GATRANEWS

Dirjen Tanaman Pangan Kementan Jadi Tersangka Korupsi Lampu Hama

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menetapkan lima tersangka, di antaranya berinisial UKS, Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), dalam kasus korupsi pengadaan proyek light trap (lampu pengusir hama), di kementerian tersebut.

"Dari pengembangan, melibatkan beberapa orang yang menurut kami sudah sangat layak jadi tersangka," kata Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Rabu (19/2), dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan.

Kelima orang yang baru ditetapkan sebagai tersangka tersebut, imbuh Adi, terdiri dari pihak Kementan, yakni UKS (Dirjen Tanaman Pangan Kementan) dan EB (salah satu direktur di Ditjen Tanaman pangan). Sedangkan tiga tersangka lainnya, masing-masing MS (pihak swasta), SCR (pihak perusahaan yang menghubungkan Mitra Argo), dan  MAS.

Sebelum menetapkan lima tersangka, kata Adi, penyidik telah menetapkan 10 tersangka, yakni AW selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek ini dan merupakan pejabat di Kementan. Kemudian AS selaku Ketua ULP, dan HAN selaku ketua Pokja pengadaan.

"Berkaitan dengan itu juga, kita libatkan tersangka dari pabrikan, yakni IM selaku manejer PT Arief. AI, sebagai pimpinan PT Fomitra. AN, Direktur PT Prima Sejahtera. J, Dirut PT Andalan Duta Persada. AS, Direktur PT Purna Darma. MY, Direktur PT Parsindo Danatama, dan BA, Direktur CV Hanindra Karya," absen Adi.

Menurutnya, anggaran proyek pengadaan lampu pengusir hama di Kementan yang anggarannya mencapai Rp 135 milyar 156 juta. Kasus tindak pidana korupsi ini telah disidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta sejak tanggal 26 September 2013 lalu.

"Dalam proses itu, penyidikan ini awalnya kami menetapkan 10 orang tersangka. Sekaligus dalam proses penyidikan 10 orang ini, penyidikan dan perkembangannya didapat fakta hukum yang melibatkan beberapa orang lain," bebernya.

Berdasarkan hasi penyidikan atas ke-10 tersangka tersebut, maka ke-5 orang yang baru ditetapkan sebagai tersangka itu, karena telah memenuhi kualitas pembuktian adanya 2 alat bukti permulaan yang cukup, sehingga tersangka dalam perkara ini bertambah lagi sebanyak 5 orang.

Mereka dijerat Pasal 2 dan 3 Undang-Undang nomor 20 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 KUHP.  "Mereka belum ditahan," ujar Adi.

Penyidik sendiri telah menyita sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil mewah, Jeep Wrangler Rubicon dan uang tunai Rp 6 milyar. Namun, Adi tidak menjelaskan apakah barang bukti tersebut merupakan hasil suap atau pencucian uang. (IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?