GATRANEWS

Yayasan Fatmawati Bantah Dua Kali Jual Tanah

Jakarta, GATRAnews - Ketua Pengurus Yayasan Fatmawati, Dwi Librianto mebantah tudingan bahwa pihaknya kembali menjual tanah yayasan kepada pihak lain setelah tanah tersebut dijual ke PT Graha Nusa Utama (GNU). "Kami ada kerja sama dengan pihak lain untuk membantu menyelesaikan masalah ini (sengketa tanah-Red.), bukan menjual tanah," kata Dwi saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Tim Pengawas Bank Century DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu, (20/3).

 

Namun demikian, Dwi menbenarkan ada aliran dana dari PT GNU sebesar Rp 25 miliar untuk pengoperan tanah yang tengah jadi sengketa dengan Departemen Kesehatan itu. "Waktu itu uang dari PT GNU Rp 25 miliar untuk pengoperan tanah." Menurutnya, uang sejumlah itu masuk ke rekining Yayasan Fatmawati selama tahun 2003, 2004, dan 2005. Dari dana sebesar itu, Rp 20 miliar masuk ke rekening Fatmawati, sedangkan Rp 5 miliar dipinjam Yohanes Sarwono untuk mengurus status tanah tersebut. "Dana itu masuk selama 2003 samapi 2005, Rp 20 miliar ke yayasan, yang Rp 5 miliarnya dipinjam Sarwono untuk mengurus tanah ini," bebernya.

 

Dwi menjelaskan, Yohanes Sarwono merupakan orang yang membantu dan diberi kuasa untuk membereskan sengketa tanah tersebut dengan Departemen Kesehatan (Depkes). Selain ada sengketa dengan Depkes, pada tahun 2011, Yayasan Fatmawati juga dipanggil Bareskrim Mabes Polri untuk dimintai keterangan adnya dugaan dana yang mengalir dari Robet Tantular kepada PT GNU yang kemudian masuk ke Yayasan Fatmawati.

 

"Kami sudah jelaskan itu, dana tersebut masuk tahun 2003 sampai 2005. Rp 20 miliar ke Fatmawati yang Rp 5 miliar dipinjam Sarwono utk mengurus tanah ini. Waktu itu uang dari GNU 25 miliar untuk pengoperan tanah," paparnya. Dwi menjelaskan Yayasan Fatmawati membangun rumah sakit karena ingin membantu pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Namun sebaliknya, Rumah Sakit Fatmawati dibangun, Depkes akan mengambil alih alih tanah tersebut. "Tanah itu malah mau  diambl lagi. Kami sangat menderita dengan sengkarut ini. RS yang dibangun tahun 1953 itu, untuk pasien TBC pertama di Indonesia. Kami ingin bangun RS lagi dan kami sudah bangun RS kecil di Ciputat," pungkasnya.(IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?