GATRANEWS

Hati-Hati Obat Palsu di Sekitar Kita

Hati-hati obat palsu ada di skeitar kita 50% obat paten di seluruh dunia dipalsukanJAKARTA, GATRANEWS - Bila Anda merasa beruntung membeli obat dengan harga miring, harap hati-hati. Salah-salah, setelah meminumnya, bukannya sembuh dari penyakit, justru anda diantar menuju kematian. Jangan-jangan  obat berharga murah itu palsu. Bukannya mengandung zat penyembuh, melainkan berisi bahan-bahan mematikan.

 

Bahaya itu mengintip Anda, karena obat-obat "pengantar kematian" sangat mudah didapat. Tidak perlu berbekal resep dokter, tinggal langsung membelinya di apotek rakyat alias toko obat tak berizin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mensinyalir, tempat ini menjadi sarang beredarnya obat palsu.

"Delapan puluh persen obat palsu ada di toko yang tak berizin," kata Lucky Oemar Said, Kepala BPOM, kepada GATRA, di kantornya, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Timur, Senin lalu. Lucky sudah melayangkan surat ke Kementerian Kesehatan untuk menertibkan apotek rakyat tak berizin ini.

Tentu upaya itu bukan perkara gampang. Jumlah apotek rakyat tidaklah sedikit, dan tersebar di beberapa kota besar. Di Jakarta, misalnya, Pasar Pramuka yang terletak di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, merupakan sentra apotek rakyat terbesar. Di pasar berlantai tiga ini, tidak semua toko obat mengantongi izin. Toko-toko itu melayani konsumen setiap hari, tak pernah mengenal libur. Pelayan toko pun agresif menawarkan barang jualan ke konsumen, tentu dengan harga miring.

Di tempat ini, GATRA sempat membeli obat antibiotik merek Amoxsan 250 miligram (mg) seharga Rp 14.000 per strip (berisi 10 kapsul). Sedangkan apotek resmi di bilangan Pasar Minggu membandrol obat yang sema seharga Rp 23.000. Sekilas tak ada yang berbeda dari obat yang dibeli di dua tempat berbeda itu.

Tapi setelah menelisik lebih cermat, kemasan Amoxsan asal apotek rakyat tidak serapi kemasan obat yang dibeli di apotek. Perbedaan lainnya, obat dari apotek memiliki nomor registrasi 12 angka. Sedangkan nomor regsitrasi Amoxsan dari apotek rakyat hanya terdiri tujuh angka.

Ketika GATRA membuka cangkangnya, Amoxsan asal Pasar Pramuka mempunyai serbuk putih kekuningan, tidak seputih Amoxsan yang dibeli di sebuah apotek di Jalan Pasar Minggu. Belum bisa dipastikan lewat penelitian laboratorium, mana yang asli dan mana yang palsu.

Apotek rakyat memang menjadi tujuan konsumen yang ingin membeli obat lebih murah. Di antaranya Ratna Dewi, 23 tahun, yang rajin menyambangi Pasar Pramuka guna membeli obat diabetes Glucophage 500 mg untuk orangtuanya. Satu strip seharga Rp 12.000, lebih murah Rp 3.000 bila ia membeli di apotek resmi. "Lumayan, kalau beli banyak kan jadi terasa lebih murah," katanya kepada GATRA.

Walau membeli obat bukan dari apotek resmi, Ratna tidak pernah meragukan khasiat atau keaslian obat yang dia beli di Pasar Pramuka. Ia tidak melihat efek samping pada ayahnya setelah beberapa bulan mengonsumsi Glucophage asal Pasar Pramuka. "Baik-baik saja, nggak ada yang aneh," ujarnya.

Ratna boleh saja tidak ragu, tapi lain halnya dengan Lucky. Wanita yang sudah 32 tahun berkarier di BPOM ini tetap khawatir atas peredaran obat palsu yang besar kemungkinan jalurnya lewat apotek rakyat. Ia bukan miris karena keberadaan obat ini merugikan secara ekonomi. "Kami lebih menghitung dari aspek berapa kerugian masyarakat dari angka kesakitan dan kematian," ujarnya kepada Flora Libra Yanti dari GATRA.

Lucky memang belum siap melansir angka kerugian ini. Namun, data yang terjadi di luar negeri  bisa menjadi rujukan. Menurut laporan terbaru dari Institutional Pharmacy Network (lembaga swadaya masyarakat di Amerika Serikat yang bergerak di bidang farmasi), obat palsu telah membunuh lebih dari 700.000 orang di dunia per tahun.

Sebagian dari mereka meregang nyawa lantaran menenggak obat palsu yang tidak ada kandungan obat sama sekali atau sedikit kadar zat aktifnya, membuat bakteri jadi resisten. Atau kadar zat aktifnya berlebih.


Produsen obat dari Cina dan India disinyalir menjadi pemasok obat palsu ini ke seluruh belahan bumi. Guna menghapus jejak, pendistribusiannya berlangsung dalam beberapa tahap.

Pertama, obat tersebut diekspor ke salah satu negara. Setelah itu, diekspor lagi ke negara tujuan.
Pangsa pasarnya juga lumayan besar, sekitar 10% dari seluruh obat-obatan yang beredar di dunia.

"Jumlah ini akan dapat meningkat menjadi 50%, khususnya di negara-negara miskin," kata Christopher Viehbacher, chief executive officer Sanofi, Prancis.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 50% obat-obatan palsu ini diperjualbelikan lewat pasar dunia maya.

Kekawatiran inilah yang mendorong 29 perusahaan farmasi terkemuka di dunia menggalang kerja sama. Mereka mengajak interpol untuk turut serta memberangus peredaran obat palsu yang sudah merambah hingga ke beberapa negara maju. Beberapa perusahaan yang terlibat, antara lain, Bayer, Pfizer, Sanofi, Roche, Glaxosmithkline, dan Lilly.

 

Kerjasama Pabrik Obat Global

Kerja sama diteken medio Maret lalu. "Upaya global diperlukan untuk menghadapi ancaman ini," kata Aline Plancon, Manajer Unit Pemalsuan Produk Kesehatan dan Kejahatan Farmasi Interpol, dalam situs huffingtonpost.com.

 

 Kerja sama akan berlangsung selama tiga tahun. Mereka menyediakan dana US$ 5,85 milyar atau sekitar Rp 58,5 trilyun untuk keperluan Interpol. Dana tersebut digunakan untuk pelatihan staf, melakukan investigasi, dan menjalin kerja sama dengan pemitra di negara lain.

Interpol juga akan berperan meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya obat palsu, khususnya yang beredar lewat internet. Tak hanya itu. Interpol akan menggelar operasi "Badai" guna memberantas obat ilegal. Sedangkan pihak farmasi akan menyediakan data penanganan obat palsu yang sudah dilakukan.

Operasi semacam itu sudah dilakukan di Afrika Barat. Lewat Operasi Cobra, Interpol menggandeng aparat kepolisian di Burkina Faso, Kamerun, Nigeria, Senegal, Togo, dan Guinea. Hasilnya, sebanyak 100 orang ditahan dan satu ton obat palsu disita.

 

"Kuantitas obat haram itu mengerikan. Perdagangan itu tak bisa dihambat tanpa kerjasama internasional di semua sektor dan stakeholder," ujar Aline Plancon, Manajer unit Pemalsuan Produk Kesehatan dan Kejahatan Farmasi Interpol.

Operasi lain diberi sandi Pangea. Indonesia, dalam hal ini BPOM, terlibat dalam operasi yang melibatkan 100 negara itu. Operasi ini menjaring pengedar obat ilegal, termasuk obat palsu, yang dijual lewat internet. Pangea sudah melakukan lima kali operasi, dan kini berlanjut dengan operasi ke-6.

Peredaran obat palsu di dunia memang menghebohkan sekaligus menggiurkan secara ekonomi bagi pihak-pihak yang terlibat. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scott Marciel, beberapa waktu lalu mengatakan pedagang obat palsu di dunia bisa meraup untung US$ 75 milyar atau sekitar Rp 688,7 trilyun. Para pembuat dan pedagang tidak hanya menyasar pasar negara miskin dan berkembang, melainkan juga beberapa negara maju.

 

Heboh Obat Palsu di Amerika


Pada awal tahun lampau, misalnya, Food Drug Administration (FDA) --BPOM Amerika-- dibuat heboh oleh beredarnya obat kanker paru Avastin 400 miligram per 16 mililiter di 19 tempat praktek dokter. Avastin buatan Roche, Swiss, berisi bahan aktif bevacizumab.

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata memang ada keganjilan dari obat tersebut. Sebut saja logo Roche di kemasan Avastin. Padahal Avastin yang diedarkan resmi di negeri Paman Sam, dipasarkan oleh Genentech, anak usaha lain Roche yang bermarkas di Swiss.


Kejanggalan lain terletak pada jumlah digit pada batch. Yang asli memiliki enam digit, dan masa kadaluwarsanya berbentuk tiga huruf singkatan bulan dan empat angka yang menunjukan tahun. Tetapi Avastin yang diduga palsu berdigit lima: B6010, B6011, atau B86017.

Para dokter tadi rupanya memesan obat tersebut melalui distributor independen dan tak berlisensi, Quality Specialty Products, distributor yang dikenal dengan nama Montana Health Care Solutions. Disibutor itu bermarkas di Gainesboro, Tennessee, Amerika Serikat. Distibutor mendapat obat dari pemasok lain yang diimpor dari India.

FDA lalu meminta para dokter untuk tak lagi memakai obat-obat tersebut serta tak berhubungan dengan distributor obat tak berlisensi. Beberapa kalangan menilai, ulah tempat praktek dokter yang memesan obat tersebut harus dianggap tindakan kriminalitas.

Bagaimana dengan di Indonesia? Lucia Erniawati, Manajer Komunikasi Perusahaan PT Roche Indonesia, mengatakan bahwa Avastin yang beredar di sini berdosis 100 mg. "Tidak ada nama dagang lain ataupun dosis lain," ujarnya lewat surat elektronik.

Sejauh ini, pihaknya juga belum menerima laporan atau informasi atas adanya dugaan (indikasi) beredarnya produk obat palsu berlabel Avastin di Indonesia. Kecuali itu, "Sampai saat ini belum ada konfirmasi ditemukannya produk palsu bevacizumab di luar Amerika Serikat," Lucia menambahkan.

Sebelumnya. Amerika Serikat juga pernah dihebohkan oleh antikerut Botox palsu buatan Allergan. Sebanyak 350 dokter diperkirakan memesan obat dari distirbutor tak resmi. Di negara lain, seperti Belanda, pernah ditemukan 200.000 insulin palsu. Insulin palsu juga dilaporkan terjadi di Inggris dengan jumlah 500.000 kantong.

Selain obat-obat tersebut, ada juga obat tuberkulosis, malaria, dan antibiotika palsu. Menurut data, antibiotika merupakan jenis obat yang paling sering dan banyak dipalsukan. Angkanya bisa mencapai 45,3%. Disusul obat kortikosteroid (7,5%), obat saluran cerna dan analgesik masing-masing 7% (lihat: Jenis Obat yang Sering Dipalsukan).

Di Indonesia 40 Merek Obat Dipalsukan

Dalam tiga tahun terakhir di Indonesia, BPOM menemukan sekitar 40-an merek obat palsu. Rinciannya: 22 merek (2009), 10 merek (2010), delapan merek (2011), dan enam merek (2012). Selain obat palsu juga dijumpai obat ilegal, alias tanpa izin edar. "Ada semacam tren, yang palsu menurun, tapi yang tanpa izin edar meningkat. Meningkat karena berasal dari Cina atau negara-negara yang di perbatasan," ujarnya.

Lucky menyebut beberapa merek yang kerap dipalsukan. Antara lain, Ponstan (obat antiradang), Viagra, Levitra, dan Cialis (ketiganya obat disfungsi ereksi), Combifent Inhaler (obat antiasma), Insidal tablet (obat anti alergi), Blue press (obat antihipertensi) dan Librax tablet (obat penenang). Ponstan lebih banyak dipalsukan di dalam negeri. Sedangkan Viagra dipasok oleh pembuat obat palsu dari Cina, dan Blue Press dari Malaysia. Sebanyak 60% dari produk palsu ini adalah produk untuk gaya hidup.

Maraknya peredaran obat palsu dan ilegal ini membuat kerja sama dalam memeranginya mendapat sambutan dari sejumlah farmasi. "Inisiatif kami yang baru (bersama sejumlah pabrik obat lain --Red.), meningkatkan kesadaran akan ancaman obat palsu itu," ujar Harry Waskiewicz, Direktur Pfizer Global Security untuk wilayah Asia-Pasifik.

Pfizer berkepentingan dengan kerjasama itu, lantaran beberapa produknya juga dipalsukan. Waskiewicz menyebut obat antiradang Ponstan, Obat disfungsi ereksi Viagra, obat kolesterol Lipitor, obat hipertensi Norvasc, dan obat diabetes Glucotrol XL adalah produknya yang jadi korban pemalsuan.

 "Beberapa survei terbaru mengonfirmasikan kehadiran obat palsu Viagra dan Lipitor di beberapa apotek dan beberapa toko obat resmi. Ini perlu sanksi hukum yang lebih tegas kepada mereka," ujarnya kepada GATRA lewat surat elektronik.

Selain merugikan pihak produsen obat legal, obat palsu sangat berbahaya bagi kesehatan dan keamanan pasien. Maka Pfizer terus menggalang upaya untuk memberangus dan mencegah peredaran obat haram ini.

Sejak 2004, kata Waskiewicz, pihaknya berhasil mencegah 217.000 dosis obat palsu sampai ke tangan pasien. Beberapa kolega berpengalaman juga diajak melakukan investigasi mendalam, dan memberikan pelatihan kepada pejabat terkait, termasuk di Indonesia, untuk membantu membedakan mana produk Pfizer yang asli dan palsu.

Dokter Sutoto, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, berharap peristiwa peredaran obat palsu yang sempat marak di Amerika Serikat tidak terjadi di Indonesia. Di antara sekian cara untuk membendungnya, kata Sutoto, "Seharusnya rumah sakit membeli obat melalui saluran resmi."

Sayangnya, saluran resmi pembelian obat di Indonesia melewati banyak pintu. Akibatnya, obat jadi mahal. Ia menganjurkan saluran resmi distribusi obat dipangkas, agar harga obat bisa ditekan. Di sisi lain, Sutoto juga menganjurkan agar rumah sakit melengkapi fasilitasnya dengan sistem monitoring efek samping obat.

 

Pemalsu Obat Lebih Jahat dari Pengedar Narkoba

 

Parulian Simanjuntak, Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), menilai obat palsu memiliki nilai ekonomi jauh lebih menguntungkan bagi pelaku pasarnya ketimbang mengedarkan narkotika.

Ironisnya, hukuman memalsukan obat jauh lebih ringan ketimbang mengedarkan narkoba. "Padahal pemalsuan obat-obatan ini membahayakan manusia, malah efeknya bisa jadi lebih berbahaya dari narkotika," ujarnya kepada Hayati Nupus dari GATRA.

IPMG adalah kumpulan perusahaan farmasi asing yang berkantor di Indonesia. Perusahaan farmasi itu di dunia tergabung International Federation of Pharmaceutical Manufacturers & Associations yang bekerja sama dengan Interpol.

Salah satu faktor masih banyaknya peredaran obat palsu, menurut Parulian, juga diakibatkan kesalahan penerapan aturan, seperti adanya apotek rakyat. Dalam apotek rakyat, obat tak harus diberikan langsung oleh apoteker. Satu apoteker bisa membawahi tiga apotik rakyat. "Itu sudah menyalahi aturan. Dalam UU, obat hanya diberikan langsung oleh apoteker kepada pemakai," kata Anggi --panggilan Parulian.

Kelonggaran ini yang membuat apotek rakyat menjadi surga bagi peredaran obat palsu. Bahaya lainnya, obat lewat resep yang seharusnya hanya bisa dibeli di apotek resmi, bisa dilayani di apotek rakyat. Celakanya, di tempat ini hampir semua merek obat dipalsukan. Pemalsu biasanya menjual obat-obatan yang laku, mudah didistribusikan dan menguntungkan.

Penanganan obat palsu selama ini pun terhitung masih lemah. Jerat hukum bagi pemalsuan obat dianggap masih lemah. Hukuman pun terlalu ringan Kasus obat palsu menggunakan UU

Perlindungan Konsumen dan KUHP. Di UU Kesehatan tidak ada defenisi soal obat palsu. "Sehingga, meskipun ada tindakan, ancaman hukumannya susah diaplikasikan oleh polisi, jaksa maupun hakim," ujar Anggi.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan, Widyaretna Buenastuti, juga menilai belum ada koordinasi yang terintegrasi dari berbagai institusi pemerintahan. "Padahal, kalau ada keinginan kuat memberantas obat palsu, keuntungan yang diperoleh akan berlipat. Masyarakat juga akan merasakan manfaatnya," katanya.

Sedangkan soal harga obat palsu, Widya memandang obat palsu tak selalu murah. Ada obat palsu yang justru lebih mahal dari obat asli. Konsumen tergiur oleh obat palsu mahal ini karena iming-iming bahwa itu obat impor.

Kini, di tengah maraknya obat palsu, apakah Anda masih merasa beruntung bisa membeli obat berharga miring tapi tidak terjamin keasliannya?

Aries Kelana, Edmiraldo Siregar, dan Ftri Kumalasari.
(Laporan Utama, Majalah Gatra Edisi 1922, beredar 4 April 2013)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?