GATRANEWS

Korban Perbudakan Minta Perlindungan LPSK

Jakarta, GATRAnews - Puluhan buruh yang menjadi korban perbudakan CV Cahaya Logam milik Yuki Irawan, yang memproduksi wajan di Kampung Bayur Opak, RT 03 RW 06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang, meminta perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Permohonan tersebut disampaikan kuasa hukum dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Selasa, (7/5). "Mereka meminta perlindungan karena keterangan mereka masih sangat diperlukan," kata Kepala Divisi Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) KontraS, Yati Adnriyani, saat mengajukan permohonan puluhan buruh di LPSK, Jakarta.

Selain itu, imbuh dia, meski polisi telah menahan pemilik CV Cahaya Logam dan kaki tangannya, namun permohonan tetap diajukan, mengingat Yuki Irawan disinyalir mempunyai jaringan kuat dengan sejumlah preman. "Maka, kita perlu melindungi mereka," pungkasnya.

Permohonan perlindungan puluhan buruh CV Cahaya Logam itu diterima Anggota LPSK Lili Piantuli. Menurutnya, LPSK akan menindaklanjuti permohonan tersebut.

Sebelumnya, puluhan buruh disekap dan diperbudak oleh Yuki di ruangan sempit yang tidak layak huni. Selama bekerja di industri rumahan itu, puluhan buruh tersebut tidak diberikan upah apalagi Jamsostek, dan hak-hak buruh lainnya, seperti diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan.

Mereka diberi makan dua kali sehari, dan bekerja sekitar 18 jam. Selain tidak diberi upah, para buruh juga mengalami penyiksaan fisik dan psikis. Selama berbulan-bulan mereka tidak berganti pakaian, karena pakaian mereka dirampas sang majikan. Mereka juga disekap di kamar yang pengap yang sangat tidak sehat.

Berbagai perlakuan kasar seperti penamparan, caci maki, bahkan cairan aluminium panas pun kerap mampir di tubuh buruh karena dinilai membangkang perintah pemilik dan kaki tangannya.

Dalam kasus ini, Polesta Tangerang sendiri telah menetapkan status tersangka terhadap Yuki Irawan, atas dugaan kekerasan fisik terhadap 16 buruh, yakni memukul dan menampar dengan tangan, serta mendorong kepala buruh.

Selain itu, polisi juga menetapkan tersangka lainnya, yakni Tedi Sukarno, 35 tahun, karena disangka melakukan kekerasan fisik terhadap 16 buruh, seperti menendang, memukul, menampar, menyundutkan rokok, dan menyiramkan air panas.

Selanjutnya, polisi juga menetapkan Sudirman alias Dirman, 34 tahun, yang diduga melakukan kekerasan fisik terhadap 4 buruh, yakni menampar dan memukul kepala dari belakang. Polisi juga menetapkan Nurdin alias Udin (25) yang disangka menganiaya 5 buruh dengan cara memukul dan menampar. (IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?