GATRANEWS

''Pacific Rim': Monster dan Robot Raksasa Racikan Guillermo Del Toro

Salah Satu Adegan Pacific Rim (Kerry Hayes/Warner Bros. Entertainment Inc. and Legendary Pictures Funding)Jakarta, GATRAnews - Guillermo del Toro adalah sutradara, penulis naskah, dan produser film asal Meksiko, yang namanya melejit dengan ciri khas horor fantasi dan kreasi monsternya lewat film-film seperti The Devil`s Backbone (2001) dan Pan`s Labyrinth (2006), Blade II (2002), dan Hellboy (2004), yang mulai dikenal secara komersial. Kini Del Toro menyentuh sebuah memori tentang film-film monster berukuran raksasa yang disebut tokusatsu (seperti dalam film Godzilla, Gamera) yang pernah terkenal era 1960-an. Dan cerita pertarungan robot besar yang dikendalikan manusia (disebut mecha) vs monster yang hadir lewat Star Wars dan anime Jepang seperti Neon Genesis Evangelion.

Para monster yang disebut Kaiju keluar dari pintu portal di area gunung berapi dalam lautan pasifik yang disebut Pacific Rim. Kaiju raksasa tiba-tiba berdatangan dan menghancurkan manusia di daratan. Menusia di seluruh dunia bersatu dan mengesampingkan ego mereka, membangun teknologi robot yang disebut jaeger untuk memerang kaiju. Jaeger memerlukan penyatuan dua sistem saraf manusia dari dua orang pilot agar dapat bergerak dan bertempur dengan maksimal.

Kesuksesan Jaeger memerangi pasukan Kaiju menjadikan para pilotnya sebagai pahlawan dunia, termasuk kakak beradik Yancy dan Raleigh Becket (Charlie Hunnam). Namun kaiju yang berdatangan ternyata mengalami evolusi dan beradaptasi dengan senjata manusia, sehingga dalam pertempuran di lautan Alaska, Gyspsy Danger, Jaeger yang mereka kendalikan dihancurkan kaiju dan Yancy pun meninggal diterkam kaiju. Raleigh selamat, namun karena ia masih berbagi saraf dan memori dengan Yancy ketika tewas, maka ia menjadi trauma dan meninggalkan pekerjaan pilot selama lima tahun.

Lima tahun kemudian komandan Stacker Pentecost (Idris Elba) memanggil kembali Raleigh karena teknologi jaeger dinilai telah gagal mempertahankan bumi dari serangan kaiju yang makin hebat. Sebuah tembok pertahan dibangun, dan rencana perang nuklir siap diresmikan. Raleigh akhirnya diijinkan berpasangan dengan Mako (Rinko Kikuchi), anak angkat Pentecost yang cemerlang, namun memiliki trauma terhadap kaiju dan awalnya gagal dalam percobaan penyatuan memori untuk menjadi pilot Gypsy Danger. Dua dari jaeger yang tersisa dihancurkan kaiju, dan Gypsy Danger bersama satu jaeger lain harus menjalankan misi untuk masuk ke pintu portal di lautan pasifik dan membawa bom nuklir untuk menghancurkan pintu tersebut. Namun rencana itu terancam gagal karena dua ilmuwan Dr. Newton Geizler (Charlie Day) dan Dr. Hermann Gottliebb (Burn Gormann) menemukan rahasia dari para kaiju dan cara menghancurkan mereka lewat penyatuan memori yang berbahaya dengan bekas otak kaiju.

Berbagai unsur dari fiksi ilmiah, horor, action, dan thriller dipadukan dengan efek visual canggih disajikan del Toro. Ada Guillermo Navarro, sinematografer atau penata gambar handal yang sudah beberapa kali berkolaborasi bareng del Toro seperti di film Pans Labyrinth (meraih Oscar Best Cinematography), Hellboy, dan Hellboy II: the Golden Army, membantu menciptakan keindahan visual di film berbujet 200 juta dolar ini. Gambar yang disajikan pun luar biasa, sangat memuaskan, dan berskala kolosal, apalagi disimak di layar IMAX 3D. Kemudian pemandangan atau latar pertarungan kaiju vs jaeger banyak dilakukan di malam hari, hari mendung, atau dalam lautan, sehingga tampilan teknologi efek visualnya jadi lebih kelam, epik, dan menyamarkan ketidaksempurnaan atau kesan imitasinya.

Ada tim dari ahli efek visual John Knoll dan Hal T. Hickel (pernah meraih Oscar dan menangani film seperti Pirates of The Carribean dan Stars Wars episode I, II, dan III), juga Shane Manan (yang menciptakan desain baju Iron Man, juga Clay Pinney (Independence Day, Star Trek) yang berjasa menyuguhkan beragam pemandangan spektakuler dan kreasi dari samudera Pasifik, langit di luar atmosfer, dunia kaiju, hingga adegan pertarungan kaiju vs robot yang penuh teror dan kengerian, namun intens, menegangkan, menghenyakkan, dan menggetarkan para penggemar genre monster.

Mungkin bagi sebagian orang teknologi robot raksasa tak ada bedanya dengan tiga film Transformers, misalnya. Namun Pacific Rim lebih sendu dan gelap daripada Transformers, dengan adanya kisah traumatis Mako Mori kecil yang membtuktikan betapa kuatnya pengaruh sebuah memori terhadap otak manusia. Tampilan robot jaeger pun dibuat dengan warna-warna yang tak kekanakkan dan tak mencolok, lebih terasa nyata dan kalem.

Tak lupa kisah-kisah minor kemanusiaan tentang hubungan ayah dan anak dari empat karakternya ikut mewarnai sisi emosional dari film ini, yang nyaris ditinggalkan saat rangkaian ledakan dan raungan monster mengisi film. Sebenarnya masih banyak potensi cerita yang bisa dikembangkan lebih luas. Misalnya saja kisah dari kaiju sendiri dengan para penciptanya. Juga para robot jaeger sendiri yang hanya menjadi mesin saja, kurang diberikan kisah dan sejarahnya, misalnya. Namun tentu saja dengan durasi film 132 menit, semua itu tak akan habis dituangkan. Del Toro dan timnya sejauh ini sudah mampu menghidupkan mimpi dan dongeng monster kanak-kanak dengan tampilan ambisius dan matang, sekaligus memberikan tribute penuh penghormatan untuk genre tokusatsu dan mecha.

Film ini juga sempat sedikit menyusupkan pesan mengenai rusaknya lingkungan dimana pekatnya karbondioksida membuat bumi makin mengundang para monster perusak, meskipun penampilan dari kaiju-kaiju-nya tidak dibuat mirip dengan hewan atau mahluk dibumi. Para aktornya bermain dengan cukup pas dan konsisten sepanjang film, termasuk chemistry kompak Charlie Hunnam dan Rinko Kikuchi, serta Ron Pearlman yang tampil sekilas sebagai bandar organ tubuh kaiju, memberikan aksen komedi yang menghibur. Tak ketinggalan, ada musik pengiring dari komposer Ramin Djawadi yang menggenapi kebesaran Pacific Rim sebagai film musim panas terpanas tahun ini. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?