GATRANEWS

Polisi Belum Pastikan, Firman Terlibat Kelompok Teroris
Friday, 22 August 2014

Jakarta, GATRAnews-Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan bahwa...
Kibarkan Bendera ISIS, Warga Depok Diciduk
Friday, 22 August 2014

Jakarta, GATRAnews-Seorang warga Depok, Firman Hidayat diciduk oleh pihak berwajib di kediamannya,...
Setelah Divonis 5 Tahun, Wawan Jadi Tersangka Korupsi
Friday, 22 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Setelah diganjar 5 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi karena...
IPW: Periksa Kelengkapan Izin Mobil Paramiliter Pendukung Prabow-Hatta!
Friday, 22 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Polri harus segera memeriksa harus dan menindak pemilik 3 truk paramiliter...
IPW: Sikap Polisi Terhadap Pendukung Prabowo Sudah Tepat
Friday, 22 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai, langkah...
Tot Pengembangan Karakter Wirausaha Muda di Yogya
Friday, 22 August 2014

  Yogyakarta, GATRAnews – Deputi Bidang Pengembangan Pemuda, Sakhyan Asmara hari Rabu (20/8)...
Paskibraka Diterima Panglima TNI
Friday, 22 August 2014

  Jakarta, GATRAnews – Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Sakhyan Asmara pada hari Senin (18/8)...
Pendukung Prabowo Tewas Ditembak? Polisi: Hoax!
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Isu adanya seorang pengunjuk rasa dari Gerakan Laskar Relawan Prabowo (GRPro)...
Usut Korupsi Puskesmas, Kejagung Periksa 2 Petinggi Perusahaan
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung menjadwalkan pemeriksaan dua petinggi...
Tobas: Beberapa Alasan MK Takkan Kabulkan Gugatan Prabowo
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Pasangan presiden-cawapres terpilih berdasarkan rekapitulasi suara Komisi...
Jokowi Tak Gentar Prabowo Menggugat di Mana-mana
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Pasangan presiden-wakil presiden terpilih berdasarkan rekapitulasi suara...
Hakim MK Tak Mungkin Baca Semua Dokumen
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Has Natabaya, mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), meyakini bahwa hakim...
Jika Ingin Menang, Prabowo-Hatta Harus Buktikan Semua Kecurangan
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa harus bisa membuktikan seluruh unsur...
Setelah Bonaran, KPK Incar Pilgub Jatim
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengisyaratkan akan segera mengungkap 14...
Fahri Bantah Terima US$ 25 Ribu dari Nazaruddin
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Fahri Hamzah membantah menerima uang sejumlah...
KPK Bakal Periksa Ketua DPR RI Soal Dana US$ 1 Juta dari Nazaruddin
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan melakukan penyelidikan untuk mengusut...
LPSK: Implementasi PP Aborsi Harus Cermat
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menilai, aborsi merupakan hak...
Pejabat Kejari Tangerang Terancam Pidana dan Sanksi Kode Etik
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Tim Jaksa di Jaksa Agung Muda Pengawasan, Kejaksaan Agung, tengah memproses...
MK Harus Putus Pilpres Sesuai Keterangan Saksi dan Bukti
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Peneliti Flobamora Institute Alfons Loemau, di Jakarta, Rabu (20/8),...
Ada Tiga Opsi Putusan MK Atas Gugatan Prabowo
Thursday, 21 August 2014

Jakarta, GATRAnews - Mantan Hakim Konstitusi Has Natabaya memprediksi, ada tiga kemungkinan putusan...

Rumor Pembantai Lapas Cebongan Beredar di Facebook

Jakarta, GATRAnews - Beredar isu bahwa pelaku penyerangan dan pembantaian 4 tahanan di Lembaga Pemasyarakat Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilakukan oleh oknum aparat kepolisian. Isu tersebut beredar setelah seseorang yang mengaku bernama Idjon Djanbi memposting cerita versinya melalui situs jejaring sosial, facebook, kemarin yang tercatat pukul 11.59 am, seperti yang diterima GATRAnews Sabtu dinihari, (30/3).

 

Berdasarkan rangkaian cerita yang diposting Idjon Djanbi berjudul "Pelaku Penyerangan LP Sleman Adalah Aparat Kepolisian" itu, menuturkan kronologis mulai dari siapa keempat yang tewas di dalam LP Cebongan, perselisihan di Hugos Cafe, serta sejumlah kejanggalan penanganan kasus pengeroyokan hingga tewasnya anggota Kopassus.

 

"Sebelum kita membahas permasalahan yang sebenar-benarnya, saya akan menjelaskan secara singkat, siapa sebenarnya 4 orang yang disiksa, kemudian ditembak di LP Cebongan, Sleman," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu. Menurutnya, Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan, adalah anggota Polresta Yogyakarta berdinas di Polsekta Yogya yang baru dibebaskan oleh satuannya, karena menjadi bandar Narkoba, termasuk pemasok utama Hugos Cafe dan Bosse.

 

Korban kedua, Benyamin Sahetapy alias Decky adalah residivis yang baru keluar dari penjara akibat melakukan pembunuhan terhadap warga Papua di Yogyakarta. Decky merupakan pengurus Ormas Komando Inti Keamanan (Kotikam) dan bekerja sebagai keamanan beberapa tempat hiburan, debtcollector, dan ketua preman di Yogya. Selain itu, Decky juga pemasok Narkoba ke beberapa tempat hiburan di Yogya dari sejumlah bandar Narkoba di kota ini, termasuk di antaranya dari beberapa oknum anggota Polda DIY. Sedangkan korban ketiga dan keempat, yakni Adrianus Chandra Galaja alias Dedy dan Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi, keduanya merupakan anak buah dari Bripka Juan dan Decky. Keduanya juga anggota Ormas Kotikam.

 

Idjon Djanbi mengatakan, Ormas Kotikam tersebut diketuai oleh Rony Wintoko itu, kerap membuat keributan di Yogyakarta, selain mengedarkan Narkoba, beberapakali melakukan tindakan kriminal penganiayaan dan pembunuhan. "Kelompok ini pernah melakukan penganiayaan yang berujung kematian terhadap mahasiswa asal Bali dan anggotanya yang bernama Joko dkk melakukan pengeroyokan terhadap anggota Yonif-403 Yogya, serta penikaman terhadap mahasiswa asal Timor leste," tulis Idjon Djanbi.

 

Puncaknya, kejadian penganiayaan di Hugos Cafe, Maguwoharjo Depok, Sleman, DIY, yang di lakukan oleh kelompok Ormas Kotikam terhadap anggota personel Kopassus, Sertu Santoso hingga meninggal Dunia. Setelah divisum, penyebab kematian korban akibat luka benda tumpul di bagian kepala, luka tusukan, dan bacokan benda tajam 23 cm di dada sebelah kiri, serta 6 rusuk patah.

 

Seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu menceritakan 20 kronologis kejadian versinya, di antaranya, pertama; Kejadian bermula, Selasa, (19/3), pukul 00.40 WIB, korban datang ke Hugos Cafe bersama seorang rekannya. Kemudian, terjadi keributan antara korban dengan Dedy alias Adrianus Chandra Galaja. Atas keributan tersebut, Dedy menghubungi Bripka Juan, Decky, dan Adi di asrama Polresta Yogyakarta. Lalu Mereka mendatangi Hugos Cafe. Sesampainya di Hugos, Decky menanyakan identitas korban. “Kamu dari mana?", dan korban menjawab, “Saya anggota Kopassus.”

 

Saat itu, imbuh Idjon Djanbi, yang paling dekat dengan korban adalah Bripka Juan, Dedy di sebelah kiri korban, dan Adi di sebelah kanannya. Decky menantang korban berkelahi sambil melemparkan asbak ke arah korban. Decky kemudian masuk ke dalam cafe dan keluar lagi serta langsung memukul pelipis korban menggunakan botol yang ada di meja di depan korban. Saat korban terhuyung dan akan tersungkur, Dedy menikam korban di bagian dada sebelah kiri. Dedy kemudian melarikan diri.

 

"Saat korban jatuh, 3 orang tidak dikenal, diperkirakan anggota Polri, karena datang bersama dengan Bripka Juan dari Asrama Polresta Yogyakarta, menendang dan memukul korban yang sudah terkapar. Melihat tersebut, Bripka Juan berteriak, 'Tolong dibawa'. Ketiga orang tersebut menyeret korban dengan menarik bagian kaki. Dan pada saat kejadian tersebut, banyak anggota Polda Yogya yang berkunjung ke Hugos cafe. Selanjutnya korban dibawa oleh security menuju RS Bethesda menggunakan taksi, saat dalam perjalanan Korban meninggal dunia. Dengan mengalami luka," bebernya.

 

Dilihat dari nama akun Facebooknya, jelas terlihat Idjon Djanbi merupakan nama alias. Betapa tidak, nama Idjon Djanbi sangat terkenal di kalangan komando pasukan khusus. Idjon Djanbi adalah pria kelahiran Kanada pada 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser, mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan menjadi Komandan Kopassus Indonesia pertama.

 

Seperti disebutkan dalam situs wikipedia, pengalaman Idjon Djanbi sebagai anggota pasukan komando pada Perang Dunia II telah menarik perhatian Kolonel A.E. Kawilarang untuk membantu merintis pasukan komando. Idjon Djanbi kemudian aktif di TNI dengan pangkat Mayor. Idjon segera melatih kader perwira dan bintara untuk menyusun pasukan. Kemudian pada tanggal 16 April 1952 dibentuklah pasukan istimewa tadi dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi (Kesko TT. III/Siliwangi) dengan Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi sebagai komandannya. 

 

Lantas, apa maksud sang penyebar isu ini mengambil nama Idjon Djabi sebagai akun Facebook-nya? Walau begitu, tampak jelas, Idjon memiliki akses yang lebih banyak terhadap kasus pembantaian Lapas Cebongan. Di dalam akun tersebut, Idjon samaran ini, menampilkan juga foto-foto korban lengkap dengan hasil penyidikan. Terlihat juga jika Idjon memang paham benar dengan seluk beluk gerakan dan operasi militer. Belum jelas benar apakah itu diambil dari data resmi atau bukan. Yang jelas, hingga kini, dunia maya heboh dengan data-data yang disebarkan. Sebagian dari mereka membantahnya dengan versi tersendiri. Sejumlah organisasi yang disebut-sebut, seperti Kotikam juga membantahnya. Tetapi yang setuju juga tidak sedikit. 

 

Tentu saja ini menjadi tugas aparat untuk menyidiknya. Untuk mengkonfirmasi isu tersebut, GATRAnews telah menghubung Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Boy Rafli dan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Suhardi Alius melalui telepon selularnya. Namun keduanya tidak mengangkat panggilan tersebut. (IS,NHi)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?