GATRANEWS

Nazaruddin Tak Dapat Remisi Lebaran
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Mantan bendahara umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, yang terjerat...
Sebanyak 55 Ribu Napi Terima Remisi Lebaran, 820 Orang Langsung Bebas
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 55.884 orang narapidana (napi) mendapat remisi Hari Raya Idul Fitri...
Tahanan KPK Tidak Shalat Ied
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Sejumlah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menolak untuk melaksanakan...
BTN Menangi Gugatan di PTUN, BI Siap Banding
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Gugatan mantan direksi PT Bank Tabungan Negara (BTN), Saut Pardede, di...
Jenguk Andi Mallatrangeng Keluarga Kenakan Baju Putih
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews- Keluarga Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng kompak...
Berkat PBH Peradi, Sahroni Bisa Berlebaran Bersama Keluarga
Monday, 28 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Pengurus Pusat Bantuan Hukum Perhimpunan Advokat Indonesia (PBH Peradi)...
Polresta Bogor Prioritaskan Pengamanan Rumah Kosong
Sunday, 27 July 2014

Bogor, GATRAnews - Kepolisian Resor Bogor Kota memprioritaskan pengawasan terhadap rumah warga yang...
Angkasa Pura Dukung Pemberantasan Premanisme di Bandara
Sunday, 27 July 2014

Jakarta, GATRAnews - PT Angkasa Pura (AP) II mendukung pemberantasan premanisme di bandar udara...
KPK: Mafia TKI Bandara Soekarno-Hatta Raup Rp 325 Milyar per Tahun
Sunday, 27 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mensinyalir, oknum Badan Nasional...
KPK Temukan Indikasi Korupsi Mafia TKI di Bandara Soekarno-Hatta
Sunday, 27 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sejak 2006, telah menaruh perhatian dan...
Pengamat: Koruptor Tak Layak Dapat Remisi Tiap Lebaran
Sunday, 27 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Pengamat dari Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada (UGM)...
Mabes TNI Segera Periksa Oknum TNI yang Ditangkap KPK di Bandara Soekarno-Hatta
Saturday, 26 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Seorang oknum TNI ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat sidak di...
Ajukan Gugatan Ke MK, Prabowo-Hatta Disambut Ratusan Simpatisan‏
Saturday, 26 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengajukan gugatan...
KPK dan Polri Tangkap 18 Pemeras TKI, Satu Anggota TNI
Saturday, 26 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri menangkap 18 orang yang...
Petugas Imigrasi Soetta Gelagapan Diinterogasi KPK
Saturday, 26 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Petugas Imigrasi di Terminal 2 F keberangkatan dan luar negeri Bandara...
Polisi Imbau Masyarakat Tidak Berpawai Malam Takbiran
Friday, 25 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengimbau masyarakat untuk tidak...
Penjambret Tewas Setelah Menabrak Gerobak Roti
Friday, 25 July 2014

Baturaja, GATRAnews - Dua tersangka Rik (16) dan Rs (30) pelaku jambret seorang di antaranya tewas...
Kejagung: Harus Izin Presiden Saja Hambat Usut Korupsi
Friday, 25 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Wakil Jaksa Agung Andhi Nirwanto menilai, Undang-Undang MPR, DPR, DPRD, dan...
Kejagung Kaji UU MD3 Demi Putusankan Judicial Review
Friday, 25 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung tengah mengkaji Undang-Undang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3)...
Mantan Dirut Bank DKI Terancam Upaya Paksa
Friday, 25 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung bakal melakukan upaya paksa terhadap...

PENA 98: Tulisan Idjon Djanbi di Facebook Soal Cebongan, Masuk Akal

Jakarta, GATRAnews - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Adian Napitupulu menilai, pemaparan kronologis dan berbagai analisis kasus penyerangan dan pembantaian 4 tahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang diposting "Idjon Djanbi" di Facebook (FB) logis dan patut dipertimbangkan. "Tulisan Idjon Djanbi di FB, apapun motifnya, benar atau tidak isinya, tapi berbagai analisa dalam penulisan cukup logis dan meyakinkan, ditambah lagi peristiwa ditulis secara kronologis dan detail," nilai Adian di Jakarta, Sabtu, (30/3).

 

Menurutnya, kronolgis dan analisis itu semakin menyakinkan karena Idjon Djonbi memperkuatnya dengan menyertakan banyak foto, termasuk foto-foto korban yang ditembak dalam sel di LP Sleman, yang tentunya foto-foto tersebut tentunya sulit didapat orang awam. Kalau Idjon Djanbi itu sekedar menyebar fitnah melalu facebook, imbuh Adian, maka yang tersinggung tentu bukan hanya Polri, tapi juga Kopasus karena Idjon Djanbi adalah nama pendiri Kopasus yang jika digunakan cuma untuk menyebar Fitnah dan adu domba, tentu membuat prajurit Kopasus meradang.

 

Lebih lanjut Adian menerangkan, menurut Wikipedia, Idjon Djanbi yang bernama asli Rokus Bernardus Visser, lalu merubah nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, merupakan komandan RPKAD yang kemudian bersulih nama menjadi Koprs Pasukan Khusus (Kopasus). Menurutnya, nama Idjon Djanbi di Facebook merupakan nama samaran orang yang menulis versi mengagetkan terkait penyerangan LP Sleman di Facebook yg isinya menyatakan, bahwa penyerangan LP Sleman dilakukan aparat kepolisian terkait persaingan kartel narkoba.

 

Menurut Adian, siapapun bisa mecurigai motif penulis di facebook tersebut, namun dalam keremangan kasus ini, maka baiknya Polri, Kopasus, dan Komnas HAM jangan tergesa gesa anti terhadap seluruh isi Facebook itu, tapi memandangnya sebagai pengkayaan informasi dalam penyidikan. "Walau kebenaran info itu hanya 1%, tetaplah itu info yang berharga. Baiknya jadikan FB itu motivasi untuk lakukan penyidikan yang cepat dan terbuka agar tidak muncul tafsir dan spekulasi," tandasnya.

 

Dalam penegakan hukum, ujar Adian, prioritas penyidikan, adalah menyidik kebenaran isi tulisan atau informasi dalam facebook tersebut, dibanding mengusut penulisnya. "Jika kemudian dalam persidangan yang adil dan terbuka terkait kasus LP Sleman ternyata isi FB itu seluruhnya bohong dan murni bermotif adu domba, maka barulah diperlukan langkah hukum dari Polri maupun Kopasus terhadap penulis FB itu," pungkasnuya.

 

Perlu diketahui, dalam tulisan yang diposting Idjon Djanbi melalui facebook tersebut, setelah menyampaikan kronoligis kejadian, kemudian memberikan ulasan. Berikut sebagian cuplikan dari kronoligis insiden Cebongan. "Berdasarkan kejadian dan keterangan kepolisian terdapat banyak kejanggalan, di antaranya," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu: 

 

1. Bripka Juan tidak terlibat pada kasus pengeroyokan Serka Santoso di Hugos Cafe Yogya, justru Bripka Juan yang melerai dan menolong korban, jadi tidak ada alasan kekhawatiran dari pihak Polda Yogya bahwa ada tindakan balasan dari Kopassus atas kejadian tersebut. Situasi ini sengaja diciptakan sendiri oleh Polda Yogya, dan tidak ada alasan Kopassus mengincar Bripka Juan. Di kalangan Polresta dan Brimob Yogya, Bripka Juan kurang disukai oleh rekan rekannya.

 

2. Polda Yogya telah berbohong, dengan mengatakan, bahwa Bripka Juan adalah pecatan, terbukti Bripka Juan disidang pemecatan dilakukan setelah pengeroyokan di Cafe Hugos. Dan sidang berlangsung hanya 5 menit, 15 menit sebelum dipindahkan ke LP Sleman. Menanggapi Sidang pemecatan tersebut, Bripka Juan mengatakan, "saya juga penyidik, saya tahu ini janggal, tapi nanti saya akan banding setelah 8 hari, dan akan mengungkap 3 anggota Brimob yang terlibat pemukulan, menendang, menginjak, dan menyeret anggota Kopassus itu, ini adalah persaingan yang sengaja menyingkirkan saya. Dari pernyataan ini, sudah jelas, bahwa Bripka Juan adalah bandar Narkoba dan ada anggota Polda Yogya lain yang menjadi bandar Narkoba.

 

3. Awalnya 4 pelaku menolak dititipkan ke LP Sleman, Tapi Polda Yogya tetap ngotot membawa mereka, dengan alasan ruang tahanan Polda sedang rirehab, tapi setelah dicek, ruang tahanan tersebut masih layak dan tidak ada perbaikan. Setelah diperiksa dan sebelum dibawa ke LP Sleman, Bripka Juan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan jas yang bersih dan rapi, seolah-olah dia tahu bahwa dia akan mati, sambil mengatakan, "Saya mengaku bersalah, saya cinta Korps Polri dan negara ini, jikapun saya mati, saya ingin mati secara terhormat seperti prajurit tentara”.

 

Bripka Juan dalam tekanan berat dan merasa jiwanya terancam. Saat dimasukkan ke dalam blok LP Sleman, Bripka Juan sempat menunjukkan respeknya kepada petugas, dengan mengambil sikap siap, dan memberikan penghormatan walaupun tangannya diikat dan ditodong dengan senjata oleh anggota Brimob. "Kepada petugas, hormat gerak, tegak gerak". Bripka Juan juga mengatakan, "Saya kok diperlakukan seperti teroris, diikat dan ditodong dengan senjata".

 

4. Sampai saat ini Polda Yogya, tidak mau mengungkap dan menangkap siapa pelaku yang menendang serta menyeret korban Serka Santoso, hal ini sempat menjadi tanya tanya dari Bripka Juan, Bripka Juan mengatakan, “Biasalah Polisi, yang penting sudah nangkap satu, agar terlihat berhasil” berarti 3 orang ini masih buron, beberapa rekan Bripka Juan disatuan Brimob Yogya juga melihat kejanggalan dari kasus ini, seperti rekaman CCTV di Hugos Cafe telah di edit dan dirusak oleh penyidik Polda Yogya, yang telihat di rekaman CCTV hanya saat pemukulan yang dilakukan oleh Decky dan penusukan yang dilakukan oleh Dedy, kejadian awal saat Korban dan pelaku datang tidak ada, Decky melempar korban dengan asbak, demikian juga saat korban ditendang dan diseret oleh 3 orang yang dikenal oleh Bripka Juan.

 

Rekan Bripka Juan pun (sesama anggota Polda Yogya) melihat kejadian ini janggal, dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku ditangkap dan dijadikan tersangka, kemudian dititipkan di LP Sleman, kemudian di eksekusi di LP Sleman. Untuk menekan pihak Cafe Hugos berkaitan dengan rekaman CCTV, Polda Yogya mengancam akan menutup Hugos cafe, semua orang tahu bahwa perizinan usaha bukan di kepolisian atau Polda, tapi hak dari Pemda DIY. Bukan kepolisian. Dalam hal ini Polisi tidak punya hak, sudah melampaui wewenang.

 

5. Pada awalnya, Ka Lapas Sleman keberatan atas penitipan tersebut, karena tidak sesuai dengan prosedur dan 2 dari 4 tersangka, dalam keadaan luka, sebelum dibawa ke LP, Dedy dipanggil oleh orang yang menyeret Serka Santoso di kafe Hugos, saat keluar seluruh badannya memar dan lebam. Kemudian Adi 3 gigi depannya tanggal serta bibirnya bengkak berdarah. Awalnya Ka Lapas akan mengembalikan tahan titipan tersebut ke Polda, tapi tidak ada jawaban dari Polda, kemudian jika malam ini tidak bisa, Ka Lapas akan tetap mengembalikan ke-4 tahanan titipan tersebut ke Polda Yogya.(IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?