GATRANEWS

Polisi Bekuk Sindikat Internasional Pencuri Data Kartu Kredit Indonesia

Jakarta, GATRAnews - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya meringkus empat pelaku tindak pidana pencurian berupa data kartu kredit dan debit, masing-masing SA alias AC, TK alias ACN, FA dan KN. Para pelaku diringkus di beberapa tempat berbeda di wilayah Indonesia."Awal kejadian, ada laporan bahwa para pelaku mengambil data kartu keredit/debit melalui tujuh toko body shop di sekitar Jakarta. Tersebar di  toko Bintaro, Blok M, dan Kelapa Gading," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Rabu (30/5).

 

Rikwanto menuturkan, peratas jaringan komputer yang ada di toko body shop dilakukan oleh sindikat internasional. Dengan menggunakan situs www.topdumpspro.com, www.icq.com dan www.dumps777.com, data dari pemilik kartu kredit yang asli lantas dijual secara umum dalam situs website tersebut. Para pelaku lantas membeli data tersebut dan memindahkannya dalam komputer kemudian digunakan layaknya pemegang kartu kredit yang asli. "Kartu kredit dan debit lalu di kloning dan dikumpulkan dalam satu tempat. Dari nomor-nomor tersebut dipindahkan ke kartu kosong termasuk uangnya bisa diambil dan dibelanjakan dimanapun," urai Rikwanto.

 

Ditempat yang sama, Wakil Direktur Ditkrimsus, AKBP Heri Santoso menambahkan, cara yang digunakan oleh sindikat internasional adalah memasukan sejenis virus kedalam sistem komputer milik toko body shop. Data-data pelanggan toko, lantas di 'hacking' dan diperjual belikan. "Ini dari Amerika, China dan meksiko. Data-data itu dijual ke forum chatting. Para pembeli masuk sebagai komunitas diberikan password lalu membeli dengan harga sekitar US$ 20 sampai US$ 50," tambahnya.

 

Peran yang dilakukan oleh empat tersangka inipun berbeda-beda. FA dan KN yang ditangkap di Siduardjo, Jawa Timur diketahui sebagai resedivis tindak pidana yang sama dan sebagai otak komplotan. Berperan sebagai penyedia bahan pembuatan kartu curian dan mengirimkan kepada SA. Sedangkan SA dan TK selain sebagai pembeli berperan mencetak kartu kredit palsu dan mengisi data (encode) kartu tersebut menggunakan alat encoder. "Dua tersangka terakhir ditangkap di Pekanbaru, Medan. Dan merupakan pasangan suami istri," lanjut Rikwanto lagi.

 

Atas perbuatannya, para pelaku diancam dengan pasal berlapis yakni tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan pencucian uang sebagaimana diatur dalam pasal 363 KUHP dan pasal 31 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 3 dan pasal 5 UU No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pembeantasan tindak pidana pencucian uang dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara. (WFz)

 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?