GATRANEWS

Hary Tanoe Mundur, Surya Paloh Tambah Moncer

Jakarta, GATRAnews - Konglomerat media Harry Tanoesoedibjo akhirnya mundur dari kepengurusan Partai Nasional Demokrat (NasDem). Kabar itu santer berhembus pada Senin (21/1/2013). Rencananya, pengunduran diri pemilik grup media MNC ini bakal diumumkan dalam konferensi pers yang akan digelar sore ini.

Menurut sumber di internal NasDem, pengunduran diri Harry Tanoe ini berkaitan dengan konflik internal partai. Ditengarai, Majelis Nasional NasDem --lembaga pengambil keputusan tertinggi di NasDem, di mana Paloh dan Tanoe menjadi anggotanya-- akan mengumumkan pengangkatan Surya Paloh menjadi Ketua Umum NasDem. Nah, keputusan tersebut tidak dikehendaki oleh Harry, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar pada partai yang berdiri Juli 2011 ini. Dari sembilan anggota Majelis Nasional, Harry termasuk salah satu yang menolak pengangkatan Paloh.

Selain menetapkan Paloh, Majelis Nasional juga bakal memilih pengurus NasDem lainnya. Struktur NasDem akan terdiri atas satu ketua umum dan 16 wakil ketua umum, satu sekretaris jenderal, empat wakil sekjen, satu bendahara, dua wakil bendahara, dan 45 ketua departemen.

Susunan pengurus inilah yang akan dibawa ke kongres untuk ditetapkan sebagai kepengurusan NasDem periode 2013-2018. Penetapan ketua umum dan pengurus baru akan dilakukan dalam kongres NasDem yang bakal digelar pada 25-27 Januari mendatang di Hotel Sultan.

Sebelumnya, sinyal perpecahan di tubuh Partai NasDem semakin menguat dalam sepekan ini. Hal itu nampak dari aksi kubu Surya Paloh, selaku pendiri Partai yang mengusung tagline perubahan itu, menggusur sejumlah tokoh muda yang potensial mulai digusur kubu Surya Paloh. Pasalnya, beberapa tokoh mudah yang terkena aksi bersih-bersih ala Surya itu dianggap lebih dekat dengan Harry Tanoesudibyo.

Kabarnya, beberapa kader muda NasDem yang terkena gusuran adalah Sekjen Garda Pemuda Nasional Demokrat (GPND), Saiful Haq dan Ketum NasDem Rio Patrice Capella. Bahkan Sekjen NasDem Ahmad Rofiq juga masuk radar Surya untuk dipecat.

Menurut sumber Gatranews, penggusuran 'orang-orang Hary Tanoe' itu merupakan upaya memuluskan langkah Surya Paloh menjadi Ketum Partai NasDem. Cara itu ditempuh untuk melemahkan dan memereteli kekuatan Hary Tanoe di Nasdem.

Surya sebagai pendiri Nasdem, dikabarkan sangat tersinggung dengan manuver Hary, pengusaha sukses yang memasuki kancah politik di bawah bendera Nasdem. Hary disebut-sebut ingin merebut posisi Ketua Umum Partai Nasdem. Sesuatu yang bagi Surya, penentuannya secara etika dan psikologis, hanya ada di tangan dia.

Kabar yang beredar di panggung politik, Perpecahan di tubuh Partai NasDem, digosok pula oleh kelompok tua yang berasal Partai Golkar dan pensiunan tentara. Pengamat politik UI, Bonny Hargens, mengatakan bahwa kelompok tua gencar menggosok Surya Paloh agar menguasai Partai NasDem. Karena melihat parpol berlogo kepala Rajawali itu punya peluang dalam Pemilu 2014.

"Bibit perpecahan muncul ketika NasDem lahir menjadi parpol. Ada kelompok tua yang terdiri dari pensiunan jenderal dan alumni Golkar, punya nafsu besar. Mereka rajin memprovokasi Surya Paloh agar berkuasa di Partai NasDem," ujarnya.

Seperti diketahui, Harry Tanoe dikenal sangat dekat dengan kelompok muda di NasDem. Ketika ada anak muda NasDem yang diganggu, tentu membuat Hary Tanoe gundah. "Saya kira, Surya Paloh harus melakukan rekonsiliasi. Kalau tidak, NasDem akan cepat mati. Ingat, kontribusi anak muda dalam membesarkan NasDem, sangat besar. Tanpa mereka, NasDem bukan apa-apa," tuturnya.

Surya didukung oleh anggota Nasdem yang tergolong senior, sementara Hary oleh kelompok muda. Pengelompokan itu seakan mewakili usia dari kedua tokoh Nasdem itu. Surya yang berusia di atas 60 tahun didukung oleh mereka yang sudah lebih lama terjun di dunia politik dan organisasi kemasyarakatan. Sementara Hary yang baru berusia 40-an, didukung oleh kekuatan muda.

Nah, bara di tubuh Partai NasDem kelihatannya sulit padam. Tak tertutup kemungkinan, parpol berlogo kepala rajawali itu, bakal layu sebelum berkembang. Pengamat politik Charta Politica, Yunanto Widjaja, menengarai, potensi perpecahan di tubuh Partai NasDem, cukup besar. Karena ada pihak-pihak yang ingin berkuasa dan menjadi pengendali utama di Partai NasDem.

"Memang ada kubu atau kelompok yang ingin berkuasa dan mengendalikan partai. Ini kan bibit perpecahan. Kalau potensi faksionalisasi itu tak mampu diredam, maka NasDem akan layu sebelum berkembang,’’ ungkap Yunarto.

Surya bukannya tidak menyadari adanya perpecahan di tubuh partai yang dirintisnya. Ia pun bermanuver untuk segera menguasai tampuk kepemimpinan NasDem. Karena itu, pekan depan atau minggu ketiga Januari ini, akan diumumkan Ketua Umum yang baru berikut struktur kepengurusan pusat.

Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, Hary Tanoe memutuskan mundur. Apakah mundurnya Hary akan berujung dengan gonjang. Ganjing di internal partai?

Sebagai satu-satunya partai baru di antara 10 partai politik yang lolos untuk mengikuti Pemilu Legislatif April 2014, sesungguhnya tidak sedikit yang berharap agar Nasdem bisa menjadi partai baru alternatif.

Sekalipun di Partai Nasdem juga terdapat sejumlah bekas kader dari 9 partai yang saat ini memiliki perwakilan di DPR-RI, tetapi kehadiran mereka, tidak mengurangi daya tarik Partai Nasdem sebagai sebuah partai baru.

Begitulah politik. Mazab dalam politik, tidak ada sahabat dan musuh yang abadi. Yang abadi hanya kepentingan abadi. Demikianlah persoalan yang terjadi dalam persaingan Surya dan Hary.

Sewaktu Surya dan Hary berada di kubu berseberangan dengan Presiden SBY, keduanya masih memiliki kepentingan yang sama. Tetapi begitu Hary berniat menjadi orang nomor satu di Partai Nasdem, kepentingan kedua petinggi partai itu bertubrukan. Apa boleh buat, salah satu dari 'dua matahari' harus mengalah untuk memberikan panggung bagi bagi 'matahari' lainnya untuk bisa bersinar lebih mencorong. (HP)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?