GATRANEWS

Primaz, Investasi Emas, Rp. 2,4 Triliun Dibawa Kabur

Jakarta, GATRAnews - Puluhan nasabah PT Peresseia Mazekadwisapta Abadi (Primaz) berbondong-bondong mengunjungi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya (SPKT PMJ), Selasa (21/5) siang. Mereka datang untuk bertanya tentang kelanjutan proses hukum dua pimpinan perusahan yang dilaporkan terkait dugaan kasus penggelapan dana. Yakni Direktur Utama PT Primaz Budi Lasmono dan Direktur Lie Kurniawan. Betapa tidak, dana sebesar Rp 2,4 triliun milik ribuan nasabah dibawah kabur mereka.

 

Kuasa hukum para korban, Angga Herlambang menuturkan, jumlah nasabah yang melaporkan investasi emas bodong untuk saat itu berjumlah 50 orang dengan besarnya investasi berbeda-beda. "Sisanya akan menyusul, para nasabah sengaja melapor karena perusahaan itu tidak memberi kabar kapan pelunasan dana dilakukan," tutur Angga kepada wartawan. Sedangkan total nasabah yang telah berinvestasi, sambungnya, mencapai angka 3.000 orang serta tersebar di 16 kantor cabang PT Primaz di Indonesia. Kantor pusatnya berlokasi di Jalan Letjen Suprapto, Komplek Ruko Mega Grosir Cempaka Mas, Jakarta Pusat. 

 

Sejak November 2011, PT. Primaz berdiri dan menggiatkan misi investasi emas batangan ketimbang uang kertas karena lebih 'menjanjikan.' Tapi tidak gratis, investor yang hendak berinvestasi harus menyetor uang minimal Rp.70 juta serta memperoleh emas 100 gram. Di akhir kontrak, dana nasabah yang pernah disetorkan akan dikembalikan (buy back guarantee) sementara fisik emas fiktif yang diberikan itu selanjutnya ditarik kembali oleh perusahaan.  "Emas yang dibeli ini bersifat fiktif. Nah setiap bulan pasca setoran, nasabah dijanjikan diskon berkala 2,5 persen dari nilai investasi," tutur Angga.

 

Awal-awal menjalankan investasi para nasabah tidak memperoleh kendala pasalnya janji perusahan selalu digelontorkan. Masalah mulai muncul, April 2013 perusahan menguluarkan kebijakan pemotongan diskon dengan dalih merosotnya harga emas baik dipasaran lokal dan internasional.

 

Ditempat yang sama, pengusaha asal Tangerang, FX Andhika Wahyu Adhie, 33 tahun, pun mengungkapkan kerugian yang dideritanya. Angkanya terbilang fantastis mencapai Rp 1,5 miliar. "Awal April 2013 bos PT Primaz sudah tidak bisa dihubungi. Kita tidak tahu kemana dia lari," keluhnya.

 

Atas kejadian tersebut, korban kemudian membuat laporan dengan nomor LP/1634/VI/2013/PMJ/Ditreskrimum tertanggal 17 Mei. Senada dengan Angga, salah satu korban, Lince, 36 tahun, nasabah asal Cirebon menuturkan kerugiannya mencapai Rp. 13 Miliar. "Saya bingung mau nuntut kemana. Saya pikir hanya saya saja korbannya ternyata banyak juga nasabah yang ikut ditipu sama bos-bos Primaz itu," ucapnya lirih. (WFz)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?