baru yang ingin menjadi sutradara film, karena durasi yang diarahkan tidak terlalu panjang, namun disatukan dengan karya sutradara lain maka jadilah sebuah film panjang. Luna Maya, Sigi Wimala, dan Ilya Sigma, menelurkan debut kerja penyutradaraan mereka dengan cukup baik di Pintu Harmonika.

Cerita pertama, Otot digarap oleh Ilya Sigma membicarakan tema yang nge-trend di kalangan ABG dan netizen, yakni selebtwit. Rizal (Fauzan Nasrul), siswa SMU ganteng nan atletis yang suka menulis blog tentang Bruce Lee dan akrab dengan ayahnya, Firdaus (Donny Damara), pemilik toko kelontong di sebuah ruko. Rizal naksir pada Cynthia (Karina Salim), teman sekolahnya yang mandiri dan sedang mencari dana untuk kompetisi tari sekolah. Untuk mengambil hati Cynthia, Rizal memanfaatkan popularitasnya, dengan menutupi kenyataan tentang siapa keluarganya.

Cerita kedua bertajuk Skors diarahkan Luna Maya, mengenai hubungan Juni (Nasya Abigail) dengan ayahnya Niko (Barry Prima), yang punya usaha sablon rumahan di ruko sebelah Rizal dan Firdaus. Juni kena skors karena membully adik kelasnya, padahal adik kelas itu ayahnya adalah calon pelanggan besar untuk Niko. Perbedaan karakter serta cara berkomunikasi menyulitkan mereka mengatasi konflik, sehingga satu sama lain saling menyalahkan.

Cerita ketiga, Piano, dibesut oleh Sigi Wimala. Mengisahkan tetangga di kanan ruko Rizal dan Firdaus, David (Adam Putra Pertama) tinggal bersama mamanya Imelda (Jenny Zhang) yang punya usaha membuat kue, namun selalu murung. David hobi bermain piano. Kemudian mereka mulai mendengar suara-suara aneh di rumahnya, seolah ada malaikat yang tak kelihatan.

Ketiga cerita dalam Pintu Harmonika dijalin dengan cukup rapi, melalui benang merah yang pintar. Keberadaan ketiga keluarga tersebut sebagai tetangga dan kemunculan satu karakter di cerita karakter lain menunjukkan keseriusan penggarapan naskahnya. Untuk karya debutan, ketiga sutradara ini berhasil membawakan sebuah film yang mengalir dan bermakna. Bagian awal terasa sedikit canggung, namun masuk ke tengah terutama segmen Skors menjadi lebih menyentuh. Memuncak perlahan tapi pasti dengan dramatis di segmen Piano arahan Sigi Wimala, yang akan membobol pertahanan air mata penonton di satu adegan penting yang dimainkan Jenny Zhang. Barry Prima juga menampilkan kerja akting yang mengesankan.

Pesan yang disampaikan dari film drama keluarga ini pun akan mengetuk hati terutama mereka yang memiliki masalah hampir mirip dengan yang dialami karakter dalam film ini. Hubungan orangtua dan anak yang cukup beragam (ayah dengan anak lelaki, ayah dengan anak perempuan, dan ibu dengan anak lelaki) memberikan renungan sederhana yang mungkin sering dibahas seperti masalah komunikasi dan kejujuran, tapi dalam film ini tak terasa basi sama sekali. Satu kutipan yang layak diingat dan sangat mengena dari film ini, yakni "Hidup itu seperti piano. Putih kebahagiaan, hitam itu kesedihan. Seraya kita menjalani hidup, kita harus ingat bahwa tuts hitam, juga dapat menghasilkan nada yang indah."

Pintu Harmonika dapat disimak di bioskop-bioskop di Indonesia mulai 23 Mei 2013. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?