GATRANEWS

Korban Perkosaan Tuntut Keadilan

Jakarta, GATRAnews - Bukan cuma kasus Sunso yang mencerminkan sengkarut penegakan hukum negeri ini, kasus perkosaan dan tindak kekerasan terhadap perempuan berinsial S, 38 tahun, yang dilaporkannnya hampir satu tahun silam, tidak pernah sampai di persidangan.

"Makanya, dengan ini saya mohon perlindungan hukum dan keadilan karena sampai saat ini, saya merasa pemeriksaan terhadap perkara saya sangat lambat, terkesan selalu mengakomodir keinginan tersangka yang mengada-ngada dan tidak proporsional," kata S kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (30/4).

Atas dasar itu, korban mempertanyakan kinerja dan komitmen aparat kepolisian dan kejaksaan yang seolah-olah mempetieskan peristiwa yang sangat menyakitkan tersebut. Pasalnya, setelah peristiwa yang terjadi di apartemennya bilangan Sudirman, Jakarta Pusat itu, tak kunjung terang dan menyeret pelakunya ke meja hijau.

Dikisahkan korban, dirinya melaporkan dugaan perkosaan dan penganiayaan yang dialaminya ke Polda Metro Jaya, pada 3 Mei 2012, dengan tersangka Sanusi Wiradinata. Pelaporan peristiwa saat korban hendak berangkat kerja dari apartemennya itu, dilakukan di hari yang sama dengan kejadian.

"Saat menunggu lift, tiba-tiba tersangka datang dan menyeret saya dengan paksa ke kamar yang berseberangan dengan unit miliknya. Kemudian dengan makian dan kata-kata yang bernada mengancam, menghina, tersangka juga menganiaya, dan melakukan percobaan pemerkosaan terhadap saya," kata perempuan ini, sambil terisak.

Diakui korban, antara dirinya dengan tersangka awalnya terjalin tali kasih. Namun hubungan mereka putus di tengah jalan. Tersangka rupanya tidak menerima diputuskan cinta oleh korban, lalu mencoba melakukan tindakan keji terhadapnya.

"Kejadian tersebut merupakan puncak dari tindakan-tindakan tersangka sebelumnya yang mengancam, mengintimidasi, dan meneror saya dan keluarga melalui pesan singkat," ujarnya.

Sayangnya, kasus ini sudah hampir genap satu tahun namun tak kunjung menemui titik terang. Padahal menurutnya, alat bukti yakni hasil visum dan rekaman CCTV yang didukung dengan keterangan tiga saksi di TKP sangat kuat. Ditambah pelaku juga diciduk oleh polisi di tempat kejadian.

"Namun sampai saat ini berkas perkara saya selalu dikembalikan jaksa ke polisi, bahkan dengan petunjuk yang tidak relevan dan hanya berdasar keterangan tersangka," katanya tersedu-sedu.

Hal ini, kata korban S, bisa dilihat dari keterangan jaksa yang begitu saja percaya kepada keterangan tersangka yang menuding dirinya terganggu kesehatan jiwa. Jaksa pun kemudian memberi petunjuk kepada penyidik untuk melakukan pemeriksaan oleh psikiater.

"Jadi jaksa seakan-akan telah menjadi pengacara dari tersangka Sanusi Wiradinata dan bukannya menegakkan hukum berdasarkan fakta dan saksi yang ada," ujarnya.

Atas dasar itu, korban kemudian meminta Kajati DKI Jakarta Didik Darmanto untuk bertindak secara profesional dan sesuai hukum serta menyatakan berkas perkara lengkap untuk dilimpahkan ke pengadilan.

"Saya selaku korban merasa terzdholimi dan merasa keadilan tidak berpihak kepada saya, karena oknum-oknum tertentu yang seenaknya mempermainkan hukum," pungkasnya. (IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?