GATRANEWS

Perang Petinggi Partai Nasdem

Jakarta, GATRAnews - Konflik internal di tubuh Partai Nasdem berujung pada mundurnya Hary Tanoesoedibjo. Persoalan kursi Ketua Umum dan pencarian figur calon presiden, ditengarai menjadi pemicu "perceraian" Hary Tanoe dengan Surya Paloh. Pertempuran petinggi partai ini pun merembet ke daerah. Golkar siap menampung Hary Tanoe. --- 

Puluhan jurnalis dari berbagai media massa berjubel di Aula Museum Adam Malik, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin lalu. Mereka tak sabar menunggu kehadiran Ketua Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Hary Tanoesoedibjo yang akan mengelar jumpa pers. Sebenarnya, persoalan yang hendak dilontarkan CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group itu sudah beredar beberapa hari sebelumnya.

Yakni, tentang hengkangnya Hary Tanoe dari Partai Nasdem. Meski demikian, pers dan tentu saja publik ingin mendengar pernyataan pengusaha kelahiran Surabaya, 26 September 1965, itu. Dan benar, dia pun cabut dari Partai Nasdem. "Terhitung mulai hari ini, saya bukan lagi anggota Partai Nasdem," ujar Hary Tanoe dalam jumpa pers.
Walau telah meningglkan Nasdem, ia tidak akan pernah berhenti menyampaikan pemikiran politiknya. Setidaknya ada tiga pilihan yang akan diambil setelah berada di luar Nasdem, yaitu membentuk organisasi massa, bergabung dengan partai politik lain, atau membuat partai politik baru. "Pilihan mana yang akan saya ambil, belum bisa saya katakan. Karena saat ini, saya masih fokus pada pengunduran diri saya dari Nasdem," tutur Hary Tanoe dengan mimik serius.

Pernyataan tersebut hanyalah penegasan Hary Tanoe saja. Karena, sesungguhnya dia telah membuat surat pengunduran diri empat hari sebelumnya. Yakni pada tanggal 17 Januari lalu. Pada hari yang sama ada tiga pengurus teras Partai Nasdem yang juga membuat surat pengunduran diri. Mereka adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ahmad Rofik, Wakil Sekretaris Jenderal Saiful Haq, dan Ketua Internal DPP Partai Nasdem Endang Tirtana.

Mereka yang cabut dari Partai Nasdem itu mengaku tidak sepaham dengan Surya Paloh. Karena, sang pendiri partai itu yang berencana merombak kepengurusan Dewan Pimpian Pusat. Termasuk mengganti Sekjen dan Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella. "Mayoritas pengurus partai, sekitar 70%, adalah kalangan muda. Saya ingin mempertahankan," kata Hary Tanoe.

Apa boleh buat, perbedaan padangan Surya Paloh dan Hary Tanoe itu pada akhirnya melahirkan konflik di internal partai. Di kalangan petinggi partai pun terbelah, ada yang mendukung Surya Paloh ada juga yang berpihak kepada Hary Tanoe. Tokoh partai yang dinilai dekat dengan Surya, di antaranya Wakil Ketua Umum Sugeng Suprawoto, Ferry Mursyidan Baldan, dan Zulfan Lindan.

Adapun yang dianggap pendukung Hary Tanoe adalah Ahmad Rofik, Saiful Haq, dan Endang Tirtana. Rupanya pereseteruan dua kubu tersebut sudah sedemikian akut, sehingga Ahmad Rofik menyebutnya sebagai perang di dalam. "Partai ini akan terus-menerus bermasalah di dalam dan perang di dalam. Harus ada untuk menyelesaikan konflik, yaitu mengalah," ujar Rofik dalam jumpa pers pengunduran diri Hary Tanoe.

Upaya meredakan konflik pun sudah dilakukan. Dalam delapan bulan terkahir, paling tidak sudah dilakukan empat kali pertemuan yang melibatkan Hary Tanoe dan Surya Paloh. Pertemuan terakhir Hary dan Surya berlansung pada 16 Januari lalu, di Hotel Grand Hyatt, Jalah M.H. Thamirin, Jakarta. Pertemuan kali ini dimediasi Rosano Barack, Presiden Komisaris MNC Grup yang juga adik impar Surya Paloh.

Dalam pertemuan itu, Hary Tanoe mengajukan "proposal" terakhir. Ia menyetujui Surya Paloh mejadi ketua umum, dengan syarat posisi Ketua Majelis Nasional Partai (MNP) Nasdem harus diisi orang lain. Sedangkan Sekjen tetap dipegang Ahmad Rofik. Pertemuan ini tidak menyelesaikan masalah. "Kerena Pak SP (Surya Paloh) tak menangkapi proposal HT (Hary Tanoe) secara terbuka," kata sumber GATRA di internal Partai Nasdem yang keberatan disebut namanya.

Buntutnya, Hary Tanoe mengundurkan diri keesokan harinya. Pecah kongsi dua bos Nasdem ini mencuatkan spekulasi bahwa partai akan mengalami guncangan, mengingat selama ini Hary Tanoe memegang peran penting dalam pembiayaan operasional partai ini. Menurut kabar di internal Nasdem, sejak bergabung kurang dari satu setengah tahun silam, Hary Tanoe sudah keluar dana Rp 250 milyar.

Imbas yang lebih buruk bisa terjadi apabila peraih gelar master of business administration dari Ottawa University, Kanada, ini membawa serta gerbongnya. Indikator ini sudah muncul beberapa jam setelah ia pamitan diususul mundurnya Ketua DPW Nasdem Jawa Barat Rustam Effendi. "Setelah mengetahui Pak Hary, saya juga memutuskan mundur. Saya tidak mau terhina," ujarnya tanpa merinci lebih lanjut.

Rustam mengklaim langkahnya akan diikuti banyak pengrus DPD Nasdem lainnya di Jawa Barat. "Hampir semua pengurus DPD di Jawa Barat menghubungi saya. Silakan mereka menyatakan sendiri," kata Rustam sembari menambahkan bahwa konflik internal Nasdem sudah terlihat beberapa bulan lalu.

Awalnya, ia menganggap ini friksi biasa dalam dinamika partai politik. "Tapi ternyata tidak," katanya. Penyebab kekisruhan ini, menurutnya, karena orang lama yang memaksakan diri berkuasa saat Partai Nasdem sudah solid dan mapan. "Saya tidak ingin menyebutkan. Sebentar lagi semua terlihat," Rustam menambahkan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Ahmad Rofik, terang-terangan mengungkap motif Surya Paloh berupaya mengambil alih kepemimpinan partai. "Pak Surya ingin sejajar dengan Golkar, dengan Ical sebagai ketua umumnya," ujarnya. Itu sah-sah saja, tetapi ia menyayangkan manuver politik yang diambil bertentangan dengan aturan dan semangat partai sehingga memicu konflik internal.

Cara yang dimainkan Surya adalah menggelar Kongres Partai Nasdem yang pertama pada 25-27 Januari 2013. Di situ sudah ada skenario kursi ketua umum akan didudukinya sendiri. Seharusnya, kata Rofik, kongres membiarkan mekanisme demokrasi dengan menjaring suara dari bawah, tetapi kali ini bahkan tidak melibatkan ketua umum dan sekjen, serta dewan pakar.

Tindakan ini dinilainya melabrak etika politik sehingga tidak dapat ditoleransi. "Kalau Pak Surya mengikuti prosedur, tidak akan ada yang menolak dia jadi ketua umum partai. Toh, saya dan teman-teman selama ini selalu mendukung beliau," Rofik menegaskan.

Surya Paloh tidak secara eksplisit mengaku mengincar kursi ketua umum. Tapi ia menilai kedudukan anak muda di posisi puncak tidak realistis. "Memangnya kita berhadapan dengan siapa?" katanya. Saat partai-partai lain dinakhodai politisi gaek berpengalaman, Nasdem harus dipegang orang-orang yang sekelas Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, dan lain-lain.

Soal beda pendapat antara Surya Paloh dan Hary Tanoe tidak sederhana hanya soal posisi ketua umum. Surya menilai Hary Tanoe bukan orang yang tepat berjuang bersamanya di Nasdem. Sehingga hengkangnya salah satu mitra terbaiknya ini tidak menjadi masalah baginya. Ia yakin, Nasdem tidak pecah, melainkan hanya retak kecil karena hanya dua DPW, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat, yang menolak kembali.

Sumber GATRA membisikkan, ketidaknyamanan Surya Paloh atas sepak terjang Hary Tanoe sudah ditabung sejak lama. Dimulai sekitar Juni tahun lalu, saat berembus kabar bahwa setiap caleg Nasdem akan dimodali oleh partai sebesar Rp 5 milyar hingga Rp 10 milyar. Kabar manis itu konon mencuat dari janji politik yang terlontar dari kubu Hary Tanoe. Nah, Surya Paloh tidak begitu happy dengan janji politik seperti ini, karena berimplikasi mematerialisasi nilai perjuangan kader.

Selagi luka ini belum kering, segera disusul kemunculan Hary Tanoe sebagai bintang iklan Nasdem juga menyinggung perasaan Surya Paloh. Iklan yang tayang di beberapa stasiun televisi ini dinilai tidak etis, karena sudah memunculkan figur orang. Padahal dalam konsensus tidak tertulis di partai ini semua iklan tidak boleh memunculkan ikon nama. Apalagi narasi yang dikemukakan Hary Tanoe dalam iklan itu dinilai mencerminkan ambisi berkuasa.

Soal indikasi nafsu berkuasa ini dipertegas lagi dalam beberapa statemennya. Misalnya, saat Hary Tanoe menjadi saksi kasus restitusi pajak PT Bhaksi Investama di Pengadilan Tipikor, Jakarta, September lalu. Saat ditanya wartawan soal peluangnya maju sebagai calon presiden, Hary Tanoe secara eksplisit menyatakan dirinya siap maju pada pemilu presiden (pilpres) 2014 mendatang. "Namun itu tergantung hasil yang diperoleh Nasdem pada pemilu legislatif 2014. Saya mengalir saja," katanya saat itu.

Nah, soal kesedian Hary Tanoe menjadi presiden inilah yang ditengarai membuat Surya tidak nyaman. Hal yang paling membuat Surya Paloh gusar, Hary Tanoe dinilai sudah bertindak sendiri di belakangnya. Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Sugeng Suparwoto bahkan mencatat, Hary Tanoe telah berkali-kali melakukan pertemuan dengan DPW-DPW Nasdem tanpa sepengetahuan Surya Paloh dan para deklarator partai.

Setidaknya, ada tiga pertemuan terakhir yang kemudian sampai ke telinga Surya Paloh. Yang pertama pertemuan di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat, 16 Desember lalu. Pertemuan yang dimotori Hary Tanoe ini diikuti oleh Ketua Umum Caprice Rio Capella, Sekjen Ahmad Rofik, dan 11 DPW, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Maluku Utara.

Berbeda dengan rapat biasa, rapat ini tidak didahului undangan terbuka dan tidak menggunakan kantor DPP Nasdem yang hanya berjarak hanya beberapa ratus meter dari tempat itu. Tiga hari berikutnya, rapat ini ditindaklanjuti lagi dengan pertemuan di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan. Rapat lanjutannya digelar lagi di Menara MNC, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Pertemuan ini, menurut Sugeng Suparwoto, membahas setidaknya satu hal yang sensitif, yaitu amanat sebagian DPW kepada Hary Tanoe untuk menyelamatkan Partai Nasdem dan menjalankan roda partai sebagaimana sistem yang ada, dan wacana menghentikan biaya operasional partai bagi para penentang ide ini alias para pendukung Surya Paloh.

Manuver Hary Tanoe dianggap kebablasan. Apa lagi citranya di mata DPW-DPW cepat meroket, lantaran ia tidak pelit memberikan bantuan dana kepada para kader di daerah yang mendukungnya. Royalnya Hary Tanoe kepada pendukungnya ini bukan sekedar gosip. Salah satu yang mendapat janji manis adalah Faridawaty Darland, Ketua DPW Nasdem Kalimantan Tengah.

Kepada GATRA ia mengisahkan, saat perayaan Hari Natal tahun lalu, Hary Tanoe menjanjikan biaya perayaan Natal bersama konstituen Nasdem di Palangkaraya dan bantuan kepada 10 sekolah yang nilai totalnya di atas Rp 500 juta. Tetapi tiga hari sebelum acara, Hary Tanoe membatalkan bantuannya, lantaran Farida ikut pertemuan di Hotel Mercure, Jakarta 9 Januari lalu yang isinya mendukung Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai Nasdem. Sayang, cerita Faridawaty itu belum bisa dikonfirmasikan pada Hary Tanoe

Yang pasti, hengkanya Hary Tanoe dari Nasdem disambut partai lain. Sebagai pengusaha berkekayaan US$ 1,19 milyar dan menduduki peringkat ke-22 dalam daftar orang terkaya dunia versi majalah Forbes tahun lalu, ia tentu saja menjadi magnet tersendiri. Hary pun mengakui telah menerima tawaran dari partai politik lainnya untuk bergabung.
Pinangan paling kongkret datang dari Partai Golkar. Ketua DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai menyatakan partainya membuka pintu lebar-lebar untuk bos MNC Grup itu. "Partai Golkar menggelar karpet merah untuk Pak Hary Tanoe bila ingin bergabung," katanya. Soal posisi yang ditawarkan, itu memerlukan pembahasan di tingkat DPP. Untuk sementara, belum memutuskan pilihannya. (Mujib Rahman, Cavin R. Manuputty, Andya Dhyaksa, dan Ade Faizal Alami)

--------------------

Nasdem: Ormas Berubah Jadi Parpol

Organisasi massa (ormas) yang bernama Nasional Demokrat (Nasdem) dideklarasikan Surya Paloh pada 1 Februari 2010. Mantan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar ini mendirikan Nasdem sebagai organisasi massa yang mengusung gerakan restorasi Indonesia. Sebagai ormas, Nasdem mendapat simpati banyak tokoh nasional seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, Khofifah Indar Parawansa, Anies Baswedan, Ahmad Syafii Maarif, Didik J. Rachbini, Budiman Sudjatmiko, dan Basuki Tjahaja Purnama.

Setahun berikutnya, 26 Juli 2011, berdiri Partai Nasdem. Surya mengatakan, partai politik ini adalah entitas yang berbeda dengan ormas Nasional Demokrat. Surya menjadi ketua ormas, sedangkan parpol dipimpin Caprice Rio Capella.

Berdirinya partai menimbulkan kekecewaan para pendukung ide restorasi Indonesia. Mereka menolak Nasdem berwajah Parpol sehingga sejumlah anggota menyatakan keluar, di antaranya Sri Sultan Hamengkubuwono X, Khofifah Indar Parawansa, Anies Baswedan, Ahmad Syafii Maarif, Didik J. Rachbini, dan Budiman Sudjatmiko.

Pada Oktober 2011, Hary Tanoesoedibjo bergabung. Konglomerat yang sebelumnya tidak pernah mengenyam politik praktis ini langsung menduduki Ketua Dewan Pakar. Pada November 2011, untuk pertama kalinya bos MNC Group itu muncul di acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Nasdem.

Hadirnya Hary Tanoe memberikan warna, kekuatan, dan membuat Nasdem semakin diperhitungkan. Menurut survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia, Partai Nasdem berhasil menempati posisi emat besar setelah Demokrat, Golkar, dan PDI Perjuangan dengan suara 5,9% pemilih.

Pada Januari 2013, Nasdem lolos verifikasi administrasi dan faktual sebagai Parpol peserta Pemilu 2014. Tetapi seiring dengan lolosnya Partai Nasdem ke Pemilu, kabar perpecahan Partai Nasdem mencuat ke permukaan. Pada 21 Januari 2013 Hary Tanoesoedibjo bersama empat pejabat teras Partai Nasdem mengundurkan diri. (Mujib Rahman)

Laporan Utama Majalah GATRA edisi 19/12, terbit Kamis 24 Januari 2013

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?