GATRANEWS

TNI vs POLRI Cermin Brutalisme Negeri Ini

Jakarta, GATRAnews - Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pepatah itu pas untuk menggambarkan kejadian berdarah pada Kamis (7/3/2013) pagi di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Kota kecil yang damai itu, tiba-tiba terkoyak oleh aksi brutalisme aparat TNI melawan Polisi.

Sungguh, kejadian memalukan itu menjadi cermin bagi negeri ini yang kerap dilanda aksi gegap gempita bentrok warga di berbagai daerah. Betapa tidak, dua pasukan yang seharusnya menjadi garda depan dalam pengamanan warga dan penegakan hukum, justru mempertontonkan aksi brutal hingga memangsa banyak korban.

Bagaimana mungkin penduduk negeri ini akur dan damai jika aparat penegak hukum saling baku pukul. Polisi yang semestinya melindungi rakyat, dan TNI yang sepatutnya menjaga ketertiban dan keamanan, malah menciptakan huru hara di tengah warga.

Bentrok berdarah antara TNI dan Polri di kota kecil itu menjadi cermin brutalisme di negeri tercinta ini. Atas nama korp dan solidaritas antar teman, puluhan anggota Batalyon Armed 15/ 105 TNI Tarik Martapura meluruk dan membakar Mapolres OKU.

Amuk massa sekitar 90 anggota TNI itu dipicu oleh kabar meninggalnya salah seorang anggota TNI bernama Pratu Heru Oktavinus, anggota Batalyon 15/ 105, pada 27 Januari 2013. Heru tewas karena ditembak mati oleh anggota Polisi Lalu Lintas Polres OKU Brigadir Wijaya saat terlibat perkelahian di Desa Sukajadi, OKU.

Perkelahian malam itu bermula saat Brigadir Wijaya dan sejumlah polisi lalu lintas menggelar razia kendaraan bermotor. Setelah melakukan razia, Brigadir Wijaya duduk di Pos Polisi 902, Jalan Lintas Tengah Sumatra.

Lalu, melintaslah rombongan Pratu Heru Oktavianus yang berjumlah lima motor. Mereka baru pulang dari acara sunatan di Lorong Duku, Kelurahan Kemala Raja, Baturaja Timur, OKU, melintas di depan pos. Saat berada di lokasi razia, Pratu Heru yang tertinggal dari rombongannya dihentikan, namun berhasil meloloskan diri sambil menghina polisi.

Mendengar hinaan itu, Brigadir Wijaya menjadi naik pitam dan mengejar Briptu Heru. Brigadir Wijaya berhasil menyusul Briptu Heru. Dia kemudian menendang motor Briptu Heru hingga terjatuh. Kemudian, terjadilah percekcokan yang berujung pada adu fisik. Namun kemudian, Brigadir Wijaya menembak Briptu Heru dua kali. Satu tembakan mengenai punggung, satu lagi menembus leher.

Briptu Heru kemudian dibawa ke Rumah Sakit Santo Antonius Baturaja. Namun beberapa saat kemudian dia tewas. Sejak itulah situasi di Baturaja, OKU, menjadi tegang. Mapolres OKU dijaga ketat untuk mengantisipasi kemungkinan serangan. Hingga akhirnya, polisi menetapkan Brigadir Wijaya sebagai tersangka tunggal kasus pembunuhan Briptu Heru.

Tanpa Komando

Dua bulan berlalu, tak ada kejelasan penanganan kasus tersebut. Hal itu membuat para tentara di barak Batalyon 15/ 105 naik pitam. Teman-teman Heru dari Batalyon Armed 15/ 105 TNI mendatangi Mapolres OKU pada Kamis pagi pukul 07.30 WIB. Mereka menggunakan truk dan motor. Sebagian dari tentara itu juga membawa sangkur. Mereka datang ke Mapolres OKU untuk menanyakan perkembangan kasus penembakan Heru.

"Mereka bergerak tanpa sepengetahuan pimpinan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Suhardi Alius di kantor Humas Mabes Polri, Kamis (7/3/2013). Mediasi pun tidak berjalan mulus. "Pembicaraan tidak berlangsung lama, lalu situasinya mendadak tak terkendali dan menjadi perusakan," ujar Suhardi.

Entah apa yang terjadi, pada pukul 09.30 WIB, para tentara itu naik pitam. Mereka merusak dan membakar Mapolres OKU. "Mungkin mereka tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Maka terjadi keributan yang berujung dengan pembakaran," kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul kepada.

Akibatnya, sebagian kantor Polres OKU ludes dilalap si jago merah. Selain itu, 4 mobil dan 70 motor turut dirusak dan dibakar. Kekacauan ini juga menyebabkan 16 tahanan kabur, lainnya dievakuasi.

Tak hanya itu, aksi brutal ini juga menyebabkan tiga anggota Polres OKU terluka dan harus dirawat di ruhah sakit. Mereka adalah Briptu Berlin Mandala yang mengalami luka tusuk di dada dan tangan, Aiptu Marwani luka tusuk di paha, dan Bripka M yang mengalami luka bakar.

Usai melakukan pembakaran, puluhan anggota Batalyon 15/ 105 itu meninggalkan Mapolres OKU yang sebagian telah habis dilahap api. Namun, para tentara itu tidak berhenti melakukan perusakan. Di perjalanan, mereka juga menghancurkan dua pos lalu lintas dan pos sub sektor. Mereka bahkan menyerbu Mapolsek Martapura. Akibatnya, Kapolsek Martapura Kompol Ridwan terluka dan dalam kondisi kritis.

"Kapolsek dalam keadaan luka cukup parah dan diterbangkan ke Sumsel untuk dievakuasi, semoga bisa diselamatkan jiwanya," kata Suhardi. Namun dia memastikan, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Suhardi menyesalkan tindakan brutal puluhan anggota TNI. Pihaknya mendesak Mabes TNI untuk mengungkap kasus pembakaran dan penyerangan yang mengakibatkan empat anggota polisi mengalami luka tusuk.

Masalah Kesejahteraan

Komisi III DPR pun mengutuk keras peristiwa pembakaran kantor Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Disinyalir, pembakaran kantor polisi itu dilakukan oleh oknum anggota TNI.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Aziz Syamsudin, meminta agar aparat kepolisian dan TNI proaktif dalam mengusut tuntas peristiwa itu. Menurutnya, oknum pembakaran itu harus segera ditindak sesuai hukum yang berlaku di tanah air.

"Perlu dilakukan penyelesaian tegas dan terukur serta segera turun ke lapangan secara bersama Polri dan TNI. Dan menindak tegas pelaku yang membakar," kata Aziz kepada wartawan, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

Menurut dia, peristiwa pembakaran itu diduga akibat masalah perbedaan tingkat kesejahteraan aparat kepolisian dan TNI, yang berkembang ke masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari dan berujung kepada konflik berkepanjangan. "Masalah kedua, koordinasi yang tidak dilakukan secara berkelanjutan," kata Aziz.

Untuk itu, Aziz berinisiatif melakukan rapat gabungan antara Komisi III dengan Komisi I DPR. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan guna meminta pertanggungjawaban aparat Kepolisian dan TNI atas peristiwa tersebut. Sebab, peristiwa itu telah menciderai kondite aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian dan TNI. Selain itu, peristiwa itu memberikan contoh yang tidak baik kepada rakyat. (HP)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?