GATRANEWS

Coboy Junior The Movie : Mockumentary, Musikal, dan Moral

Jakarta, GATRAnews - Coboy Junior The Movie (CJr The Movie) adalah film anak-anak, yang dimainkan anak-anak, dan mencoba untuk dimengerti anak-anak. Itulah kesan yang tertangkap dari film drama musikal berdurasi 125 menit ini. Muncul di tengah kesuksesan nama Coboy Junior sendiri, ada kesan film ini adalah usaha untuk makin mempopulerkan nama boyband remaja tersebut dan meraih banyak penonton di musim liburan sekolah. Namun tak sekadar aji mumpung, CJr The Movie menjawab keraguan dengan suguhan meriah penuh pesan yang menarik hati anak-anak.

 

Ceritanya memiliki banyak kemiripan dengan kehidupan asli dari ‘geng cilik’ Coboy Junior sendiri. Bastian, Iqbal, Kiki, dan Aldi memang memerankan karakter yang sangat mirip dengan karakter asli dalam kehidupannya. Berempat, mereka berusaha meraih cita-cita dengan mengikuti sebuah ajang pencarian bakat boyband. Pastinya banyak saingan dan sejak awal, juri-juri yang terdiri dari Dewi Sandra, Iwa K, dan Nirina Zubir meragukan kemampuan menari mereka yang dinilai ketinggalan, meski vokal mereka oke.

 

Beruntung mereka lolos ke tahap selanjutnya. Bermodalkan semangat dan dukungan dari produser Patrick (Abimana Aryasatya), mereka terus berlatih, Namun berbagai tantangan pun silih berganti datang. Dari perbuatan curang tim lain yang mecederai Kiki, hingga problem orang tua yang lebih menginginkan mereka fokus pada sekolah tanpa terganggu.

 

Premis cerita CJr The Movie bisa dibilang sangat mudah tertebak dan sederhana. Mampukah Coboy Junior mengatasi semua tantangan dan memenangkan kompetisi, jawabannya sudah jelas. Namun pengemasan dari cerita yang klise ini boleh dibilang dibuat dengan cukup baik dan tak asal-asalan. Kemasan musikal menjadi solusi hiburan yang menyenangkan dan ringan, dengan tampilan boyband remaja yang menari-nari dengan koreografi di atas rata-rata, menyusupkan banyak unsur gerakan hip hop dan R&B ala film-film Step Up dan grup K-Pop, dan kamera yang sering menyorot adegan hand stand (berdiri di atas tangan).

 

Sayangnya semua lagu yang diputar adalah rekaman playback dengan beberapa efek autotunes, bukan hasil nyanyi langsung yang direkam saat syuting. Jika saja unsur nyanyinya bisa lebih ditonjolkan, maka nuansa musikal murninya akan lebih terasa. Namun unsur dance memang lebih mendominasi penampilan para peserta dalam film ini. Meski demikian, pujian harus disematkan karena lagu-lagu yang diangkat dalam film ini memberikan respek untuk lagu-lagu Indonesia seperti Kompor Meleduk, Tak Gendong, Bujangan hingga lagu-lagu rohani Islami dan hits terkenal dari band Dewa, Roma Irama, dan Iwa K. Minimal anak-anak jadi bakal kenal lagu apa saja yang muncul disitu.

 

Pesan moral pun bertaburan dalam film.”If you want to do something, do it right or don’t do it at all” atau yang disampaikan dengan gaya bak mockumentary, dimana Coboy Junior beberapa kali menyampaikan narasi seolah berada dalam sebuah acara talkshow. Kemudian kebanyakan pesan moral yang juga dikaitkan dengan ibadah, disisipkan dalam interaksi antara orangtua para personil Coboy Junior dengan anak-anaknya. Ada hak untuk memilih cara menjalankan ibadah dan kewajiban hidup. Juga pesan untuk berusaha 1000% agar tercapai yang 100 % dari papa Aldi yang diperankan Irgi.

 

Pesan-pesan untuk tetap sportif dalam berusaha juga berdatangan.”Tetap cool dan ganteng, senyum. Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, yang penting tetap kompak dan bersama,” dan “Kecurangan adalah ide yang hanya muncul di benak para pecundang. Kita percaya sesuatu yang dilakukan dengan cara nggak baik, hasilnya nggak akan baik juga,” kata coach Patrick.

 

Akhirnya Coboy Junior The Movie menyajikan kematangan persiapan yang patut dihargai, baik dari segi artistik yang tak buruk, koreografi tari yang memukau dan matang meski tak semua penampilan dirancang untuk mendapatkan standing applause, serta kostum yang juga akan menarik terutama untuk anak-anak dan keluarga. Para pemainnya juga tak bermain setengah-setengah, dengan nuansa gaya hidup urban Jakarta yang pekat disini. Ada pula sempilan kisah cinta monyet ABG muncul tapi tak sampai memberi kesan sinetron di film ini. Meski tak ada konflik rumit dan kompleks namun untuk film liburan anak-anak CJr dipastikan akan menyusul rekor box office Indonesia seperti yang dilakukan Habibie & Ainun dan Cinta Brontosaurus.

 
Pesan moral terkuatnya, bahwa untuk jadi yang terbaik bukan karena memenangkan piala atau mendapat dukungan banyak orang, namun karena sudah memberikan yang terbaik, adalah oase yang dibutuhkan di dunia pendidikan anak-anak Indonesia yang sudah lama lebih mementingkan hasil dan nilai daripada esensi dari belajar dan berusaha itu sendiri. Berbagai pemberitaan menunjukkan generasi anak-anak sampai sudi menghalalkan berbagai cara seperti nyontek di ujian atau melakukan kecurangan lain yang sifatnya instan. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?