GATRANEWS

Korupsi BLBU: Irjen Kementan Dicecar Soal Audit PT HNW

 

Jakarta, GATRAnews - Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), R Aziz Hidayah dicecar soal pelaksanaan tugas dalam mengaudit pelaksanaan kegiatan PT Hidayah Nur Wahana (HNW) atas realisasi kasus dugaan korupsi Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) Paket 1 tahun 2012 senilai Rp 209, 8 miliar. 

 

"Saksi Aziz Hidayah diperiksa terkait tugas dalam mengaudit PT HNW atas realisasi BLBU Paket 1 tahun 2012 kepada petani," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Setia Untung Arimuladi di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin, malam, (29/7/2013).

 

Untung menjelaskan, hari ini tim penyidik pidana khsusus memeriksa 8 orang saksi dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, termasuk R Aziz Hidayah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Fahmi; Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi BLBU Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2012, Dhani Permadi.

 

Kemudian, Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi BLBU Provinsi Riau tahun 2012, Bambang Budhiyanto;

 

Evaluasi BLBU Provinsi Bangka Belitung tahun 2012, Gempur Aditya; Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi BLBU Provinsi Jambi tahun 2012, Feroza Sulfia; Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi BLBU Provinsi Bengkuli tahun 2012, Sigit Setiawan; dan Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi BLBU Provinsi Sumatera Selatan tahun 2012, Warsito Hadi.

 

Adapun saksi Fami, kata Untung, diperiksa terkait pelaksanaan BLBU paket 1 tahun 2012 kepada para petani, termasuk pencairan uang untuk PT HNW selaku pemenang kegiatan tersebut.

 

Sedangkan saksi lainnya, yakni Dhani Permadi, Bambang Budhiyanto, Gempur Aditya, Feroza Sulfia, Sigit Setiawan, dan Warsito Hadi diperiksa mengenai kegiatan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan BLBU Paket 1 tahun 2012 dari awal sejak akhir di setiap provinsi masing-masing yang manjadi tanggung jawab saksi, termasuk laporan dan evaluasi dari pelaksanaan tersebut.

 

Dalam kasus ini, Kejagung telah menetapkan dua orang tersangka, yakni Direktur Utama PT Hidayah Nur Wahana (HNW), Trisno; dan Pimpinan Produksi PT HNW, Mahfudi Husodo. Dirut PT HNW ditetapkan sebagai tersangka dan penyidik telah melakukan penggeledahan di sejumlah tempat, yakni rumah milik Mahfud Husodo di bilangan Jalan Kopu Berlian, Kelurahan Tegal, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur.

 

Kemudian, penyidik juga menggeledah kantor PT HNW di Griya Mutiara, Blok A/2 Baturejo, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

 

Dari penggeledahan tersebut, penyidik menyita sejumlah dikumen dan surat yang dianggap mempunyai hubungan dengan kasus ini, serta menyita benda bergerak dan tidak bergerak.

 

Karena sejak awal Mahfud Husodo tidak koperatif, penyidik menggelandangnya ke Kejaksaan Agung untuk melakukan penahanan selama 20 hari di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, sejak 19 Juni hingga 7 Agustus 2013.

 

"MH ditahan sesuai surat perintah penahanan no: print-14/F.2/Fd.07/2013, tanggal 19 Juni 2013," ujar Untung.

 

Dugaan korupsi itu menurut jaksa, ada penyimpangan dalam penyaluran BLBU berupa padi lahan kering, padi hibrida, padi non hibrida, dan kedelai diduga tidak sesuai varietasnya, kurang volume dalam realisasinya serta beberapa pelaksanaan yang fiktif.

 

Proyek pengadaan benih itu akan ditebar untuk Paket I, yakni wilayah Aceh, Sumatra Barat, Bengkulu, Medan. Dari hasil penyelidikan ditemukan bukti permulaan yang cukup dan akan dikroscek ke lapangan pengadaan barang yang fiktif dan yang tidak sesuai dengan tender. (IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?