GATRANEWS

"Joged Kahyangan" Bawa Dewa Budjana ke Mancanegara

Dewa Budjana (GATRAnews/Edward Luhukay)Jakarta, GATRAnews - Dewa Budjana mewujudkan satu lagi mimpinya dengan merilis album bertajuk Joged Kahyangan, yang merupakan album solonya yang ke-6. Sebanyak delapan lagu dalam album Joged Kahyangan ini direkam di Amerikat Serikat, bekerja sama kembali dengan sejumlah musikus internasional seperti Peter Erskine dan Janis Siegel.

"Saya merekam album ini pada Juni 2012. Nggak gampang, tapi saya pengen rekaman lagi bersama musisi asing, kali ini live. Saya pengen musisi asing ini spontan menafsirkan lagu saya dan dapat interaksinya dan interpretasi mereka saat itu juga. Langsung selesai selama tujuh jam sehari rekaman," kata Bujana dalam jumpa pers perilisan albumnya di Red White Lounge, Kemang, Jakarta, kamis (23/5).

Sebelumnya, Budjana sudah pernah bekerjasama lewat album Samsara (2003) dan Home (2006) dengan Peter Erskine yang merupakan musisi peraih penghargaan Gramny dan mantan pentolan band jazz Weather Report, serta pernah bermain untuk Stan Kenton, Al Jarreau, Rod Stewart, Diana Krall, dan Kate Bush.

Sebanyak delapan lagu dalam album instrumental Joged Kahyangan, yakni Cloud of Foggy, Joged Kahyangan, Dang Hyang Story, As You Leave My Nest (diisi vokal Janis Siegel), Majik Blue, Erskoman, Guru Mandala, dan Borra`s Ballad. Kedelapan lagu tersebut direkam di Firehouse Recording Studio, Pasadena, California, Amerika Serikat.

Budjana menulis seluruh komposisi lagu dan menata aransemen musiknya. Sederet "pendekar" jazz diajak Budjana berkolaborasi untuk bermain di album ini, seperti Bob Mintzer (saksofonis Yellowjackets), Larry Goldings (pemain piano/keyboard pendukung Sarah Vaughan, Al Jarreau, dan John Mayer), pembetot bas Jimmy Johnson, dan vokalis The Manhattan Transfer Janis Siegel.

Dengan menggandeng musikus internasional dan rekaman di Amerika Serikat, banyak yang menanyakan berapa besar bujet yang harus dikeluarkan Budjana untuk album ini. Apalagi seperti diketahui bersama, penjualan album fisik pun sedang turun karena maraknya pembajakan. Namun Budjana mengaku tak pusing karena beberapa keberuntungan datang dan memudahkan dirinya menggarap Joged Kahyangan. "Biaya itu relatif. Janis saya nggak bayar sama sekali. Malah dia minta lagu itu untuk albumnya, jadi bisa barter. Saya nggak terlalu mikir royalti, kalo didenger aja udah seneng," ujar gitaris band GIGI itu.

Pada Juni 2013, Joged Kahyangan juga akan dirilis di Amerika Serikat. Namun berapa banyak albumnya akan terjual, dijelaskan Budjana tak terlalu dikhawatirkannya karena menurutnya, musik instrumental masih memiliki pasar tersendiri dan masih banyak yang mencari album fisiknya. "Berbeda dengan musik mainstream, musik instrumental masih stabil penikmatnya," tuturnya.

Selain itu, merilis album di Amerika Serikat juga memungkinkan Budjana untuk memperoleh ulasan dan penilaian dari media-media musik disana. "Dari situ paling nggak ada yang tahu musisi Indonesia. Sebelum gembar-gembor go international sebetulnya musisi jazz kita seperti Tohpati sudah duluan," lanjutnya gitaris berdarah Bali ini.

Joged Kahyangan diakuinya sebagai sebuah album organik, karena direkam tanpa menggunakan metronom dan hampir tidak mengalami editing. 50 % lagu-lagu di dalamnya ternyata diciptakan di pesawat ketika Budjana harus bepergian bersama GIGI, misalnya. "Buat saya yang penting harus berkarya, karena berkarya itu terapi buat diri sendiri. Jangan berhenti dan harus terus bergerak," demikian Budjana. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?