Muncul Kabar Perusahaan Suami Rey Utami Dianggap Ilegal oleh OJK

Rey Utami & Pablo Putera Benua (Dok. GATRAnews)
Rey Utami & Pablo Putera Benua (Dok. GATRAnews)

Jakarta, GATRAnews - Rey Utami dan Pablo Putra Benua, pasangan suami-istri yang menuai sensasi lantaran pernikahan kilat mereka, diterpa kabar kurang sedap. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta PT Inti Benua Indonesia (IBis Corporation) untuk menutup kegiatan bisnisnya pada Rabu (11/1). OJK memasukkan perusahaan milik Benua tersebut ke dalam daftar perusahaan investasi yang berpotensi merugikan khalayak.



Seperti dilaporkan suara.com, Satgas Waspada Investasi OJK telah memanggil PT Inti Benua Indonesia sebanyak dua kali, guna mendapatkan penjelasan terkait produk PT Inti Benua Indonesia, yakni pada 5 Oktober dan 31 Oktober 2016. "Namun, Pablo tak hadir," tulis situs berita tersebut, Kamis (12/1).

Sementara, melalui situs resminya, terpampang penjelasan bahwa IBis Corporation merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri lembaga keuangan atau jasa pembiayaan (finance atau leasing). "IBis Corporation didirikan bertujuan untuk mengalihkan kultur masyarakat yang konsumtif ke arah yang produktif serta menciptakan pengusaha baru di dalam dunia finance yang notabene merupakan salah satu bidang usaha yang membutuhkan modal, tenaga dan pikiran yang extra besar," demikian tertera di situs www.hgpibis.com.

Kepada wartawan Benua menyatakan bahwa telah terjadi salah paham. Menurutnya, perusahaan yang dipimpinnya bukan perusahaan investasi. "Saya nggak pernah menawarkan ke orang, `ayuk investasi`," katanya, Kamis (12/1), di Jakarta.

"Dan ini perusahaan punya saya sendiri. Modal saya sendiri. Dan di perusahaan ini, kita kepemilikan kendaraan dengan sistem hak guna pakai. Dan itu sama kayak rental (penyewaan mobil). Cuma dari segi nama, nama kita IBis Credit Company," tambahnya.

Tanpa menyebut nama atau instansi, Benua meyakini banyak pihak yang mencoba menggunakan "celah" untuk mengadukan bisnis yang dikelolanya ke OJK. "Nah, melihat itu OJK melihatnya ini investasi bodong. Kita terus dikirim surat. Surat pertama atas nama PT Benua Ozon Selusindo, itu perusahaan saya yang lain dan sudah tutup. Kedua, itu PT Inti Benua Indonesia, nah baru kenal lah saya," jelas pengusaha asal Medan ini.

Benua juga mengakui panggilan OJK. Namun, surat panggilan tidak pernah diterimanya secara langsung, lantaran dikirimkan ke alamat perusahaannya. "Yang disampaikan untuk direksi, bukan buat saya pribadi. Nah, dari direksi nggak menanggapi karena di situ mencantumkan perusahaan investasi. Perusahaan kita kan bukan (perusahaan) investasi. Ya itu kan salah, makanya nggak ditanggapi sama manajemen," paparnya.

Meski demikian, Benua mengakui kesalahan pada pihak manajemen perusahaannya, yang menurutnya kurang sigap menyikapi panggilan OJK tersebut. "Saya kaget sih awalnya, kok iya mereka nggak ngomong dari awal," tuturnya.

Pasca-peristiwa tersebut, Benua mengklaim telah mengutus staf perusahaan dengan didampingi tim kuasa hukum, mendatangi OJK guna mengklarifikasi permasalahan ini. "Kita sebagai warga negara yang baik, kita taati peraturan. Ya memang setelah itu, perusahaan saya memang diketahui belum lengkap, masih diurus," katanya.

"Perusahaan saya masih muda. Itu perusahaan yang masih belajar. Kita akhirnya ikuti aturan, saya bikin penyempurnaan dan pembaharuan buat perusahaan saya. Saya taat hukum saja apa yang diminta OJK, kita lengkapi. Belajar lewat bimbingan OJK, ngajarin kita, dan itu sudah komitmen antara kami," demikian Benua.



Editor: Edward Luhukay

Share this article