GATRANEWS

Revolusi Transaksi Keuangan

Jakarta, GATRAnews - Transaksi non-tunai tumbuh pesat dan signifikan dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Bank bersaing dengan lembaga non keuangan menciptakan instrumen pembayaran elektronik terbaik. Di luar sana mulai ada kekhawatiran bank sebagai medium transaksi akan tergulung lembaga non bank, khususnya perusahaan IT. Citybank harus berebut lahan dengan Apple dan Google. Dan revolusi transaksi keuangan ini baru saja dimulai, maka siap-siap saja kita melihat perkembangan luar biasa ke depan. Bagaimana di Indonesia, saat ini?

 

                                                                                  ***

 

Praktis. Tanpa mengeluarkan uang dan kartu debit dari dompet, Deni menuntaskan transaksi dengan cepat. ''Mbak, coba pakai gelang ini, ya,'' katanya kepada seorang pramuniaga di sebuah gerai minimarket di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa siang lalu. 

 

Sejurus kemudian, Deni menjulurkan tangan dan menempelkan gelang karet warna merah berpadu warna oranye ke mesin electronic data capture (EDC) atau chip reader. Tidak sampai setengah menit, proses data transaksi pun kelar. 

 

Deni adalah satu dari ribuan remaja yang gandrung dengan transaksi keuangan serba-elektronik. Ia mendapatkan gelang tadi secara gratis ketika menjadi peserta lomba lari "5K Mandiri Run" yang digelar Bank Mandiri, Ahad lalu. ''Setelah diisi ulang melalui ATM, gelang ini langsung bisa dipakai,'' ujarnya kepada GATRA. 

 

Gelang e-mOney, begitu Bank Mandiri menyebutnya, adalah inovasi terbaru bank terbesar di Tanah Air ini. Melihat tampilannya (gelang itu dibuat dalam 10 warna dan masing-masing diimbuhi kata seperti freedom, hope, change, courage), Bank Mandiri berusaha menyasar kalangan muda. 

 

Gelang itu menambah daftar alternatif cara pembayaran secara elektronik, yang sebelumnya lazim menggunakan kartu. Menurut Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, seperti kartu Mandiri prabayar yang telah ada, gelang tersebut dapat digunakan untuk transaksi di tol, membayar parkir, naik bus TransJakarta, membeli BBM di SPBU, belanja di toko retail, dan membayar di restoran. 

 

"Hingga saat ini, Bank Mandiri telah melepas 20.000 gelang e-mOney," katanya kepada Andi Anggana dari GATRA. 

 

Fitur gelang e-mOney adalah kartu prabayar multifungsi sebagai pengganti uang tunai untuk pembayaran. Saldo yang terdapat pada chip di gelang itu dapat diisi ulang, dapat dimiliki nasabah maupun non-nasabah, dapat dipindahtangankan, saldo tidak diberikan bunga, dan saldo maksimal Rp 1 juta. Tidak ada nilai minimum transaksi untuk pembelanjaan dengan gelang e-mOney. 

 

Namun saldo yang terdapat pada gelang e-Money tidak masuk program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan. Seperti kartu prabayar lainnya, jika gelang itu hilang atau dicuri, pihak bank tidak dapat memblokirnya. 

 

Bank juga tidak mengganti sisa saldo di gelang atau kartu yang hilang atau dicuri. Sebab saldo yang terdapat di kartu yang sifatnya sebagai pengganti uang tunai dapat dipindahtangankan dan transaksi pembelian dilakukan secara offline. 

 

Pembayaran elektronik adalah alat transaksi baru yang memperlihatkan kemajuan sangat pesat belakangan ini. Ia menggantikan peran uang kertas dan logam yang merupakan alat transaksi konvensional selama berpuluh-puluh tahun. 

 

Less Cash Society 

Saat ini, uang kertas dan logam yang beredar di masyarakat mencapai jumlah Rp 320 trilyun. Biaya pembuatannya juga makin mahal. ''Dengan e-payment atau biasa disebut e-money, transaksi menjadi lebih mudah dan efisien serta murah biaya pembuatannya,'' kata Budi Gunadi. 

 

Di sejumlah negara, alat transaksi baru ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakatnya. Bank Indonesia (BI) juga berusaha mendorong agar uang tunai dikurangi dan secara bertahap diganti dengan e-money atau kartu prabayar (prepaid card). Upaya ini dicanangkan BI sejak enam tahun lalu. 

 

Masyarakat yang tidak bergantung pada uang tunai atau less cash society (LCS) merupakan salah satu program besar yang dirancang Departemen Akunting dan Sistem Pembayaran (DASP) BI sejak akhir triwulan I 2006. ''Tujuan pengurangan uang kartal dengan e-money, selain menghemat biaya pembuatan, juga agar transaksi mudah terekam, lebih praktis, dan aman,'' kata Direktur Eksekutif DASP BI, Boedi Armanto. 

 

Selama ini, transaksi uang kartal seperti kertas dan logam tidak bisa terlacak karena banyak berpindah dan tidak terekam. ''Dengan sistem elektronik, semua transaksi terekam lengkap oleh BI sehingga jika diperlukan untuk solusi bagi monetary atau financial policy, bisa lebih akurat,'' kata Boedi. 

 

Transaksi non cash ini, menurut Boedi, terbagi menjadi tiga, yakni berdasarkan kartu, internet, dan mobile financial services. Transaksi e-money, debet, dan kredit berbasiskan kartu. 

 

Untuk transaksi internet berupa e-commerce yang memakai apps-on pada jual-beli di toko-toko online semacam Blibli, Tokobagus, dan Kaskus. Sedangkan transaksi mobile semakin banyak seiring dengan makin terjangkaunya harga smartphone dan tab. 

 

Boedi menyatakan, tren transaksi non-tunai memang meningkat tajam. Pada 2009, jumlah instrumen mencapai 3.016.272, dengan jumlah transaksi 47.772 per hari dan besar nominal transaksi Rp 1.422 milyar per hari. 

 

Lalu, pada 2012, jumlah total instrumen jadi 21.869.946, dengan jumlah transaksi 274.929 per hari dan besar nominal transaksi Rp 5.386 milyar per hari. 

 

Untuk 2013, data BI per Maret menunjukkan, total instrumen 24.069.229, dengan transaksi 371.103 per hari dan besar nominal transaksi Rp 8.154 milyar. 

 

Jumlah itu, menurut Boedi, akan makin melonjak karena TransJakarta yang dipasangi infrastruktur e-ticket akan mendorong orang menggunakan e-money. 

 

7 Bank dan 8 non Bank

Kini penerbit e-money ada 16, terdiri dari tujuh bank umum, satu BPD, dan delapan lembaga selain bank (LSB). Bank penerbitnya adalah Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI 46, Bank Mega, CIMB Niaga, Bank Permata, dan BPD DKI Jakarta. 

 

LSB yang menerbitkan e-money adalah PT Indosat, PT Skye Sab Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia, PT Telekomunikasi Seluler, PT XL Axiata, PT Finnet Indonesia, PT Artajasa Pembayaran Elektronis, dan PT Nusa Satu Inti Artha. 

 

Perlombaan dalam mengeluarkan instrumen e-money dengan berbagai fitur inovatifnya membuat DASP BI optimistis bahwa target pertumbuhan transaksi non-tunai 25% setiap tahun akan tercapai. 

 

''Dalam lima tahun sudah bisa menjadi salah satu instrumen yang disukai masyarakat seiring dengan generasi yang terus berubah,'' kata Boedi. 

 

BNI Prepaid

Sejak BI memberikan lampu hijau pada 2006, transaksi non-cash menjadi ajang perlombaan baru bagi bank untuk menarik minat nasabah. BNI pun tak mau ketinggalan turun ke gelanggang. Terhitung sejak 2009, BNI mengeluarkan produk uang elektronik ke publik berupa BNI Prepaid untuk event Java Jazz. 

 

Menurut General Manager Bisnis Kartu BNI, Dodit Wiweko Probojakti, untuk meningkatkan perkembangan BNI Prepaid, BNI melakukan kerja sama dengan partner strategis yang meliputi bidang transportasi, komunitas musik dan olahraga, minimarket, dan lain-lain. ''Wujudnya berupa BNI Prepaid co-branding,'' ujar Dodit. 

 

Kemudian, sesuai dengan arahan BI, Dodit memaparkan, BNI bekerja sama dengan bank-bank penerbit uang elektronik sehingga dapat tercipta interoperability di antara uang elektronik yang diterbitkan masing-masing bank. 

 

''Kerja sama dilakukan berupa penggunaan reader secara bersama,'' kata Dodit. Peningkatan signifikan dari sisi jumlah transaksi, instrumen, dan volume dirasakan BNI. ''Dalam dua tahun terakhir, transaksi BNI Prepaid meningkat year on year lebih dari 25%,'' ujarnya. 

 

Dari segi operasional biaya, Dodit mengungkapkan bahwa BNI Prepaid sangat menguntungkan dan menjadi pendukung produk dana lainnya. ''Tidak hanya aspek cost benefit analysis yang dinilai, BNI Prepaid juga menjadi traffic builder agar pelanggan kemudian tertarik menggunakan produk-produk BNI yang lain,'' katanya. 

 

Dalam rangka pengamanan produk e-money, baik transaksi berupa mobile banking maupun bentuk kartu, menurut Dodit, BNI melakukan pengawasan terhadap distribusi security access module (SAM), melakukan enkripsi, dan autentifikasi transaksi. Perubahan platform e-money agar lebih aman, nyaman, dan cepat akan diimplementasikan tahun ini. 

 

Dodit berharap, bisnis model e-money di Indonesia bisa sukses seperti penerapan Octopus Card di Hong Kong atau Eazy Link di Singapura. ''Di sana hampir semua transaksi transportasi publiknya menggunakan uang elektronik dan semua pemangku kebijakan mendapat keuntungan dari penerapan uang elektronik,'' ungkapnya. 

 

BRIZZI

Pemain lain yang serius menggarap produk e-money adalah Bank BRI, yang pada Desember 2011 merilis produk e-money berlabel BRIZZI yang berbasis chip dan contactless. 

 

Menurut Corporate Secretary BRI, Muhamad Ali, tujuan diterbitkannya BRIZZI, selain memberikan kemudahan, kenyamanan, kecepatan, dan keamanan dalam transaksi mikro, juga untuk menghimpun dana murah, meningkatkan fee based income, menambah jumlah nasabah BRI, serta mewujudkan less cash society. 

 

Meningkatnya transaksi non-tunai melalui ATM, internet banking, dan mobile banking seperti SMS banking yang signifikan, menurut Muhamad Ali, ke depan akan menambah efisiensi operasional BRI. 

 

''Ini terjadi karena terdapat perpindahan dari penggunaan channel konvensional menjadi pengguna sarana e-banking,'' kata Muhamad Ali. 

 

Dari segi operasional biaya, menurut Muhamad Ali, biaya variabel yang dikeluarkan untuk produk e-money tidak terlalu besar. Sehingga, sesuai dengan basis produk e-money yang bergantung pada besarnya transaksi dan jumlah pelanggan, keuntungan akan meningkat seiring dengan makin banyaknya jumlah pengguna dan besarnya nilai transaksi e-money. 

 

Meskipun BRIZZI sudah dilengkapi dengan teknologi chip yang cukup aman, menurut Muhamad Ali, mengingat fungsi e-money yang serupa dengan uang tunai, maka BRIZZI harus disimpan dan digunakan dengan hati-hati. 

 

Jika hilang atau dipakai pihak lain tanpa sepengetahuan si pemilik, risiko yang harus ditanggung pemilik sesuai dengan saldo yang ada atau maksimal Rp 1 juta.

 

T-cash 13 Juta Pelanggan

Tren e-money tidak hanya melanda bank-bank, melainkan juga mendorong operator seluler untuk ikut bergabung. Telkomsel, misalnya, mengeluarkan layanan T-cash. 

 

Head of Corporate Communication Group PT Telkomsel, Adita Irawati, mengatakan bahwa kehadiran T-cash sebagai alat pembayaran online semata-mata agar pengguna Telkomsel dapat bertransaksi lebih nyaman, mudah, dan aman. 

 

Untuk itu, Telkomsel yang jumlah pelanggannya mencapai 120 juta orang menjalin kerja sama dengan 650 merchant. Untuk memudahkan layanan e-money melalui T-cash bagi pelanggan, Telkomsel berkolaborasi dengan BNI dan ATM Bersama untuk pengisian saldo (cash in) melalui ATM. 

 

Selain itu, kerja sama dilakukan dengan operator seluler lain. Pada 15 Mei lalu, tiga operator seluler, yakni Telkomsel bersama Indosat dan XL, meluncurkan inovasi baru. Wujudnya adalah layanan yang dinamai e-money interoperability (P2P Transfer) atau layanan pengiriman uang elektronik lintas operator yang menjangkau total 230 juta pelanggan. 

 

XL Tunai dan Dompetku Indosat

Dengan kerja sama ini, pelanggan T-cash Telkomsel dapat melakukan transaksi transfer ke pelanggan XL Tunai dari XL maupun ke pelanggan Dompetku dari Indosat. Begitu pula sebaliknya. 

 

Menurut Adita, kini tercatat 13 juta pelanggan T-cash. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, persentasenya peningkatan, mencapai 8% setiap bulan. ''Rata-rata total transaksi yang dilayani T-cash per bulan mencapai tiga juta transaksi,'' katanya. 

 

Untuk mengisi saldo, pelanggan T-cash dapat melakukannya di GraPARI, ATM, Indomaret, dan Akses+ BPR KS dengan nilai nominal hingga Rp 5 juta. Pelanggan juga bisa mengambil uang tunai (cash out) di Indomaret dan Akses+ BPR KS hingga Rp 1 juta. 

 

Kiprah XL dalam transaksi keuangan tanpa wujud uang (e-money), menurut Senior GM M-Finance XL, Yessie Dianty Yosetya, menunjukkan tren positif. Pertumbuhan pelanggan mencapai 18%-22% month on month dan pertumbuhan transaksi 44%-64%. 

 

Provider juga memberikan layanan e-money melalui internet dan SMS banking. ''Layanan ini dapat digunakan untuk mengirim uang, membayar tagihan, membayaran situs online, dan pembayaran pada toko-toko rekanan,'' kata Yessie kepada Umaya Khusniah dari GATRA. 

 

XL juga memiliki produk XL Tunai agar pelanggan dapat memanfaatkan ponsel sebagai tempat simpan uang dengan fitur Uang di HapeKu. Sampai kini, menurut Yessie, penerapan e-money masih pada tahap awal sehingga belum fokus pada laba. 

Cashpay

Sedangkan untuk transaksi di situs jual-beli semacam Kaskus, sistem cash on delivery masih paling populer. Meskipun begitu, menurut Devi Apriani, humas PT Darta Media Indonesia, sebagai pengelola Kaskus, pihaknya mengembangkan sistem transaksi online yang dinamai KasPay. ''Sistem ini merupakan mekanisme pembayaran online untuk para pengguna layanan Kaskus,'' katanya. 

 

Untuk memiliki nomor akun seperti rekening bank, pengguna harus mendaftar di website KasPay. Nomor akun kemudian perlu diisi dana minimal Rp 50.000 hingga Rp 25 juta, agar saldo akun KasPay dapat digunakan untuk pembelian produk-produk yang dijual di merchant KasPay. Pengisian dana secara realtime dapat dilakukan melalui bank-bank yang berkerja sama dengan KasPay. 

 

Untuk segi keamanan, kata Devi, KasPay dilengkapi dengan sistem yang memadai dari sisi aplikasi, database, dan infrastruktur. Dari sisi aplikasi, misalnya, setiap pengguna dilengkapi dengan password untuk log-in. Lalu setiap transaksi membayaran dengan KasPay dilengkapi dengan SMS KasPIN, sehingga kalau ada yang membobol, tetap tidak bisa melakukan transaksi apa pun. 

 

[G.A. Guritno, Flora Libra Yanti, Fitri Kumalasari, Mira Febri Mellya, dan Edmiraldo Siregar] 

(Laporan Utama Majalah GATRA, Beredar Kamis 30 Mei 2013)

---------------------------------------------------------- 

Dapatkan juga di toko digital

Gatra Apps, Wayang Force, Scanie, Scoop, Indobook

 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?