GATRANEWS

'Monsters University': Kisah Para Monster Mencari Jati Diri

Salah Satu Adegan Monsters University (Pixar)Jakarta, GATRAnews - Duet kompak monster peneror tidur anak kecil, Mike Wazowski dan Sulley yang baik hati kembali ke layar lebar, kali ini untuk menceritakan masa-masa ketika mereka duduk di bangku kuliah. Ya, dunia Pixar yang sangat berwarna dan kreatif itu kini kembali memberikan spotlight untuk monster bernama asli Michael Wazowski dan James P. Sullivan ini. Pixar, yang didukung Disney, sudah beberapa kali membuat sekuel namun tak satupun yang kadaluarsa ataupun buruk, karena otak jenius para animator dan pembuat film animasi mantan anak buah Steve Jobs di sana tak pernah setengah-setengah menghasilkan karya yang hangat, kompleks, dan pintar menyelipkan pesan kemanusiaan.

Ketika kecil, Wazowski (disuarakan Billy Crystal) bercita-cita menjadi monster peneror, lalu karena kerja keras dan kepintarannya ia diterima di kampus bergengsi Monsters University. Disana, ia bertemu dengan banyak monster lain yang berbeda jenis, kekuatan, dan kelebihan (sama seperti gambaran dunia sekolah dan kuliah manusia para umumnya).

Ada kaum kuat yang populer, ada pula kelompok rata-rata, dan underdog. Kemudian ia bertemu Sulley (John Goodman), monster keturunan keluarga legendaris yang secara alamiah sudah berbakat menakutkan, bahkan dari postur tubuhnya. Sayangnya Sully adalah siswa yang malas, sombong, dan pembuat onar, berbeda 180 derajat dengan Mike.

Suatu malam, Sulley menangkap babi maskot dari siswa fakultas Fear Tech. Babi tersebut masuk kamar Mike dan mencuri topinya. Ketika mereka berdua mengejar maskot, lalu bertemu dengan Roar Omega Roar, kelompok persaudaran paling bergengsi di kampus.

Sulley diterima dengan instan, kemudian ia dengan terus terang mengatakan bahwa Mike tidak menakutkan. Sejak itu Mike dan Sulley selalu bertengkar, hingga di sebuah kelas Dean Hardscrabble (Hellen Mirren), harus mengeluarkan mereka dari kelas menakuti.

Untunglah ada sebuah ajang kompetisi bernama Scare Games yang bertujuan mencari kelompok siswa paling menakutkan. Mike dan Sulley secara kebetulan bergabung dengan satu-satunya kelompok yang mau menampung mereka, Oozma Kappa, di mana mereka bertemu Don Carlton (Joel Murray), pria paruh baya mantan salesman yang memutuskan masuk kuliah lagi. Lalu ada Terri dan Terry Perry (Sean Hayes dan Dave Foley) monster kembar siam berkepala dua, Scott "Squishy" Squibbles (Peter Sohn), dan Art (Charlie Day).

Kelompok underdog Oozma Kappa terlihat kalah jauh dengan kelompok lainnya dalam kompetisi. Dean Hardscrabble membuat perjanjian jika kelompok Mike kalah, mereka harus keluar selamanya dari kampus Monsters University. Di mata Hardscrabble, Mike sama sekali tidak memiliki bakat menakutkan.

Namun Mike menerima tantangan tersebut, dan ia melatih anggota kelompoknya dengan teknik canggih yang didapatnya dari membaca buku-buku. Lambat laun, Sulley kagum melihat kegigihan Mike. Namun mampukah Mike mendobrak sistem dengan kondisi alaminya yang tak sesuai untuk menjadi monster peneror manusia?

Cerita pintar yang menghangatkan hati, menyelipkan keharuan, dan memancing mata berkaca-kaca adalah rumus yang hampir selalu dihadirkan Pixar dalam karya-karyanya, tak terkecuali Monsters University. Sejak awal, simpati akan mengalir untuk karakter Mike yang memiliki mimpi menjadi monster peneror, meski tampangnya lebih menggemaskan daripada menakutkan.

Kemudian kegigihan dan kecerdasan Mike, membuat karakternya menjadi sentral cerita yang dengan cerdas juga membawa penonton hanyut dan mendukung, serta menanti hingga akhir seperti apa perjalanan yang dialami Mike dan Sulley sebelum mereka beraksi bersama sebagai monster dewasa di Monsters, Inc.

Jangan lewatkan karakter-karakter baru dunia monster yang sangat kaya dan menggemaskan. Setiap monster memiliki kelebihan dan kekurangan yang kadang lambat disadari. Ada mereka yang merasa superior dari yang lain, ada yang santai, ada yang ambisius, ada yang ingin bangkit, ada yang menutupi kelemahan dengan aksi jagoan.

Ada dosen "killer" yang tegas seperti Dean Hardscrabble, penjaga perpustakaan tua yang setengah rabun dalam wujud gurita besar, dosen yang membosankan, bahkan monster manula dengan tongkat. Penampilan visual animasinya sangat hidup, tak melewatkan detil totol, sisik, dan kulit para monster. Kali ini, nama Dan Scanlon yang menjadi sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird) sukses menggarap feature animasi panjang pertamanya. Inilah film keluarga yang berulang-ulang memancing penonton mengatakan "oh, begitu" dengan puas.

Konfliknya pun akrab seperti di film-film remaja dan olahraga seperti cool kids vs. nerd kids, dengan cerita sangat menarik seperti football dan cheerleader ala Monsters University, penggunaan doping atau jel ilegal untuk menang dengan curang, hall of scares (deretan foto legenda monster peneror), dan lagu anthem kampus Monsters University. Tak lupa, referensi dari film lain dimasukkan sebagai parodi, seperti dari film Carrie (1976).

Deretan referensi dan detil tak terlupakan itu satu per satu mewakili karakter dan dinamika hidup manusia sendiri, dan berhasil terhindar dari keklisean. Inilah teknik dan kemasan andalan Pixar yang tak pernah gagal dan selalu ditunggu.

Humor-humor seru hadir dengan penuh, bersamaan dengan metafora terselubung mengenai bagaimana menghadapi pandangan meremehkan, menyiasati kelemahan diri, membangun kepercayaan diri, hingga menemukan jati diri dan mengejar passion.

Tanpa banyak bertele-tele, dunia monster adalah dongeng sekaligus cermin bagi manusia untuk belajar soal persahabatan dan revolusi. Merasa memiliki bakat namun tak menemukan wadah? Tak perlu mengikuti aturan kaku dan standar yang umum, karena setiap orang bisa menemukan jalan dan standarnya sendiri, tanpa harus dibandingkan dengan orang lain.

Di atas gelar dan citra sesosok monster, ada yang lebih penting yaitu kemampuan memaksimalkan trik dan kecerdikan untuk menghasilkan teror yang meningkatkan kekuatan intimidasi. Atau dalam bahasa monster, "the best scarer uses their differences to their advantage". Di manapun berada, tak penting menjadi yang terbaik, melainkan carilah jalan untuk terus mengejutkan orang dan berinovasi. Agaknya, filosofi Pixar ini selalu ditularkan mereka lewat karya-karyanya sendiri. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?