GATRANEWS

Ahok Bantah Amankan Posisi Demi 2017
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus melakukan bersih-bersih...
Kejagung Isyaratkan Takkan Mendeponering Kasus Abraham Samad
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung mengisyaratkan tidak akan mendeponering atau mengesampingkan...
100 PHL dan Mandor Dinas Kebersihan Dipecat
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 100 orang pekerja harian lepas (PHL) dan pengawas (mandor) PHL di...
Kuasa Hukum Berharap Pengadilan Bebaskan Eks Cabup-Cawabup Lebak
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Posma Sabam Manahan, kuasa hukum bekas pasangan calon bupati dan wakil bupati...
Ahok Tantang PNS Kirim Guna-guna untuk Dirinya
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 91 pejabat struktural Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta...
Antam Operasikan Oxygen Plant di Pabrik Feronikel Pomalaa
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) mulai mengoperasikan Oxygen Plant No....
Kementerian PUPR Gandeng Belanda dan Korsel Bangun Tanggul Laut
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggandeng Pemerintah...
Menaker Hanif: Job Fair Mempercepat Penyerapan Pengangguran
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri  secara resmi membuka acara Pameran...
Berkas Suap Cabup-Cawabup Lebak di KPK Sudah Lengkap
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Berkas perkara suap sengketa Pilkada Lebak, Banten, di Mahkamah Konstitusi...
Hari Pelanggan, Direksi BRI Turun Langsung Layani Nasabah
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Hari Pelanggan Nasional pada 4 September ini, menjadi momentum bagi Bank BRI...
Agung Podomoro Land Rayakan Hari Pelanggan di Vimala Hills
Friday, 04 September 2015

Bogor, GATRAnews - Pengembang properti PT Agung Podomoro Land Tbk turut merayakan hari pelanggan...
Kejagung Koordinasi PPATK Soal Rekening ''Gendut'' Gubernur Sultra
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung (Kejagung) masih berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan Analisis...
Ahok: Saya Tidak mau PNS Patah Semangat
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melantik 327 pejabat struktural...
Ini 10 Isu Prioritas yang Diperjuangkan KPP RI
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Kaukus Perempuan Parlemen RI (KPP RI) mengadakan jumpa pers terkait...
Harga Minyak Indonesia Turun US$ 9 per Barel
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, berdasarkan hasil perhitungan Formula...
Kejagung Masih Akan Periksa Dahlan Terkait Mobil Listrik
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung masih akan memeriksa mantan Menteri...
Hari Pelanggan, BNI Berikan Kartu BNI Tap Cash kepada 70 Nasabah
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memberikan kartu BNI Tap Cash...
Kapolri Bantah Pergantian Buwas Intervensi Istana
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews-Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membantah dimutasinya Kepala Badan Reserse dan...
Tulis Status Tersangka, Sikap Jamintel Kejagung Dipertanyakan
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews-Sikap Kejaksaan Agung (Kejagung) menulis status tersangka dalam surat pencegahan...
Ini 'Pekerjaan Rumah' Kabareskrim Baru
Friday, 04 September 2015

Jakarta, GATRAnews-Teka-teki pencopotan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komisaris...

PENA 98: Tulisan Idjon Djanbi di Facebook Soal Cebongan, Masuk Akal

Jakarta, GATRAnews - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Adian Napitupulu menilai, pemaparan kronologis dan berbagai analisis kasus penyerangan dan pembantaian 4 tahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang diposting "Idjon Djanbi" di Facebook (FB) logis dan patut dipertimbangkan. "Tulisan Idjon Djanbi di FB, apapun motifnya, benar atau tidak isinya, tapi berbagai analisa dalam penulisan cukup logis dan meyakinkan, ditambah lagi peristiwa ditulis secara kronologis dan detail," nilai Adian di Jakarta, Sabtu, (30/3).

 

Menurutnya, kronolgis dan analisis itu semakin menyakinkan karena Idjon Djonbi memperkuatnya dengan menyertakan banyak foto, termasuk foto-foto korban yang ditembak dalam sel di LP Sleman, yang tentunya foto-foto tersebut tentunya sulit didapat orang awam. Kalau Idjon Djanbi itu sekedar menyebar fitnah melalu facebook, imbuh Adian, maka yang tersinggung tentu bukan hanya Polri, tapi juga Kopasus karena Idjon Djanbi adalah nama pendiri Kopasus yang jika digunakan cuma untuk menyebar Fitnah dan adu domba, tentu membuat prajurit Kopasus meradang.

 

Lebih lanjut Adian menerangkan, menurut Wikipedia, Idjon Djanbi yang bernama asli Rokus Bernardus Visser, lalu merubah nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, merupakan komandan RPKAD yang kemudian bersulih nama menjadi Koprs Pasukan Khusus (Kopasus). Menurutnya, nama Idjon Djanbi di Facebook merupakan nama samaran orang yang menulis versi mengagetkan terkait penyerangan LP Sleman di Facebook yg isinya menyatakan, bahwa penyerangan LP Sleman dilakukan aparat kepolisian terkait persaingan kartel narkoba.

 

Menurut Adian, siapapun bisa mecurigai motif penulis di facebook tersebut, namun dalam keremangan kasus ini, maka baiknya Polri, Kopasus, dan Komnas HAM jangan tergesa gesa anti terhadap seluruh isi Facebook itu, tapi memandangnya sebagai pengkayaan informasi dalam penyidikan. "Walau kebenaran info itu hanya 1%, tetaplah itu info yang berharga. Baiknya jadikan FB itu motivasi untuk lakukan penyidikan yang cepat dan terbuka agar tidak muncul tafsir dan spekulasi," tandasnya.

 

Dalam penegakan hukum, ujar Adian, prioritas penyidikan, adalah menyidik kebenaran isi tulisan atau informasi dalam facebook tersebut, dibanding mengusut penulisnya. "Jika kemudian dalam persidangan yang adil dan terbuka terkait kasus LP Sleman ternyata isi FB itu seluruhnya bohong dan murni bermotif adu domba, maka barulah diperlukan langkah hukum dari Polri maupun Kopasus terhadap penulis FB itu," pungkasnuya.

 

Perlu diketahui, dalam tulisan yang diposting Idjon Djanbi melalui facebook tersebut, setelah menyampaikan kronoligis kejadian, kemudian memberikan ulasan. Berikut sebagian cuplikan dari kronoligis insiden Cebongan. "Berdasarkan kejadian dan keterangan kepolisian terdapat banyak kejanggalan, di antaranya," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu: 

 

1. Bripka Juan tidak terlibat pada kasus pengeroyokan Serka Santoso di Hugos Cafe Yogya, justru Bripka Juan yang melerai dan menolong korban, jadi tidak ada alasan kekhawatiran dari pihak Polda Yogya bahwa ada tindakan balasan dari Kopassus atas kejadian tersebut. Situasi ini sengaja diciptakan sendiri oleh Polda Yogya, dan tidak ada alasan Kopassus mengincar Bripka Juan. Di kalangan Polresta dan Brimob Yogya, Bripka Juan kurang disukai oleh rekan rekannya.

 

2. Polda Yogya telah berbohong, dengan mengatakan, bahwa Bripka Juan adalah pecatan, terbukti Bripka Juan disidang pemecatan dilakukan setelah pengeroyokan di Cafe Hugos. Dan sidang berlangsung hanya 5 menit, 15 menit sebelum dipindahkan ke LP Sleman. Menanggapi Sidang pemecatan tersebut, Bripka Juan mengatakan, "saya juga penyidik, saya tahu ini janggal, tapi nanti saya akan banding setelah 8 hari, dan akan mengungkap 3 anggota Brimob yang terlibat pemukulan, menendang, menginjak, dan menyeret anggota Kopassus itu, ini adalah persaingan yang sengaja menyingkirkan saya. Dari pernyataan ini, sudah jelas, bahwa Bripka Juan adalah bandar Narkoba dan ada anggota Polda Yogya lain yang menjadi bandar Narkoba.

 

3. Awalnya 4 pelaku menolak dititipkan ke LP Sleman, Tapi Polda Yogya tetap ngotot membawa mereka, dengan alasan ruang tahanan Polda sedang rirehab, tapi setelah dicek, ruang tahanan tersebut masih layak dan tidak ada perbaikan. Setelah diperiksa dan sebelum dibawa ke LP Sleman, Bripka Juan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan jas yang bersih dan rapi, seolah-olah dia tahu bahwa dia akan mati, sambil mengatakan, "Saya mengaku bersalah, saya cinta Korps Polri dan negara ini, jikapun saya mati, saya ingin mati secara terhormat seperti prajurit tentara”.

 

Bripka Juan dalam tekanan berat dan merasa jiwanya terancam. Saat dimasukkan ke dalam blok LP Sleman, Bripka Juan sempat menunjukkan respeknya kepada petugas, dengan mengambil sikap siap, dan memberikan penghormatan walaupun tangannya diikat dan ditodong dengan senjata oleh anggota Brimob. "Kepada petugas, hormat gerak, tegak gerak". Bripka Juan juga mengatakan, "Saya kok diperlakukan seperti teroris, diikat dan ditodong dengan senjata".

 

4. Sampai saat ini Polda Yogya, tidak mau mengungkap dan menangkap siapa pelaku yang menendang serta menyeret korban Serka Santoso, hal ini sempat menjadi tanya tanya dari Bripka Juan, Bripka Juan mengatakan, “Biasalah Polisi, yang penting sudah nangkap satu, agar terlihat berhasil” berarti 3 orang ini masih buron, beberapa rekan Bripka Juan disatuan Brimob Yogya juga melihat kejanggalan dari kasus ini, seperti rekaman CCTV di Hugos Cafe telah di edit dan dirusak oleh penyidik Polda Yogya, yang telihat di rekaman CCTV hanya saat pemukulan yang dilakukan oleh Decky dan penusukan yang dilakukan oleh Dedy, kejadian awal saat Korban dan pelaku datang tidak ada, Decky melempar korban dengan asbak, demikian juga saat korban ditendang dan diseret oleh 3 orang yang dikenal oleh Bripka Juan.

 

Rekan Bripka Juan pun (sesama anggota Polda Yogya) melihat kejadian ini janggal, dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku ditangkap dan dijadikan tersangka, kemudian dititipkan di LP Sleman, kemudian di eksekusi di LP Sleman. Untuk menekan pihak Cafe Hugos berkaitan dengan rekaman CCTV, Polda Yogya mengancam akan menutup Hugos cafe, semua orang tahu bahwa perizinan usaha bukan di kepolisian atau Polda, tapi hak dari Pemda DIY. Bukan kepolisian. Dalam hal ini Polisi tidak punya hak, sudah melampaui wewenang.

 

5. Pada awalnya, Ka Lapas Sleman keberatan atas penitipan tersebut, karena tidak sesuai dengan prosedur dan 2 dari 4 tersangka, dalam keadaan luka, sebelum dibawa ke LP, Dedy dipanggil oleh orang yang menyeret Serka Santoso di kafe Hugos, saat keluar seluruh badannya memar dan lebam. Kemudian Adi 3 gigi depannya tanggal serta bibirnya bengkak berdarah. Awalnya Ka Lapas akan mengembalikan tahan titipan tersebut ke Polda, tapi tidak ada jawaban dari Polda, kemudian jika malam ini tidak bisa, Ka Lapas akan tetap mengembalikan ke-4 tahanan titipan tersebut ke Polda Yogya.(IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?