GATRANEWS

Kasus Hambalang: Halaman Kedua Menyerempet Istana

Jakarta, GATRAnews - Pernyataan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum bahwa akan ada halaman berikutnya dari kasus Hambalang mulai membuat gerah kalangan istana. Pasalnya, belum genap sepekan Anas ditetapkan jadi tersangka dan melepaskan jabatan Ketua Umum, nama Edhie Baskoro alias Ibas mulai terseret dalam pusaran kasus dugaan megakorupsi proyek Hambalang.

Nama Ibas yang tak lain putra presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tertulis dalam sebuah dokumen yang beredar di kalangan media. Dalam dokumen yang disebut-sebut milik Yulianis, mantan anak buah Muhammad Nazaruddin dan mantan Direktur Keuangan PT Anugerah Nusantara, Ibas tercatat telah menerima dana sebesar US$900 ribu.

Dana yang mengalir ke Sekjen Partai Demokrat itu dikucurkan sebanyak empat kali. Penerimaan dana pertama dan kedua terjadi pada 29 April 2010. Pada tanggal itu, Ibas tertulis menerima uang sebesar US$600 ribu dalam dua tahap. Tahap pertama US$500 ribu dan tahap kedua US$100 ribu.

Sedangkan penerimaan dana ketiga dan keempat tertulis terjadi pada 30 April 2010. Pada tanggal itu, Ibas menerima uang sebesar US$300 ribu yang juga terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama US$200 ribu dan tahap kedua US$100 ribu. Jadi, menurut dokumen --yang belum tentu benar itu-- Ibas tercatat menerima empat kali dana Nazaruddin yang jumlah keseluruhannya mencapai US$900 ribu.

Ibas sendiri sudah membantah keras telah menerima dana terkait proyek Hambalang. "Tudingan tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Ini seperti lagu lama yang diulang-ulang. Saya yakin 1.000 persen, kalau saya tidak menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini," tegasnya.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Amir Syamsuddin, pun membantah data yang menunjukkan bahwa Ibas telah menerima dana proyek Hamvalang. Ia meminta publik agar tidak lekas percaya dengan dokumen yang telah  tersebar dan banyak dibicarakan itu. "Dari mana itu, saya sendiri tidak pernah lihat," kata Amir, Jumat (1/3/2013).

Amir tidak ingin berkomentar lebih jauh mengenai dokumen yang memuat nama putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Sebab menurutnya, data dalam dokumen itu asal usulnya tidak jelas. "Jangan membicarakan satu data yang asal usulnya tidak jelas. Sebaiknya begitu, menghindari fitnah," katanya.

Meski para petinggi Partai Demokrat kompak membantah isi dokumen itu, toh sang tokoh penting dalam kasus tersebut, Anas Urbaningrum, berkata lain. Ketika kali pertama kasus Hambalang mencuat, Anas mengaku pernah membawa M Nazaruddin ke kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam penjelasannya kepada publik, Anas menyatakan ikut dalam pertemuan antara Nazaruddin dan politisi senior Demokrat Amir Syamsuddin terkait kasus Hambalang. Saat itu, Amir meminta keterangan Nazar terkait aliran uang Hambalang. Pada rapat tersebut, Anas mengaku hanya mendengarkan penjelasan Nazar kepada Amir.

Apakah Baskoro Yudhoyono alias Ibas turut menikmati aliran dana Hambalang? "Pak Amir-lah yang lebih pas (menjelaskannya)," kata Anas singkat pada wawancara dengan RCTI, Rabu (27/2/2013).

Anas menyebutkan bahwa penjelasan Nazar terkait aliran uang Hambalang cukup mengejutkan. Ia mengatakan, beberapa orang memang turut menikmati uang Hambalang. Sayangnya, terkait nama-nama penikmat uang Hambalang, Anas belum mau menyebutkan.

Ketika dikejar dengan pertanyaan soal beredarnya tudingan bahwa Ibas turut menikmati uang yang diduga suap tersebut, Anas hanya menjawabnya diplomatis. "Saya hanya ikut rapat dan mendengarkan. Jadi, Pak Amir yang harusnya bicara. Kecuali Pak Amir pas ditanya tak mau menjelaskan, pemain penggantinya adalah saya," kata Anas.

Ketika ditanya apakah dirinya akan mengungkapkan orang-orang yang diyakininya menerima uang Hambalang, Anas kembali memberikan jawaban diplomatis "Ada tugas penting yang saya lakukan. Ukurannya adalah penting. Meski kecil, kita harus berpikir untuk hal-hal yang besar. Urusan-urusan, yang mungkin kurang penting, tidak akan saya lakukan," kata Anas. Menurutnya, segala pertimbangan masih terbuka. "Tidak ada yang titik. Yang ada adalah koma," katanya.

Pengakuan Anas cukup mengejutkan. Isitilah koma, misalnya, identik dengan pernyataan Anas sebelumnya bahwa dugaan keterlibatan dirinya dalam kasus Hambalang itu baru lembaran pertama. Masih ada lembaran kedua, ketiga dan seterusnya. Hal itu, menurut para analis, menunjukkan isyarat bahwa Anas melakukan perlawanan atas Cikeas. Boleh jadi ia bakal mengungkap seterang-terangnya kasus Hambalang, Century, IT KPU dan korupsi kakap lainnya demi keadilan dan kebenaran serta kepentingan bangsa dan negara, agar jelas duduk perkaranya.

Bisa jadi, apa yang ditunggu-tunggu publik, bahwa Anas akan membuka lembar demi lembar halaman kasus Hambalang dan kasus-kasus dugaan korupsi lainnya. Bisa jadi pula Anas akan menyingkapkan keterlibatan Sekjen DPP Partai Demokrat Ibas Yudhoyono dalam kasus Hambalang, meskipun relasi Anas dan Ibas dikenal publik sangat erat.

Terkait penyelesaian kasus Hambalang, semua pihak dan masyarakat hendaknya menghormati proses hukum yang berjalan di KPK. Dalam hal ini, Presiden SBY berulangkali menegaskan bahwa hukum yang adil harus ditegakkan dan tidak tebang pilih. Pernyataan SBY ini harus menjadi pegangan KPK agar kredibilitas dan citra KPK dalam memberantas korupsi tetap terjaga.

Kalaupun berdasarkan laporan Anas ternyata KPK kelak punya bukti bahwa Ibas Yudhoyono terlibat kasus Hambalang, maka lembaga antikorupsi itu haruslah bersikap profesional, independen, adil dan transparan agar semuanya diproses seterang-terangnya, seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya.

Tidak ada orang yang mau jadi korban ketidakadilan, demikian halnya Ibas tentunya. Kini publik menanti penuntasan KPK atas semua kasus terkait skandal Hambalang yang menghebohkan jagad politik di negeri ini. (HP)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?