GATRANEWS

Kasus Asian Agri: Kasus Pajak dan Pencucian Uang

Jakarta, GATRAnews - Aparat penegak hukum harus mengungkap dugaan keterlibatan pemilik Asian Agri Grup, Sukanto Tanoto, dalam penggelapan pajak dan pencucian uang yang dilakukan sejumlah karyawannya di beberapa perusahaan.

"Kasus ini bukan hanya kasus pajak, tapi bisa diarahkan ke pencucian uang," kata Meta, wartawan Tempo yang menginvestigasi kasus pajak Asian Agri, dalam diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (18/4).

Menurutnya, indikasi tersebut harus digali penegak hukum, karena penggelapan pajak tersebut kemudian dicuci dan hasilnya masuk ke Sukanto melalui perusahaannya di luar negeri.

Meta menjelaskan, modusnya, ada beberapa transaksi fiktif untuk menghindari pembayaran pajak yang sangat luar biasa karena mencapai puluhan miliar rupiah dalam sehari.

"Saya tidak meneliti semua, tapi hanya sebagian, misalnya transaksi-tarnsaksi fiktif untuk menekan pajak, yang kemudian hasilnya dinikmati dari luar negeri, karena ditransfer ke luar negeri," bebernya.

Salah satu transkasi fiktif itu, imbuh dia, pada 1 November 2004, ditemukan biaya fiktif di 11 perusahaan milik Sukanto yang nilainya sangat besar, yakni mencapai Rp 20,8 miliar dalam sehari.

"Kalau dilihat dari kasusnya, sekilas saja, 1 November 2004, ditemukan biaya fiktif dari 11 perusahaan sebesar Rp 20,8 miliar dalam sehari," ungkapnya.

Setelah itu, dana tersebut masuk ke kedua orang kepercayaan Sukanto. Lalu dana tersebut dikonversi ke dolar dan dikirim lagi ke perusahaan milik Sukanto yang berada di luar negeri. Dari perusahaan yang berada di luar negeri itulah dana tersebut masuk ke Sukanto.

Seperti diberitakan, dalam kasus ini, Mahkamah Agung (MA) menghukum Asian Agri, anak perusahaan milik taipan Sukanto Tanoto. Perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut harus membayar denda Rp 2,5 triliun atas kasus penggelapan pajak. Putusan perkara penggelapan pajak diputuskan sebagai corporate liability (pertanggungjawaban kolektif), yaitu Fucarious Liability (Perusahaan bertanggung jawab atas perbuatan pidana karyawannya).

"MA memutuskan bersalah Asian Agri untuk bayar denda Rp 2,5 triliun. Kasus tersebut dengan terdakwa atas nama Suwir Laut alias Lie Che Sui dengan nomor 2239.K/pid.sus/2012," ujar Kepala Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI, Ridwan Mansyur di Jakarta, Jumat (28/12) tahun lalu.

MA menyatakan, eksekusi kasus Asian Agri yang telah diputus pada tingkat Peninjauan Kembali (PK), kini menjadi tanggung jawab Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sebab, MA telah mengirimkan petikan putusan PK tersebut ke PN Jakarta Pusat.

Kasus penggelapan pajak ini dibongkar oleh Mantan Group Financial Controller Asian Agri,Vincentius Amin Sutanto. Anak perusahaan Raja Garuda Mas ini terbukti merugikan negara Rp 1,4 triliun. Vincentius telah divonis 11 tahun penjara karena dituduh melakukan pencucian uang. (IS)

 

 

 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?