GATRANEWS

Djarot: Tidak Semua Lurah di Jakarta Dapat Gaji 30 Juta
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Gaji setingkat lurah (pejabat eselon IV) di Jakarta mulai tahun 2015 cukup...
Sebut 'Rakyat Tidak Jelas,' Menko Polhukam Dipolisikan
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews-Beberapa pengacara mempolisikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan...
Petugas Meringkus Boang Saat Nunggu Pembeli Sabu
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews-Choirullah alias Boang bin Bo'en, 35 tahun, terpaksa berurusan dengan pihak...
BRI Torehkan Laba Rp 24,20 Trilyun pada 2014
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah meraih laba bersih sebesar...
Pemerintah Perpanjang Izin Ekspor Freeport Indonesia
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah memberikan rekomendasi persetujuan ekspor PT Freeport Indonesia (PT...
BW: Seorang Pemimpin Harus Berani Ambil Risiko
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto menegaskan...
Gubernur Lukas: Masyarakat Papua Tolak Freeport Bangun Smelter di Gresik
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRANews - Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, Majelis Rakyat Papua, DPR Papua, dan...
Polda Jaya Akan Razia Moge ''Bodong''
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Polda Metro Jaya menyatakan akan merazia sepeda motor gede (moge) yang...
BKPM: Kisruh KPK-Polri Tak Ganggu Investasi
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani memastikan...
Perizinan Investasi Kini Cukup Lewat PTSP BKPM
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Mengurus perizinan berinvestasi di Indonesia, kini lebih gampang, cukup "satu...
Resahkan Masyarakat, Enam PSK Diamankan Polisi
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Beberapa Pekerja Seks Komersial (PSK) ditangkap petugas Polsek Tamansari,...
Tiang pancang Monorel Diminta Segera Diratakan
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Merusak keindahan Jakarta, sebanyak 90 tiang pancang monorel di sepanjang...
BW Mundur Sementara Sebagai Pimpinan KPK
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Bambang Widjojanto (BW) mengajukan surat permohonan berhenti sementara dari...
Pasar Jaya Bangun 15 Ribu Kios untuk PKL Jakarta
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - PD Pasar Jaya menyiapkan 15.000 kios untuk menampung pedagang kaki lima (PKL)...
BW Bakal Laporkan Balik Sugianto
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto (BW) akan...
Punya Anggaran Berlimpah, Ahok Klaim Sanggup Kelola GBK
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menegaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta...
Menteri Susi: Harga Jaring Ikan Indonesia Termahal di ASEAN
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Ironis itulah yang dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti...
KPPU Tolak Penerapan Tarif Batas Bawah! Ini Alasannya
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan penolakannya terhadap...
Ahok Tugaskan Jakpro Akuisisi Persija
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - ‎Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menugaskan PT Jakarta...
Ahok: Tanggul Kali Sunter Jebol Disengaja
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Sebagian wilayah Jakarta Utara terendam banjir pada pekan lalu dengan...

PENA 98: Tulisan Idjon Djanbi di Facebook Soal Cebongan, Masuk Akal

Jakarta, GATRAnews - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Adian Napitupulu menilai, pemaparan kronologis dan berbagai analisis kasus penyerangan dan pembantaian 4 tahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang diposting "Idjon Djanbi" di Facebook (FB) logis dan patut dipertimbangkan. "Tulisan Idjon Djanbi di FB, apapun motifnya, benar atau tidak isinya, tapi berbagai analisa dalam penulisan cukup logis dan meyakinkan, ditambah lagi peristiwa ditulis secara kronologis dan detail," nilai Adian di Jakarta, Sabtu, (30/3).

 

Menurutnya, kronolgis dan analisis itu semakin menyakinkan karena Idjon Djonbi memperkuatnya dengan menyertakan banyak foto, termasuk foto-foto korban yang ditembak dalam sel di LP Sleman, yang tentunya foto-foto tersebut tentunya sulit didapat orang awam. Kalau Idjon Djanbi itu sekedar menyebar fitnah melalu facebook, imbuh Adian, maka yang tersinggung tentu bukan hanya Polri, tapi juga Kopasus karena Idjon Djanbi adalah nama pendiri Kopasus yang jika digunakan cuma untuk menyebar Fitnah dan adu domba, tentu membuat prajurit Kopasus meradang.

 

Lebih lanjut Adian menerangkan, menurut Wikipedia, Idjon Djanbi yang bernama asli Rokus Bernardus Visser, lalu merubah nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, merupakan komandan RPKAD yang kemudian bersulih nama menjadi Koprs Pasukan Khusus (Kopasus). Menurutnya, nama Idjon Djanbi di Facebook merupakan nama samaran orang yang menulis versi mengagetkan terkait penyerangan LP Sleman di Facebook yg isinya menyatakan, bahwa penyerangan LP Sleman dilakukan aparat kepolisian terkait persaingan kartel narkoba.

 

Menurut Adian, siapapun bisa mecurigai motif penulis di facebook tersebut, namun dalam keremangan kasus ini, maka baiknya Polri, Kopasus, dan Komnas HAM jangan tergesa gesa anti terhadap seluruh isi Facebook itu, tapi memandangnya sebagai pengkayaan informasi dalam penyidikan. "Walau kebenaran info itu hanya 1%, tetaplah itu info yang berharga. Baiknya jadikan FB itu motivasi untuk lakukan penyidikan yang cepat dan terbuka agar tidak muncul tafsir dan spekulasi," tandasnya.

 

Dalam penegakan hukum, ujar Adian, prioritas penyidikan, adalah menyidik kebenaran isi tulisan atau informasi dalam facebook tersebut, dibanding mengusut penulisnya. "Jika kemudian dalam persidangan yang adil dan terbuka terkait kasus LP Sleman ternyata isi FB itu seluruhnya bohong dan murni bermotif adu domba, maka barulah diperlukan langkah hukum dari Polri maupun Kopasus terhadap penulis FB itu," pungkasnuya.

 

Perlu diketahui, dalam tulisan yang diposting Idjon Djanbi melalui facebook tersebut, setelah menyampaikan kronoligis kejadian, kemudian memberikan ulasan. Berikut sebagian cuplikan dari kronoligis insiden Cebongan. "Berdasarkan kejadian dan keterangan kepolisian terdapat banyak kejanggalan, di antaranya," tulis seseorang yang mengaku Idjon Djanbi itu: 

 

1. Bripka Juan tidak terlibat pada kasus pengeroyokan Serka Santoso di Hugos Cafe Yogya, justru Bripka Juan yang melerai dan menolong korban, jadi tidak ada alasan kekhawatiran dari pihak Polda Yogya bahwa ada tindakan balasan dari Kopassus atas kejadian tersebut. Situasi ini sengaja diciptakan sendiri oleh Polda Yogya, dan tidak ada alasan Kopassus mengincar Bripka Juan. Di kalangan Polresta dan Brimob Yogya, Bripka Juan kurang disukai oleh rekan rekannya.

 

2. Polda Yogya telah berbohong, dengan mengatakan, bahwa Bripka Juan adalah pecatan, terbukti Bripka Juan disidang pemecatan dilakukan setelah pengeroyokan di Cafe Hugos. Dan sidang berlangsung hanya 5 menit, 15 menit sebelum dipindahkan ke LP Sleman. Menanggapi Sidang pemecatan tersebut, Bripka Juan mengatakan, "saya juga penyidik, saya tahu ini janggal, tapi nanti saya akan banding setelah 8 hari, dan akan mengungkap 3 anggota Brimob yang terlibat pemukulan, menendang, menginjak, dan menyeret anggota Kopassus itu, ini adalah persaingan yang sengaja menyingkirkan saya. Dari pernyataan ini, sudah jelas, bahwa Bripka Juan adalah bandar Narkoba dan ada anggota Polda Yogya lain yang menjadi bandar Narkoba.

 

3. Awalnya 4 pelaku menolak dititipkan ke LP Sleman, Tapi Polda Yogya tetap ngotot membawa mereka, dengan alasan ruang tahanan Polda sedang rirehab, tapi setelah dicek, ruang tahanan tersebut masih layak dan tidak ada perbaikan. Setelah diperiksa dan sebelum dibawa ke LP Sleman, Bripka Juan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan jas yang bersih dan rapi, seolah-olah dia tahu bahwa dia akan mati, sambil mengatakan, "Saya mengaku bersalah, saya cinta Korps Polri dan negara ini, jikapun saya mati, saya ingin mati secara terhormat seperti prajurit tentara”.

 

Bripka Juan dalam tekanan berat dan merasa jiwanya terancam. Saat dimasukkan ke dalam blok LP Sleman, Bripka Juan sempat menunjukkan respeknya kepada petugas, dengan mengambil sikap siap, dan memberikan penghormatan walaupun tangannya diikat dan ditodong dengan senjata oleh anggota Brimob. "Kepada petugas, hormat gerak, tegak gerak". Bripka Juan juga mengatakan, "Saya kok diperlakukan seperti teroris, diikat dan ditodong dengan senjata".

 

4. Sampai saat ini Polda Yogya, tidak mau mengungkap dan menangkap siapa pelaku yang menendang serta menyeret korban Serka Santoso, hal ini sempat menjadi tanya tanya dari Bripka Juan, Bripka Juan mengatakan, “Biasalah Polisi, yang penting sudah nangkap satu, agar terlihat berhasil” berarti 3 orang ini masih buron, beberapa rekan Bripka Juan disatuan Brimob Yogya juga melihat kejanggalan dari kasus ini, seperti rekaman CCTV di Hugos Cafe telah di edit dan dirusak oleh penyidik Polda Yogya, yang telihat di rekaman CCTV hanya saat pemukulan yang dilakukan oleh Decky dan penusukan yang dilakukan oleh Dedy, kejadian awal saat Korban dan pelaku datang tidak ada, Decky melempar korban dengan asbak, demikian juga saat korban ditendang dan diseret oleh 3 orang yang dikenal oleh Bripka Juan.

 

Rekan Bripka Juan pun (sesama anggota Polda Yogya) melihat kejadian ini janggal, dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku ditangkap dan dijadikan tersangka, kemudian dititipkan di LP Sleman, kemudian di eksekusi di LP Sleman. Untuk menekan pihak Cafe Hugos berkaitan dengan rekaman CCTV, Polda Yogya mengancam akan menutup Hugos cafe, semua orang tahu bahwa perizinan usaha bukan di kepolisian atau Polda, tapi hak dari Pemda DIY. Bukan kepolisian. Dalam hal ini Polisi tidak punya hak, sudah melampaui wewenang.

 

5. Pada awalnya, Ka Lapas Sleman keberatan atas penitipan tersebut, karena tidak sesuai dengan prosedur dan 2 dari 4 tersangka, dalam keadaan luka, sebelum dibawa ke LP, Dedy dipanggil oleh orang yang menyeret Serka Santoso di kafe Hugos, saat keluar seluruh badannya memar dan lebam. Kemudian Adi 3 gigi depannya tanggal serta bibirnya bengkak berdarah. Awalnya Ka Lapas akan mengembalikan tahan titipan tersebut ke Polda, tapi tidak ada jawaban dari Polda, kemudian jika malam ini tidak bisa, Ka Lapas akan tetap mengembalikan ke-4 tahanan titipan tersebut ke Polda Yogya.(IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?