GATRANEWS

SMA Semesta Semarang: Mencari Bibit Prestasi dari SMP

 EDISI KHUSUS: Sekolah Para Juara

Berawal dari kegiatan mahasiswa. Bekerja sama dengan lembaga pendidikan Pasiad. Mengambil siswa SMP berprestasi untuk bersekolah di sini melalui fasilitas beasiswa. Tradisi emas setiap tahun.

 

Semarang, GATRAnews - Dini Royana merasa bersyukur. Ia tak percuma mendapat beasiswa dari SMA Semesta Boarding School. Sebab, dengan beasiswa itu, ia bisa melanjutkan sekolahnya. Ia tinggal menunggu hasil ujian nasional yang baru saja dijalaninya. "Saya akan meneruskan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga," ujar warga Ponorogo, Jawa Timur, itu.

 

Selain beasiswa, ia juga berhasil mengukir prestasi. Anak pertama dari empat bersaudara itu berhasil meraih gelar absolute winner dan medali emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 di bidang fisika. Kemampuannya di bidang fisika juga didukung oleh minatnya di bidang itu. Sejak duduk di bangku SMPN I Ponorogo, ia dikenal mahir dalam dunia ilmu pengetahuan alam ini.

 

Dini merupakan satu dari sekian siswa SMA Semesta yang berprestasi pada tahun lalu. Ada 10 siswa yang mendapat medali dari emas hingga perunggu. Bahkan ada satu siswa bernama Fathul Jannah yang mendapat medali dalam kompetisi nasional dan internasional.

 

SMA favorit yang terletak di Jalan Raya Semarang, Gunungpati Kilometer 15, Semarang, ini telah menorehkan tidak kurang dari 76 medali dalam kompetisi lokal dan internasional sejak 2007. Itu belum termasuk penghargaaan internasional secara tim.

 

Tidak mengherankan jika beberapa orangtua ingin anak-anaknya dididik di sekolah yang menerapkan sistem asrama bagi anak-anak didiknya ini. Mereka rela anaknya melanjutkan pendidikan yang jauh dari tempat tinggalnya. Misalnya dari Kalimantan, Sumatera, Jawa Timur, dan beberapa daerah lain.

 

Menurut Moh. Haris, Kepala SMP-SMA Semesta Semarang, siswa SMA Semesta berjumlah 151 siswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15% merupakan siswa yang mendapatkan beasiswa. "Ada juga yang mendapat beasiswa, tetapi mereka memilih membayar karena mampu," ujarnya.

 

Semesta didirikan pada 9 Mei 1999. Sekolah ini dirintis 90-an aktivis mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, yang menggelarkan kegiatan kompetisi buat anak-anak lanjutan. Kemudian mereka sepakat mendirikan Yayasan Al-Firdaus. Yayasan ini ingin punya sekolah yang menghindarkan mereka dari aksi tawuran. Yayasan yang dimiliki Suwanto, bos penerbit Aneka Ilmu, ini akhirnya mendirikan sekolah.

 

Semula, yang terpikir adalah mendirikan pesantren. Namun, lantaran sudah ada pesantren di daerah itu, akhirnya mereka memilih sekolah asrama (boarding school). Suwanto menjalin kerja sama pendidikan dengan Pasiad, lembaga pendidikan asal Turki. Pasiad dikenal sukses dengan SMA Pribadi di sejumlah daerah. Nota kesepahaman pun diteken. Di situ, Pasiad terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan Semesta hingga 2018.

 

Untuk menciptakan anak-anak berprestasi, Semesta memantau para peserta OSN tingkat SMP di berbagai daerah. Mereka lalu menawari siswa pemenang OSN itu untuk bersekolah asrama di Semesta. Tidak semua siswa yang ditawari bersedia bersekolah di Semesta. Mereka memilih bersekolah di SMA unggulan di daerahnya. "Sebab, kalau bersekolah di sini, khawatir kalah bersaing," tutur Haris.

 

Ada pula yang sudah bersekolah di Semesta, kata Haris, tapi setahun kemudian memilih pindah ke sekolah lain. Biasanya anak-anak itu pintar, tapi tidak termasuk tiga besar yang bisa disertakan dalam OSN tingkat provinsi atau nasional.

 

Semesta memiliki total 16 kelas: enam kelas X, empat kelas XI, dan enam kelas XII. Selain harus belajar mandiri, di dalam sekolah dan asrama terdapat aturan jelas: tidak boleh berpacaran, membawa telepon genggam, MP3-MP4 player, pada saat tertentu. Apabila melanggar, akan dikenai sanksi. "Sanksi terberat dikembalikan ke orangtuanya. Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada yang dikeluarkan," kata Haris lagi.

 

Setiap hari belajar di sekolah reguler, yang memakai sistem dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Sore hari, mereka berkumpul di satu ruangan berdasarkan kemampuan dan minat keilmuannya. Ruangan inilah yang dijadikan ajang pencarian peserta olimpiade. Mereka bediskusi dan dibimbing oleh satu-dua staf pengajar. "Silabusnya sudah ditentukan oleh Kemendikbud," ujar Iman Husnan, seorang guru kimia.

 

Selain silabus dari pemerintah, pihaknya juga memanfaatkan kurikulum buatan Pasiad atau dari staf pengajar alumnus peserta olimpiade. "Supaya mereka terpacu untuk mengikuti olimpiade," kata Haris. Dalam sepekan, mereka belajar 6-8 jam.

 

Selain penempatan ruangan khusus, mereka juga mengikuti kemah olimpiade yang digelar empat kali setahun. Mereka dikirim ke beberapa kota, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Dari situlah mereka berkompetisi. Pihak sekolah menyeleksi mana yang layak disertakan dalam olimpiade sains nasional (OSN) atau kompetisi lain di tingkat internasional.

 

Sebelum ada pembatasan peserta OSN pada 2011, siswa-siswa Semesta kerap mendapat banyak medali, baik emas, perak, maupun perunggu. Pada 2007, misalnya, 16 medali didapat. Lalu, pada 2008, sebanyak 10 medali. Pada 2009 melonjak jadi 21 medali (lihat: Riwayat Prestasi SMA Semesta). Tetapi pada tahun berikutnya berkurang.

 

Sejak 2011, menurut Haris, hanya boleh mengirim maksimal dua siswa ke OSN per bidang. Ada tujuh bidang yang dilombakan: astronomi, ekonomi, matematika, geografi, fisika, kimia, geosains (kebumian), dan biologi. Sebagian besar dari mereka mendapat medali OSN dari bidang matematika. Disusul oleh fisika, kimia, dan geosains.

 

Semesta memang menjadi sekolah unggulan dan berakreditasi A. Karena itu, untuk memasukkan anak ke sekolah ini, perlu duit tidak sedikit --kecuali berprestasi dan mendapat beasiswa. Untuk tahun 2013/2014, setiap calon siswa dikenai uang pangkal Rp 36 juta, SPP Rp 2,2 juta per bulan, biaya asrama Rp 1,5 juta per bulan, uang buku Rp 3,5 juta per tahun, dan uang kegiatan Rp 3 juta prt bulan.

 

Itu belum termasuk biaya kegiatan kemah olimpiade yang dihitung berdasarkan jarak. Mampukah Anda sebagai orangtua menyekolahkan anak Anda ke sekolah ini?

 

[Aries Kelana, dan Samsul Hidayat (Semarang)]

Edisi Khusus Pendidikan Majalah GATRA, 

No 24 Tahun ke XIX, Beredar Kamis, 2 Mei

-----------------------------------------------

Dapatkan versi digital di toko:

GATRA Apps, Wayang Force, Scanie, Scoope, Indobook

 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?