GATRANEWS

Kejagung Bekuk Terpidana Pemalsuan Merek di Bandara Soeta
Tuesday, 21 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Tim Intelijen Kejaksaan Agung dan Tim Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Riau...
Menpora Hadiri Pembukaan Asian Paragames di Incheon
Monday, 20 October 2014

Incheon, GATRAnews – Menpora Roy Suryo didampingi Istrinya Ismarindayani Priyanti hari Sabtu...
Rumah Sakit Olahraga Nasional Harus Dijaga
Monday, 20 October 2014

Jakarta, GATRAnews – Menpora Roy Suryo hari Jumat (17/10) sore meninjau stand pameran Rumah Sakit...
Mayat Wanita Dalam Mobil Penuh Luka Masih Misterius
Sunday, 19 October 2014

Cianjur, GATRAnews - Penemuan mayat wanita di dalam bagasi mobil merk Toyota Avanza warna putih...
Polisi Bebaskan Pemilik Jutaan Dolar Amerika Palsu
Saturday, 18 October 2014

Pekanbaru, GATRAnews - Aparat Kepolisian Resor Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, membebaskan NS,...
MAKI Sarankan KPK Buat 3 Kriteria Calon Menteri
Saturday, 18 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) menyarankan Komisi Pemberantasan...
Ibas Disebut Tokoh Besar yang Bakal ''Diambil'', Abraham Tersenyum
Saturday, 18 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, di Jakarta, Jumat...
KPK Terus Dalami Dugaan Kasus Setya Novanto
Saturday, 18 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami indikasi dugaan...
KPK Selidiki Keterangan Annas Soal Zulkifli Hasan
Saturday, 18 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan kasus korupsi pengajuan...
Annas: Zulkifli Hasan Rekomendasikan Perubahan Fungsi Hutan
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Annas Maamun, Gunernur Riau yang menjadi tersangka kasus korupsi alih fungsi...
Airin Hormati Proses Hukum Kasus Keluarganya
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmy Dyani mengaku menghormati proses...
Berantas Narkotika, Kampus Lain Harus Berani Lakukan Operasi
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews-Kepala Bagian Humas BNN Pusat, Komisaris Besar Polisi Sumirat angkat bicara...
Lagi, Unas Lakukan Operasi Pemberantasan Narkotika
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews-Pihak Universitas Nasional (Unas) kembali melakukan operasi pemberantasan...
Sopir Bus Harapan Jaya Diperiksa di Polres Sidoarjo
Friday, 17 October 2014

Sidoarjo, GATRAnews - Penyidik Kepolisian Resor Sidoarjo, Jawa Timur, memeriksa Teguh Hariyanto,...
Ahmad Yani: Busyro Bisa Saja Dipilih Kembali
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Mantan anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani mengatakan, Komisi III DPR RI bisa...
Kasus Kejahatan Menggunakan Senpi Meningkat
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews-Angka kejahatan di kota-kota besar rupanya semakin meningkat. Jika dulu pelaku...
Penghargaan untuk Tinton Suprapto
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews – Menpora Roy Suryo Hari Rabu (15/10) siang di Media Center Kemenpora memberi...
Kasus Korupsi Bus TJ, Lima Pejabat Diperiksa
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung memeriksa lima pejabat Pemerintah...
Saksi Ditanya Soal Surat Mutu Bibit Kopi Seindonesia
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung memeriksa Suryo Wardani, mantan Kepala...
Capim KPK Serahkan Busyro dan Roby ke SBY
Friday, 17 October 2014

Jakarta, GATRAnews - Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel Capim...

Rumor Pembantai Lapas Cebongan Beredar di Facebook

Jakarta, GATRAnews - Beredar isu bahwa pelaku penyerangan dan pembantaian 4 tahanan di Lembaga Pemasyarakat Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilakukan oleh oknum aparat kepolisian. Isu tersebut beredar setelah seseorang yang mengaku bernama Idjon Djanbi memposting cerita versinya melalui situs jejaring sosial, facebook, kemarin yang tercatat pukul 11.59 am, seperti yang diterima GATRAnews Sabtu dinihari, (30/3).

 

Berdasarkan rangkaian cerita yang diposting Idjon Djanbi berjudul "Pelaku Penyerangan LP Sleman Adalah Aparat Kepolisian" itu, menuturkan kronologis mulai dari siapa keempat yang tewas di dalam LP Cebongan, perselisihan di Hugos Cafe, serta sejumlah kejanggalan penanganan kasus pengeroyokan hingga tewasnya anggota Kopassus.

 

"Sebelum kita membahas permasalahan yang sebenar-benarnya, saya akan menjelaskan secara singkat, siapa sebenarnya 4 orang yang disiksa, kemudian ditembak di LP Cebongan, Sleman," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu. Menurutnya, Bripka Yohanis Juan Manbait alias Juan, adalah anggota Polresta Yogyakarta berdinas di Polsekta Yogya yang baru dibebaskan oleh satuannya, karena menjadi bandar Narkoba, termasuk pemasok utama Hugos Cafe dan Bosse.

 

Korban kedua, Benyamin Sahetapy alias Decky adalah residivis yang baru keluar dari penjara akibat melakukan pembunuhan terhadap warga Papua di Yogyakarta. Decky merupakan pengurus Ormas Komando Inti Keamanan (Kotikam) dan bekerja sebagai keamanan beberapa tempat hiburan, debtcollector, dan ketua preman di Yogya. Selain itu, Decky juga pemasok Narkoba ke beberapa tempat hiburan di Yogya dari sejumlah bandar Narkoba di kota ini, termasuk di antaranya dari beberapa oknum anggota Polda DIY. Sedangkan korban ketiga dan keempat, yakni Adrianus Chandra Galaja alias Dedy dan Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi, keduanya merupakan anak buah dari Bripka Juan dan Decky. Keduanya juga anggota Ormas Kotikam.

 

Idjon Djanbi mengatakan, Ormas Kotikam tersebut diketuai oleh Rony Wintoko itu, kerap membuat keributan di Yogyakarta, selain mengedarkan Narkoba, beberapakali melakukan tindakan kriminal penganiayaan dan pembunuhan. "Kelompok ini pernah melakukan penganiayaan yang berujung kematian terhadap mahasiswa asal Bali dan anggotanya yang bernama Joko dkk melakukan pengeroyokan terhadap anggota Yonif-403 Yogya, serta penikaman terhadap mahasiswa asal Timor leste," tulis Idjon Djanbi.

 

Puncaknya, kejadian penganiayaan di Hugos Cafe, Maguwoharjo Depok, Sleman, DIY, yang di lakukan oleh kelompok Ormas Kotikam terhadap anggota personel Kopassus, Sertu Santoso hingga meninggal Dunia. Setelah divisum, penyebab kematian korban akibat luka benda tumpul di bagian kepala, luka tusukan, dan bacokan benda tajam 23 cm di dada sebelah kiri, serta 6 rusuk patah.

 

Seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu menceritakan 20 kronologis kejadian versinya, di antaranya, pertama; Kejadian bermula, Selasa, (19/3), pukul 00.40 WIB, korban datang ke Hugos Cafe bersama seorang rekannya. Kemudian, terjadi keributan antara korban dengan Dedy alias Adrianus Chandra Galaja. Atas keributan tersebut, Dedy menghubungi Bripka Juan, Decky, dan Adi di asrama Polresta Yogyakarta. Lalu Mereka mendatangi Hugos Cafe. Sesampainya di Hugos, Decky menanyakan identitas korban. “Kamu dari mana?", dan korban menjawab, “Saya anggota Kopassus.”

 

Saat itu, imbuh Idjon Djanbi, yang paling dekat dengan korban adalah Bripka Juan, Dedy di sebelah kiri korban, dan Adi di sebelah kanannya. Decky menantang korban berkelahi sambil melemparkan asbak ke arah korban. Decky kemudian masuk ke dalam cafe dan keluar lagi serta langsung memukul pelipis korban menggunakan botol yang ada di meja di depan korban. Saat korban terhuyung dan akan tersungkur, Dedy menikam korban di bagian dada sebelah kiri. Dedy kemudian melarikan diri.

 

"Saat korban jatuh, 3 orang tidak dikenal, diperkirakan anggota Polri, karena datang bersama dengan Bripka Juan dari Asrama Polresta Yogyakarta, menendang dan memukul korban yang sudah terkapar. Melihat tersebut, Bripka Juan berteriak, 'Tolong dibawa'. Ketiga orang tersebut menyeret korban dengan menarik bagian kaki. Dan pada saat kejadian tersebut, banyak anggota Polda Yogya yang berkunjung ke Hugos cafe. Selanjutnya korban dibawa oleh security menuju RS Bethesda menggunakan taksi, saat dalam perjalanan Korban meninggal dunia. Dengan mengalami luka," bebernya.

 

Dilihat dari nama akun Facebooknya, jelas terlihat Idjon Djanbi merupakan nama alias. Betapa tidak, nama Idjon Djanbi sangat terkenal di kalangan komando pasukan khusus. Idjon Djanbi adalah pria kelahiran Kanada pada 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser, mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan menjadi Komandan Kopassus Indonesia pertama.

 

Seperti disebutkan dalam situs wikipedia, pengalaman Idjon Djanbi sebagai anggota pasukan komando pada Perang Dunia II telah menarik perhatian Kolonel A.E. Kawilarang untuk membantu merintis pasukan komando. Idjon Djanbi kemudian aktif di TNI dengan pangkat Mayor. Idjon segera melatih kader perwira dan bintara untuk menyusun pasukan. Kemudian pada tanggal 16 April 1952 dibentuklah pasukan istimewa tadi dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi (Kesko TT. III/Siliwangi) dengan Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi sebagai komandannya. 

 

Lantas, apa maksud sang penyebar isu ini mengambil nama Idjon Djabi sebagai akun Facebook-nya? Walau begitu, tampak jelas, Idjon memiliki akses yang lebih banyak terhadap kasus pembantaian Lapas Cebongan. Di dalam akun tersebut, Idjon samaran ini, menampilkan juga foto-foto korban lengkap dengan hasil penyidikan. Terlihat juga jika Idjon memang paham benar dengan seluk beluk gerakan dan operasi militer. Belum jelas benar apakah itu diambil dari data resmi atau bukan. Yang jelas, hingga kini, dunia maya heboh dengan data-data yang disebarkan. Sebagian dari mereka membantahnya dengan versi tersendiri. Sejumlah organisasi yang disebut-sebut, seperti Kotikam juga membantahnya. Tetapi yang setuju juga tidak sedikit. 

 

Tentu saja ini menjadi tugas aparat untuk menyidiknya. Untuk mengkonfirmasi isu tersebut, GATRAnews telah menghubung Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Boy Rafli dan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Suhardi Alius melalui telepon selularnya. Namun keduanya tidak mengangkat panggilan tersebut. (IS,NHi)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?