GATRANEWS

SMA Pribadi Bandung: Pribadi Berprestasi dan Peduli

 EDISI KHUSUS: Sekolah Para Juara

Anak pintar kadang egois dan asosial. Kepribadian, bagi Sekolah Pribadi, jadi elemen kunci garapan pendidik. Beragenda mencetak siswa unggulan, berdaya saing, tapi tetap rendah hati dan peduli sesama.

Bandung, GATRAnews - Bicara konstalasi sekolah berprestasi se-Kota Bandung, SMA Pribadi Bilingual Boarding School (BBS) Bandung layak dihitung. Hasil seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Kimia tingkat Kota Bandung 2013 terbitan 24 Maret lalu, misalnya, siswi SMA Pribadi Bandung, Maulinda Kusumawardani, bertengger di peringkat teratas. Ia mengalahkan 82 siswa dari belasan SMA negeri dan swasta favorit se-''kota kembang'' itu. Siswa SMA Pribadi yang lain, Alief Maulana, membayangi di peringkat ketiga.

 

Dominasi SMA Pribadi dibandingkan dengan sekolah lain se-Bandung juga terlihat dalam daftar peraih medali OSN tingkat nasional 2012. Siswa SMA se-Kota Bandung merebut lima medali. Empat medali -dua perak dan dua perunggu-- disumbangkan SMA Pribadi. Sisanya, satu perunggu bidang kimia dipasok SMAK I BPK Penabur Bandung. Pada level Provinsi Jawa Barat, sumbangan medali SMA Pribadi Bandung masih terbesar dibandingkan dengan capaian 11 SMA liannya yang menyuplai total 22 medali.

 

Prestasi tahun 2011 dan 2010 lebih bersinar. Bila pada OSN 2012 SMA Pribadi Bandung tidak merebut emas, dua tahun sebelumnya, mampu menggondol emas untuk bidang biologi (2011) dan emas untuk matematika (2010). Saat seleksi OSN bidang biologi tingkat Kota Bandung, SMA Pribadi juga dominan, dengan memborong peringkat satu sampai tiga. Rhogerry Deshycka, siswa SMA Pribadi yang unggul sejak seleksi tingkat Kota Bandung, adalah peraih emas biologi OSN 2011 tingkat nasional di Manado, Sulawesi Utara.

 

Rhogerry, siswa kelahiran Padang, 1995, melanjutkan laga tingkat internasional, dan menggondol perak di International Biology Olympiad, Singapura, Juli 2012. Ia bersaing dengan lawan dari 60 negara.

 

Maulinda, siswi tahun pertama (kelas X) SMA Pribadi Bandung, yang baru merebut skor tertinggi Olimpiade Kimia se-Kota Bandung Maret lalu, juga dirancang bisa menapaki sukses seniornya, Rhogerry.

''Maulinda salah satu murid kami yang menjanjikan,'' kata Ahmad Fauzi, guru sejarah dan geografi SMA Pribadi Bandung. Maulinda yang lahir di Cirebon pada 1997 itu sudah kaya pengalaman kompetisi. Dalam OSN tingkat SD tahun 2008, Maulinda meraih perunggu. Ia lalu ikut kompetisi matematika gelaran PASIAD (Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association), asosiasi asal Turki yang menjadi mitra Sekolah Pribadi Bandung. Maulinda lolos dan mendapat beasiswa penuh masuk SMP Pribadi Bandung. Sekolah Pribadi Bandung bukan hanya tingkat SMA, juga terdiri dari playgroup, SD, dan SMP.

 

Saat di SMP Pribadi Bandung, Maulinda ikut kompetisi internasional. Ia meraih medali perunggu dalam International Junior Science Olympiad di Nigeria (2010). Saat ajang sejenis digelar di Afrika Selatan, 2011, Maulinda juga meraih perunggu. Dalam skala nasional, pada 2011, Maulinda meraih medali emas fisika. Selepas SMP, Maulinda mendapat beasiswa lagi masuk SMA Pribadi Bandung.

 

Dapat beasiswa sejak SMP sampai SMA tentu keberuntungan tersendiri bagi Maulinda. Maklum, biaya sekolah ini terhitung mahal. Uang pangkal masuk SMP atau SMA Pribadi Bandung seharga Rp. 35 juta. Ditambah biaya pendidikan tahunan Rp 28 juta. Tiap tahun, Sekolah Pribadi menyediakan beasiswa penuh bagi siswa berprestasi. Tahun ajaran ini, sebanyak 43 siswa mendapat beasiswa, termasuk Maulinda.

 

***

 

Ruang kelas Sekolah Pribadi Bandung umumnya lapang. Kelas berkapasitas 40 siswa rata-rata berisi kurang dari 30 siswa. Sekolah memisahkan siswa perempuan dan laki-laki dalam kelas berbeda, pada jenjang SMP dan SMA. Kepala Sekolah SMP dan SMA Pribadi, Sudarman, menjelaskan, dengan pemisahan itu, akan terjadi fokus pembelajaran. Tiap kelas dibimbing wali kelas berbeda, sesuai dengan jenis kelamin siswa kelas. Kelas perempuan dibimbing wali kelas perempuan, begitu pula sebaliknya.

 

Siswa perempuan dan laki-laki bisa berkegiatan bersama dalam aktivitas sosial, seperti buka puasa bersama yatim piatu, perayaan kurban, dan pertemuan dengan kalangan kurang mampu. Tapi tetap dipisahkan sekat. ''Kita benahi dulu akhlaknya, kemudian benahi sainsnya. Kita gabungkan akhlak dan sains,'' ujar Sudarman, yang baru enam bulan menjabat sebagai Kepala SMA Pribadi Bandung. Sebelumnya, Sudarman menjadi Kepala SMA Pribadi Depok. Selain di Bandung, sekolah Pribadi juga ada di Depok.

 

Sekolah Pribadi Bandung berdiri pada Februari 2002, ketika Yayasan Pribadi Bandung bekerja sama dengan PASIAD Turki. PASIAD kini bekerja sama dengan sembilan sekolah: dua sekolah negeri di Sragen, Jawa Tengah, dan Banjar, Kalimantan Selatan, serta tujuh sekolah swasta. Selain Bandung dan Depok, sekolah swasta itu ada di Yogyakarta, Semarang, Tangerang Selatan, dan dua di Banda Aceh. ''Kami satu kesatuan. Masing-masing sekolah berbeda yayasan, beda nama, tapi satu manajemen,'' Sudarman menjelaskan.

 

Pribadi Bandung semula berlokasi di Jalan Ranggamalela, Dago, Bandung. Sejak 2008, lembaga ini menempati lokasi baru di Jalan P.H.H. Mustafa Nomor 41, Bandung. SMA Pribadi Bandung baru membuka jurusan IPA, belum ada IPS. Sistem pengajarannya dwibahasa: Indonesia dan Inggris. Untuk mendukung bilingual system, diselenggarakan martikulasi bahasa Inggris selama 2,5 bulan.

 

Rekrutmen siswa ditempuh lewat tiga jalur. Pertama, sekolah proaktif menjaring seluruh anak berbakat di Indonesia. Kedua, jalur kompetisi yang dikelola PASIAD Turki, tiap tahun, untuk seluruh siswa di Indonesia. Peringkat 100 besar nasional, baik SD maupun SMP diberi beasiswa masuk. Ketiga, jalur seni dan budaya, yang memberikan kesempatan kepada siswa berprestasi di bidang kesenian.

 

Untuk siswa luar Bandung disediakan asrama berkapasitas 200 orang. Sedangkan murid asli Bandung boleh pulang ke rumah. Ada ketentuan ketat tentang penggunaan ponsel bagi siswa di asrama. Selama jadwal belajar, ponsel harus dimatikan. Jenisnya pun dilarang yang model smartphone, yang bisa digunakan untuk mengakses internet. Cukup untuk telepon dan SMS saja. Dengan demikian, siswa tak boleh menggunakan Blackberry, iPad, dan tablet. Ketentuan ini juga berlaku bagi siswa non-asrama selama di sekolah.

 

Motor pembinaan siswa berada di tangan wali kelas. Saat ini tersedia 44 guru untuk mengajar dari jenjang SD sampai SMA. Ditambah enam guru asal Turki. Jumlah siswa SMA saat ini 260 anak. Siswa pintar dan kurang pintar tidak dipisah. Mereka dibaurkan dalam satu kelas. Saat itulah, siswa diharapkan saling membantu. Sekolah berusaha menumbuhkan sikap peduli dan tolong menolong. ''Mereka diharapkan care terhadap teman-temanya,'' ujar Sudarman. Tentu, dikecualikan saat ujian.

 

''Bisa sekolah di sini seru. Awalnya susah. Siswanya macam-macam. Kata Pak Fauzi, di sini kita juga belajar mengetahui lingkungan masyarakat,'' kata Rhogerry, siswa peraih emas bidang biologi 2011 itu. ''Rasanya sekolah di sini lain. Sistemnya bilingual, jadi lebih menantang,'' kata Maulinda, peraih skor teratas seleksi OSN Kimia tingkat Kota Bandung 2013.

 

Untuk menghadapi olimpiade, siswa berprestasi dibuatkan serangkaian program khusus. Antara lain, pengiriman ke Center Olimpiade, yayasan khusus melatih soal-soal olimpiade yang berada di Tangerang dan Yogyakarta. Siswa digodok selama dua bulan. Sebelum dikirim di Center Olimpiade, siswa harus melewati proses berat di sekolah. Mereka dimasukkan kelas khusus untuk menguasai berbagai mata pelajaran dan pelajaran dua tingkat di atasnya. ''Kuasai materi sekolah dulu, baru kita kirim,'' Sudarman memaparkan.

 

Sekolah juga meminta bantuan alumni mantan peserta olimpiade yang kuliah di kampus-kampus utama Bandung, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Pendidikan Indonesia, untuk membimbing adik-adiknya. Ahmad Fauzi, guru sejarah dan geografi, menandaskan, meski bergelimang prestasi, siswa-siswi diajarkan low profile. Pembinaan akhlak jadi agenda krusial. Jangan sampai seperti citra sebagian anak pintar yang cenderung asosial, siswa di sini diajarkan bergaul secara sosial, solidaritas, dan menghormati perbedaan.

 

Asrori S. Karni dan Iman Hamzah (Bandung)

 

Edisi Khusus Pendidikan Majalah GATRA, 

No 24 Tahun ke XIX, Beredar Kamis, 2 Mei

------------------------------------------------

Dapatkan versi digital di toko:

GATRA Apps, Wayang Force, Scanie, Scoop, Indobook

 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?