GATRANEWS

Selamat Hari Film Nasional!

Bulan Film Nasional (Dok. Kineforum)Jakarta, GATRAnews - Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, Kineforum untuk kali ketujuh kembali menggelar pemutaran film untuk "Bulan Film Nasional 2013 - Sejarah Adalah Sekarang 7". Pada Jum`at (30/3) malam, semisal, bioskop Kineforum memutarkan kompilasi film-film pendek bertema "Meliput Yang Luput".

Dikuratori oleh Adrian Jonathan Pasaribu, program ini mengajak penonton melihat kembali peristiwa 1965 melalui beberapa film pendek pasca-rezim orde baru tumbang, yang memiliki perspektif berbeda dari film yang sudah dibuat sebelumnya.

Beberapa film pendek dan dokumenter pendek yang diputar dalam kompilasi ini adalah:

  • Setelah 40 Tahun: Kebebasan Berbicara (Tintin Wulia, 2005, 2 menit)
  • Rantemas (BW Purwanegara, 2006, 21 menit)
  • Mass Grave (Lexy Junior Rambadeta, 2001, 26 menit)
  • Tjidurian 19 (Abduh Aziz dan Lasja F. Susatyo, 2009, 41 menit)
  • Klayaban (Farishad Latjuba, 2004, 14 menit)
  • Topeng Kekasih (Hanung Bramantyo, 2001, 20 menit)
  • Djedjak Darah: Surat Teruntuk Adinda (M. Aprisiyanto, 2004, 12 menit)
  • Sinengker: Sesuatu Yang Dirahasiakan (M. Aprisiyanto, 2007, 40 menit)


Film-film tersebut memiliki ragam cerita dan sudut pandang yang bervariasi. Mulai dari kesaksian langsung pewawancara Sobron Aidit (adik pemimpin Partai Komunis Indonesia, DN Aidit), penemuan tulang belulang manusia di Luweng Grubuk dan Hutan Wonosobo, sirnanya rumah budaya LEKRA, kisah eksil politik Indonesia di Praha, Ceko, hingga pengkisahan kembali cerita nyata keluarga-keluarga yang menjadi korban situasi berdarah era 1965.

"Awalnya saya penasaran karena booming film The Act of Killing, kemudian slogan Menolak Lupa banyak terdengar. Tapi tidak ada rujukan kemana kita harus menolak lupa tersebut," jelas Adrian sebagai moderator. Sejauh mana pembacaan peristiwa 1965 saat ini, bagaimana perspektif yang orisinil juga menjadi tanda tanya bagi generasi saat ini.

Nani Nurachman, yang merupakan putri dari Mayor Jenderal Anumerta Sutoyo Siswomiharjo hadir dalam diskusi setelah pemutaran film. Menurut penuturannya, banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab mengenai peristiwa 1965, seperti dimana peran media saat itu? Gelar pahlawan yang diberikan kepada ayahnya ternyata tidak dapat memberikan pendampingan yang dibutuhkan oleh Nani dan keluarga korban yang tewas dalam kekisruhan 1965 tersebut.

"Menurut saya kondisi diperparah karena bangsa ini tidak pandai mendokumentasi sehingga menyebabkan distrosi sejarah. Juga tidak memiliki kesadaran sejarah untuk mempertanyakan apa penyebab dari sebuah peristiwa sejarah. Tidak ada sejarah tanpa tragedi," ungkap Nani.

"Situasi politik yang memanas lebih dominan di era sebelum 1965. Meskipun ayah saya angkatan darat, namun saya mengalami pembagian jatah beras miskin yang penuh dengan kerikil dan sulitnya mencari barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi," lanjut keluarga pahlawan revolusi yang juga dosen Universitas Indonesia ini.

Masyarakat Indonesia dinilai oleh Nani juga masih belum mampu menyalurkan ketidakpuasan secara tepat dan dewasa.

Sementara itu Usman Hamid dari KONTRAS mengamati cerita personal yang sering hilang dari sejarah. film-film pendek yang diputar menggambarkan bagaimana sikap permisif dan antagonistik untuk memberikan label pada orang lain membenarkan kekerasan sebagai kebajikan, dan kehilangan rasionalitas terhadap kekerasan yang dilakukannya sendiri. "Pola pikir anti kemanusiaan itu residunya masih ada dalam perjalanan hidup saat ini. Kita semua adalah korbannya," kata Usman.

Namun dengan semakin cerdasnya masyarakat saat ini, diharapkan lebih menyadari sisi-sisi gelap sejarah yang ditulis dengan kaku selama ini.

Farishad Latjuba, sutradara film pendek Klayaban yang ikut diputar dalam kompilasi ikut hadir dan membagikan cerita filmnya yang memang terinspirasi dari kisah nyata orang-orang Indonesia yang ia temui di Praha. (*/Ven)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?