GATRANEWS

Densus 88 Tangkap Seorang Teroris di NTT
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Polri menangkap Syarif, tersangka kasus...
Satgassus Kejagung Studi Banding ke FBI
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung (Kejagung) mengirim 10 orang dari Satuan Tugas Khusus...
Pemerintah Dorong Industri Makanan dan Minuman Gunakan Bahan Baku Lokal
Saturday, 18 April 2015

Gresik, GATRAnews - Industri makanan dan minuman nasional menikmati pertumbuhan karena ditopang...
Kejagung Tangkap Koruptor di Kantor Pelni
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Tim Intelijen Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap Syaid Denny Khomaini bin...
Subsidi BBM dan Impor Beras Distop, Jokowi Siap Tak Populer
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, akan mempertahankan kebijakan...
Simpanan LPS Tercatat Meningkat Rp 53.503 Miliar‏
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merilis data mengenai pertumbuhan total...
LDR Longgar, BI Optimis Kredit UMKM Melonjak Tahun Ini‏
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah menyatakan, pihaknya masih...
Tamansari Mahogany Apartemen Bidik Kaum Profesional di Karawang
Saturday, 18 April 2015

Karawang, GATRAnews - Pengembang kini melirik koridor kawasan timur Jakarta seperti Cikarang,...
Pelni Perluas Kesempatan Masyarakat Rasakan Eksotisme Wisata Bahari Indonesia
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan Indonesia memiliki garis pantai...
BI Perkirakan Pertumbuhan Kredit Kuartal I Lebih Rendah dari Target‏
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan selama kuartal I...
KPK Berharap Badrodin Tingkatkan Sinergi Pemberantasan Korupsi
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap Kapolri Jenderal Pol Badrodin...
Jaksa Agung Perintahkan Semua Pegawai Lakukan Tes Urin
Saturday, 18 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Jaksa Agung HM Prasetyo telah mengirimkan surat ke seluruh Kejaksaan Tinggi...
Indriyanto Berharap Badrodin Kembalikan Kepercayaan Publik ke Polri
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Pelaksana tugas (Plt) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indriyanto...
Kejagung Pecat 20 Jaksa Terlibat Narkoba dan Korupsi
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung (Kejagung) memberhentikan secara tidak hormat alias memecat 20...
Kemendes PDTT Ajak PMII dan ITS Membangun Desa
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Menteri Desa, Pembangundan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendesa PDTT)...
Penyidik Minta Pertanggungjawaban PPK Atas 18 GI PLN
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta akan kembali meminta pertanggungjawaban...
Tidak Ada Tanda Kekerasan Penyebab Tewasnya Penjual Batu Akik
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews-Pihak kepolisian hingga kini belum bisa memastikan penyebab kematian tiga orang...
LPS: Total Simpanan Perbankan Februari Rp. 4.222 Triliun
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merilis data mengenai pertumbuhan total...
KNTI: Investasi Asing di Pulau Kecil Ibarat Narkoba
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyayangkan rencana Kementerian...
Pemerintah Alokasikan Rp 33,1 Trilyun Bangun Rumah Rakyat Miskin
Friday, 17 April 2015

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat...

John Kei dan Fenomena Gangster Jakarta

Ada berita yang menghebohkan jagat preman ibukota Jakarta pada Jumat (17/2/2012) lalu. Seorang gembong preman bernana John Refra Kei ditangkap oleh aparat gabungan Subdit Umum dan Subdit Resmob Polda Metro Jaya di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur sekitar pukul 20.00 WIB.

Ia digelandang dengan luka tembak di kaki oleh sejumlah polisi. Tak tanggung-tanggung, sekitar seratus polisi dikerahkan untuk membekuk sang preman. Menurut beberapa saksi mata, John Kei sempat melawan sebelumpuhkan dengan timah panas.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (18/2/2012), penangkapan John Kei dilakukan terkait kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono. Dalam penangkapan itu disita barang bukti 1 handphone merk Vertu warna silver, 1 Samsung notebook warna hitam dan dompet berwarna hitam cokelat dan uang Rp 5.250.000.

John Kei adalah seorang gembong merupakan preman yang paling disegani di Jakarta. Dia dikenal sebagai bos para penagih utang dan pembunuh bayaran yang sangat sadis. Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Jamil, dengan tertangkapnya John Kei, diharapkan premanisme bisa disapu bersih di Jakarta dan seluruh kota di Indonesia. "Polisi bertanggung jawab membersihkan preman yang meresahkan masyarakat. Jangan ada lagi premanisme di Jakarta dan seluruh kota di Indonesia," ujarnya.

Nasir menyitir presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memerintahkan Kapolri untuk menindak setiap kejahatan. "Negara tidak boleh kalah dengan kejahatan. Kapolri harus punya strategi jitu untuk menyingkirkan premanisme di Indonesia," ungkap Nasir.

Siapakah John Kei? Pria berumur 40 tahun itu adalah seerang tokoh asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota. Sebelum 'manggung' di jakarta, John Kei didapuk menjadi pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara.

Mereka berhimpun pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan pemuda itu Angkatan Muda Kei (AMKei) dengan John Kei sebagai pimpinan. Ia bahkan mengklaim bahwa anggota AMKei mencapai 12 ribu orang.

Nama John Kei berkibar di Jakarta setelah tokoh pemuda yang juga asal Maluku Utara, Basri Sangaji, meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 silam. Sebelumnya, kedua tokoh pemuda itu seakan saling bersaing demi mendapatkan nama besar di dunia gangster Jakarta.

Dengan kematian Basri, nama John Kei pun melesat bak meteor. Ia bersama kelompoknya terus menjadi momok menakutkan bagi warga di Jakarta. Pada Juni 2007, misalnya, John Kei terlibat bentrokan yang terjadi di depan kantor DPD PDI Perjuangan Jalan Tebet Raya No.46 Jaksel.

Kabarnya, bentrokan itu terkait penagihan utang yang dilakukan kelompok John Kei terhadap salah seorang kader PDI Perjuangan di kantor itu. Bukan itu saja, di tahun yang sama kelompok ini juga pernah mengamuk di depan Diskotik Hailai Jakut hingga memecahkan kaca-kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Dalam ’dunia premanisme’ Ibukota, khususnya terkait bisnis debt collector, kerap terjadi baku serang antar gangster. Sebagai contoh, pernah terjadi bentrokan berdarah di kawasan Jalan Kemang IV Jaksel pada pertengahan Mei 2002 silam, dimana kelompok Basri Sangaji saat itu sedang menagih seorang pengusaha di kawasan Kemang.

Mendadak sang pengusaha menghubungi Hercules yang biasa ’dipakainya’ untuk menagih utang pula. Akibatnya kedua kelompok itu berhadapan di Jalan Kemang IV itu sehingga terjadi bentrokan dan pembunuhan.

Hercules sempat ditembak beberapa kali, tapi dia hanya luka-luka saja dan bibirnya terluka karena terserempet peluru. Dia menjalani perawatan cukup lama di sebuah rumah sakit di kawasan Kebon Jeruk, Jakbar. Beberapa anak buah Hercules juga terluka. Tapi, seorang anak buah Sangaji terbunuh, dan beberapa orang terluka.

Selain jasa penagihan utang, para gangster ibukota itu juga bergerak di bidang jasa pengawalan lahan dan tempat. Kelompok John Kei , misalnya, pernah mendapat ’order’ untuk menjaga lahan kosong di kawasan perumahan Permata Buana, Kembangan Jakarta Barat.

Namun dalam menjalankan tugas, kelompok ini pernah mendapat serbuan dari kelompok Pendekar Banten yang merupakan bagian dari Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI). Markas dan wilayah kerja PPPSBBI sebetulnya di Serang dan areal Provinsi Banten. Kepergian ratusan pendekar Banten itu ke Jakarta itu sengaja untuk menyerbu kelompok John Kei pada 29 Mei 2005.

Sayangnya, kelompok penyerbu itu belum mengenal seluk-beluk Ibukota. Akibatnya, seorang anggota Pendekar Banten bernama Jauhari tewas terbunuh dalam bentrokan itu. Selain itu sembilan anggota Pendekar Banten terluka dan 13 mobil dirusak. tiga SSK Brimob PMJ dibantu aparat Polres Jakarta Barat berhasil mengusir kedua kelompok yang bertikai dari areal lahan seluas 5.500 meter persegi di Perum Permata Buana Blok L/4, Kembangan Utara Jakbar.

Namun buntut dari kasus ini, John Kei hanya dimintai keterangan saja. Sedangkan beberapa anak buah John yang harus menjalani proses hukum dan mendekam di sel tahanan Polda Metro Jaya hingga kasusnya dilimpahkan ke kantor Kejati DKI beberapa bulan berikutnya.

Sebuah sumber dari kalangan ini mengatakan bahwa kelompok penjaga lahan seperti kelompok John Kei biasanya menempatkan anggotanya di lahan yang dipersengketakan. Besarnya honor disesuaikan dengan luasnya lahan, siapa pemiliknya, dan siapa lawan yang akan dihadapinya.  Semakin kuat lawan itu, semakin besar pula biaya pengamanannya.

Kisaran nominal upahnya, bisa mencapai milyaran rupiah. Perjanjian honor atau upah dibuat antara pemilik lahan atau pihak yang mengklaim lahan itu milikya dengan pihak pengaman. Perjanjian itu bisa termasuk ongkos operasi sehari-hari bisa juga di luarnya.

Misalnya untuk sebuah lahan sengketa diperlukan 50 orang penjaga maka untuk logistik diperlukan Rp 100 ribu per orang per hari, maka harus disediakan Rp 5 juta/hari atau langsung Rp 150 juta untuk sebulan. Yang jelas upah untuk kepala rombongan atau komandannya lebih besar dari anggota biasa. Dana operasi itu di luar upah kesuksesan kerja atau succes fee yang biasanya dibayarkan ketika sengketa dimenangkan pihak pengorder.

Selain pengamanan lahan sengketa, ada pula pengamanan asset yang diincar pihak lain maupun menjaga lokasi hiburan malam dari ancaman pengunjung yang membikin onar maupun ancaman pemerasan dengan dalih ’jasa pengamanan’ oleh kelompok lain. Walau begitu tapi tetap saja mekanisme kerja dan pembayarannya sama dengan pengamanan lahan sengketa.

Begitulah potret dunia ganster, yang selalu mengganggu keamana ibukota negara. Tertangkapnya John Kei mestinya menjadi momentum untuk memberantas premanisne di kota-kota besar. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? (HP, dari berbagai sumber)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?