GATRANEWS

Polisi Buru SY, Pelaku Penjual Lima Gadis di Bawah Umur
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews-Lima perempuan yang masih berusia di bawah itu mendatangi Polda Metro Jaya, Rabu...
Wanita Hamil 8 Bulan Tewas di Dalam Kamar Kost
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews-Kematian Novia Sari, 22 tahun hingga kini masih dalam penyelidiak pihak...
Begini Gelombang Pengiriman Uang ke MS Kaban Versi Jaksa
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews - MS Kaban, Menteri Kehutanan periode 2004-2009 yang kini menjabat Ketua Umum...
DPR Terima Rp 105 Juta dan SGD 85 Ribu Lebih dari Anggoro
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Anggoro Widjojo, pemilik PT Masaro Radiokom, memerintahkan anaknya, David...
Rekonstruksi Kasus Sodomi di JIS Dilakukan Tertutup
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews- Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan bahwa...
Pelaku Sodomi di TK JIS Baru Sekali Melakukan
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews-Penyidik Subdit Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya masih...
Ini Kronologi Pelecehan Seksual di JIS
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews-M, merupakan salah satu siswa di Jakarta International School (JIS) yang menjadi...
Jaksa Sebut MS Kaban Terima Duit dari Anggoro Widjojo
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut MS Kaban,...
Tidak Perlu Tim Independen Kasus Seksual di JIS
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews- Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto angkat bicara...
Dua Terduga Pelecehan Seksual di JIS Negatif Dari Penyakit Herpes
Wednesday, 23 April 2014

Jakarta, GATRAnews- Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan bahwa...
Polisi Ungkap Sindikat Peredaran Uang Palsu
Tuesday, 22 April 2014

Tasikmalaya, GATRAnews - Polisi Resor Kota Tasikmalaya berhasil mengungkap sindikat peredaran uang...
Ibu Rumah Tangga Selundupkan Satu Kilogram Sabu
Tuesday, 22 April 2014

Nunukan, GATRAnews – Kepala Polisi Resor Nunukan, Kalimantan Utara AKBP Robert Silindur...
Kejagung Ringkus Petinggi Menara Ady Karya
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pelarian Najamudin Umar, Direktur Utama PT Menara Ady Karya berakhir setelah...
Jaksa Tuntut Bos Idoguna 4,5 Tahun Penjara
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Maria...
Hasil Laboratorium Terduga Pelaku Asusila Negatif
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pihak penyidik Polda Metro Jaya menyatakan hasil laboratorium dua orang HC dan...
Pejabat Kemendagri Tersangka Kasus E-KTP
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Sugiharto, selaku Pejabat...
Bos BCA Enggan Komentari Status Tersangka Hadi Poernomo
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews -  Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) enggan...
BCA Sangkal Terlibat Kongkalikong Pajak dengan Hadi Poernomo
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Terkait penetapan mantan Direktur Jenderal Pajak, Hadi Poernomo, sebagai...
Bos BCA Siap Diperiksa KPK
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Centeral Asia (BCA) mengaku siap...
Bamsat Tidak Terkejut Hadi Poernomo Jadi Tersangka Penyimpangan Pajak
Tuesday, 22 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Hadi Poernomo, mantan Dirjen Pajak dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan harus...

PENA 98: Tulisan Idjon Djanbi di Facebook Soal Cebongan, Masuk Akal

Jakarta, GATRAnews - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Adian Napitupulu menilai, pemaparan kronologis dan berbagai analisis kasus penyerangan dan pembantaian 4 tahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang diposting "Idjon Djanbi" di Facebook (FB) logis dan patut dipertimbangkan. "Tulisan Idjon Djanbi di FB, apapun motifnya, benar atau tidak isinya, tapi berbagai analisa dalam penulisan cukup logis dan meyakinkan, ditambah lagi peristiwa ditulis secara kronologis dan detail," nilai Adian di Jakarta, Sabtu, (30/3).

 

Menurutnya, kronolgis dan analisis itu semakin menyakinkan karena Idjon Djonbi memperkuatnya dengan menyertakan banyak foto, termasuk foto-foto korban yang ditembak dalam sel di LP Sleman, yang tentunya foto-foto tersebut tentunya sulit didapat orang awam. Kalau Idjon Djanbi itu sekedar menyebar fitnah melalu facebook, imbuh Adian, maka yang tersinggung tentu bukan hanya Polri, tapi juga Kopasus karena Idjon Djanbi adalah nama pendiri Kopasus yang jika digunakan cuma untuk menyebar Fitnah dan adu domba, tentu membuat prajurit Kopasus meradang.

 

Lebih lanjut Adian menerangkan, menurut Wikipedia, Idjon Djanbi yang bernama asli Rokus Bernardus Visser, lalu merubah nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, merupakan komandan RPKAD yang kemudian bersulih nama menjadi Koprs Pasukan Khusus (Kopasus). Menurutnya, nama Idjon Djanbi di Facebook merupakan nama samaran orang yang menulis versi mengagetkan terkait penyerangan LP Sleman di Facebook yg isinya menyatakan, bahwa penyerangan LP Sleman dilakukan aparat kepolisian terkait persaingan kartel narkoba.

 

Menurut Adian, siapapun bisa mecurigai motif penulis di facebook tersebut, namun dalam keremangan kasus ini, maka baiknya Polri, Kopasus, dan Komnas HAM jangan tergesa gesa anti terhadap seluruh isi Facebook itu, tapi memandangnya sebagai pengkayaan informasi dalam penyidikan. "Walau kebenaran info itu hanya 1%, tetaplah itu info yang berharga. Baiknya jadikan FB itu motivasi untuk lakukan penyidikan yang cepat dan terbuka agar tidak muncul tafsir dan spekulasi," tandasnya.

 

Dalam penegakan hukum, ujar Adian, prioritas penyidikan, adalah menyidik kebenaran isi tulisan atau informasi dalam facebook tersebut, dibanding mengusut penulisnya. "Jika kemudian dalam persidangan yang adil dan terbuka terkait kasus LP Sleman ternyata isi FB itu seluruhnya bohong dan murni bermotif adu domba, maka barulah diperlukan langkah hukum dari Polri maupun Kopasus terhadap penulis FB itu," pungkasnuya.

 

Perlu diketahui, dalam tulisan yang diposting Idjon Djanbi melalui facebook tersebut, setelah menyampaikan kronoligis kejadian, kemudian memberikan ulasan. Berikut sebagian cuplikan dari kronoligis insiden Cebongan. "Berdasarkan kejadian dan keterangan kepolisian terdapat banyak kejanggalan, di antaranya," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu: 

 

1. Bripka Juan tidak terlibat pada kasus pengeroyokan Serka Santoso di Hugos Cafe Yogya, justru Bripka Juan yang melerai dan menolong korban, jadi tidak ada alasan kekhawatiran dari pihak Polda Yogya bahwa ada tindakan balasan dari Kopassus atas kejadian tersebut. Situasi ini sengaja diciptakan sendiri oleh Polda Yogya, dan tidak ada alasan Kopassus mengincar Bripka Juan. Di kalangan Polresta dan Brimob Yogya, Bripka Juan kurang disukai oleh rekan rekannya.

 

2. Polda Yogya telah berbohong, dengan mengatakan, bahwa Bripka Juan adalah pecatan, terbukti Bripka Juan disidang pemecatan dilakukan setelah pengeroyokan di Cafe Hugos. Dan sidang berlangsung hanya 5 menit, 15 menit sebelum dipindahkan ke LP Sleman. Menanggapi Sidang pemecatan tersebut, Bripka Juan mengatakan, "saya juga penyidik, saya tahu ini janggal, tapi nanti saya akan banding setelah 8 hari, dan akan mengungkap 3 anggota Brimob yang terlibat pemukulan, menendang, menginjak, dan menyeret anggota Kopassus itu, ini adalah persaingan yang sengaja menyingkirkan saya. Dari pernyataan ini, sudah jelas, bahwa Bripka Juan adalah bandar Narkoba dan ada anggota Polda Yogya lain yang menjadi bandar Narkoba.

 

3. Awalnya 4 pelaku menolak dititipkan ke LP Sleman, Tapi Polda Yogya tetap ngotot membawa mereka, dengan alasan ruang tahanan Polda sedang rirehab, tapi setelah dicek, ruang tahanan tersebut masih layak dan tidak ada perbaikan. Setelah diperiksa dan sebelum dibawa ke LP Sleman, Bripka Juan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan jas yang bersih dan rapi, seolah-olah dia tahu bahwa dia akan mati, sambil mengatakan, "Saya mengaku bersalah, saya cinta Korps Polri dan negara ini, jikapun saya mati, saya ingin mati secara terhormat seperti prajurit tentara”.

 

Bripka Juan dalam tekanan berat dan merasa jiwanya terancam. Saat dimasukkan ke dalam blok LP Sleman, Bripka Juan sempat menunjukkan respeknya kepada petugas, dengan mengambil sikap siap, dan memberikan penghormatan walaupun tangannya diikat dan ditodong dengan senjata oleh anggota Brimob. "Kepada petugas, hormat gerak, tegak gerak". Bripka Juan juga mengatakan, "Saya kok diperlakukan seperti teroris, diikat dan ditodong dengan senjata".

 

4. Sampai saat ini Polda Yogya, tidak mau mengungkap dan menangkap siapa pelaku yang menendang serta menyeret korban Serka Santoso, hal ini sempat menjadi tanya tanya dari Bripka Juan, Bripka Juan mengatakan, “Biasalah Polisi, yang penting sudah nangkap satu, agar terlihat berhasil” berarti 3 orang ini masih buron, beberapa rekan Bripka Juan disatuan Brimob Yogya juga melihat kejanggalan dari kasus ini, seperti rekaman CCTV di Hugos Cafe telah di edit dan dirusak oleh penyidik Polda Yogya, yang telihat di rekaman CCTV hanya saat pemukulan yang dilakukan oleh Decky dan penusukan yang dilakukan oleh Dedy, kejadian awal saat Korban dan pelaku datang tidak ada, Decky melempar korban dengan asbak, demikian juga saat korban ditendang dan diseret oleh 3 orang yang dikenal oleh Bripka Juan.

 

Rekan Bripka Juan pun (sesama anggota Polda Yogya) melihat kejadian ini janggal, dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku ditangkap dan dijadikan tersangka, kemudian dititipkan di LP Sleman, kemudian di eksekusi di LP Sleman. Untuk menekan pihak Cafe Hugos berkaitan dengan rekaman CCTV, Polda Yogya mengancam akan menutup Hugos cafe, semua orang tahu bahwa perizinan usaha bukan di kepolisian atau Polda, tapi hak dari Pemda DIY. Bukan kepolisian. Dalam hal ini Polisi tidak punya hak, sudah melampaui wewenang.

 

5. Pada awalnya, Ka Lapas Sleman keberatan atas penitipan tersebut, karena tidak sesuai dengan prosedur dan 2 dari 4 tersangka, dalam keadaan luka, sebelum dibawa ke LP, Dedy dipanggil oleh orang yang menyeret Serka Santoso di kafe Hugos, saat keluar seluruh badannya memar dan lebam. Kemudian Adi 3 gigi depannya tanggal serta bibirnya bengkak berdarah. Awalnya Ka Lapas akan mengembalikan tahan titipan tersebut ke Polda, tapi tidak ada jawaban dari Polda, kemudian jika malam ini tidak bisa, Ka Lapas akan tetap mengembalikan ke-4 tahanan titipan tersebut ke Polda Yogya.(IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?