GATRANEWS

Temuan Super Bumi: Apakah Manusia Sendirian di Alam Semesta?

Relative sizes of Kepler habitable zone planets discovered as of April 18, 2013 in this artist's rendition provided by NASA. (L to R) Kepler-22b, Kepler-69c, Kepler-62e, Kepler 62f and Earth. Scientists using NASA's Kepler space telescope have found the best candidates yet for habitable worlds beyond the solar system officials said Thursday. REUTERS/NASA Amers/JPL-Caltech/Handout Washington, GATRAnews - Wahana teleskop ruang angkasa Kepler milik NASA telah mendorong kembali batas-batas pengetahuan tentang alam semesta. Teleskop itu telah menghasilkan sejumlah besar data dan diperkirakan akan terus melakukannya sampai 2016. Pada update terakhir, Kepler telah mendeteksi 2.740 kandidat planet pada 2046 bintang. 

 

Jika teleskop ruang angkasa Hubble membawa kita kepada fajar penciptaan kosmos, Kepler sangat vital dalam pencarian planet lain di halaman belakang rumah kita sendiri. NASA mengumumkan tonggak sejarah baru dalam survei langit Kepler, dengan temuan berupa Kepler 62e dan 62f sebagai planet yang menghuni zona habitasi bintang induknya, Kepler 62.

 

Penemuan ini luar biasa karena telah mengonfirmasi planet berukuran hampir sama seperti bumi mengorbit di zona layak huni. Kepler 62e berukuran 1,61 kali Bumi, mengorbit setiap 122 hari. Sementara Kepler 62f berukuran 1,41 kali Bumi, mengorbit bintang inang setiap 267 hari.

 

Temuan dua planet Super Bumi tersebut dipublikasikan di jurnal Science, Kamis, 18 April 2013. Super Bumi merupakan kelas baru planet, tanpa analog di tata surya kita, dengan radius antara 1,25 hingga 2 kali radius Bumi."Dua planet itu adalah kandidat planet terbaik yang mungkin layak huni," kata William Borucki, pemimpin misi investigasi Kepler dari Ames Research Center, NASA.

 

Dua planet tersebut hanya sedikit lebih besar dari Bumi dan beberapa miliar tahun lebih tua. Bintang inang tempat mengorbit dua planet itu berusia 7 miliar tahun –bandingkan dengan Matahari yang berusia 4,6 milyar tahun. Posisinya, berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Lyra.

 

Planet itu terletak pada jarak pas sehingga suhunya tak terlalu panas dan tak terlalu dingin, air bisa ditemukan dalam bentuk cair. Ilmuwan belum mengetahui apakah permukaan kedua planet itu lebih kaya batuan atau perairan. Namun, ilmuwan beranggapan bahwa planet itu punya material yang bisa terkondensasi membentuk padatan, tetapi juga punya cairan dalam jumlah signifikan.

 

Justin Crepp, asisten profesor fisika dari University of Notre Dame, mengatakan, "Ini adalah obyek paling mirip Bumi yang kami temukan sejauh ini." Crepp mendeteksi keberadaan bintang Kepler 62 sekitar setahun lalu. Kepler-62 adalah bintang kerdil jenis K2, dengan massa 69% Matahari. Dia juga lebih kecil dari Surya, dengan jari-jari 64% Matahari. Dia memiliki suhu permukaan 4925 K. Bandingkan dengan temperatur permukaan Matahari yang 5778 K. Sinarnya hanya seperlima kecerahan Matahari.

 

Crepp kemudian meneliti bintang yang tidak nampak dari Bumi itu, karena terlalu redup untuk dilihat dengan mata bugil. Dia mendeteksi keberadaan planet yang mengelilinginya dengan metode transit, mengamati peredupan cahaya bintang akibat adanya planet yang melintas di mukanya. Sebanyak lima planet mengelilingi bintang ini yaitu, Kepler 62b, Kepler 62c, Kepler 62d, Kepler 62e, dan Kepler 62f.

 

Tiga planet pertama terpanggang karena terlalu dekat dengan bintang inang. Kepler-62b, Kepler-62c dan Kepler-62d, masing-masing berukuran 1,31; 0,54; dan 1,95 Bumi. Ketiganya mengorbit bintang induknya dalam takaran hari, yaitu lima, 12, dan 18 hari. Itulah yang membuat mereka sangat panas dan tidak ramah bagi kehidupan seperti yang kita kenal.

 

Kepler 62e dan Kepler 62f lebih beruntung karena berada di zona segar. Meskipun keduanya dinyatakan paling mirip Bumi, masih belum diketahui apakah manusia bisa hidup di planet tersebut. Pemodelan komputer para peneliti di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics menunjukkan bahwa kedua planet itu merupakan dunia air. Permukaan mereka benar-benar tertutup lautan global dengan tidak ada tanah yang terlihat.

 

"Planet-planet itu tidak seperti apa pun di tata surya kita. Mereka memiliki lautan tak berujung,"kata Lisa Kaltenegger dari Max Planck Institute for Astronomy dan Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. Kehidupan di kedua planet berlangsung di bawah air, tanpa akses yang mudah ke logam, listrik, atau pembakaran untuk metalurgi. "Mungkin ada kehidupan di sana, tapi mungkinkah berbasis teknologi seperti kita?” katanya.

 

Meskipun demikian, kedua planet menampilkan nada biru yang indah mengitari sebuah bintang jingga. Kepler 62e memiliki awan sedikit lebih daripada Bumi sesuai dengan pemodelan komputer. Sedangkan, Kepler 62f membutuhkan efek rumah kaca dari banyak karbon dioksida menghangatkan dirinya agar menjadi tuan rumah lautan. Jika tidak, mungkin menjadi bola salju yang tertutup es abadi.

 

Selain menemukan dua Super Bumi itu, astronom memiliki kandidat lain sebagai pendamping keduanya. Planet yang juga mirip Bumi itu bernama Kepler 69c. Planet ini mengorbit bintang Kepler 69 yang mirip Matahari. Dia masuk golongan bintang G4V, bandingkan dengan Matahari yang masuk kelas G2. Kepler 69 berukuran 93 persen Matahari, dan silaunya 80 persen. Menghuni kolong langit sedalam 2.700 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Cygnus (Angsa). Dalam mengorbit, Kepler 69c ditemani sejawatnya Kepler 69b.

 

Kepler 69b berukuran mini Neptunus, atau 2,24 Bumi. Dia mengorbit bintang inang setiap 13,7 hari. Posisinya yang dekat bintang membuatnya terpanggang. Sedangkan Kepler 69c yang berukuran 1,71 Bumi orbitnya yang berumur 242 hari. Ini menjadikan Kepler 69c menjadi planet terkecil yang ditemukan berada di zona habitasi bintang yang mirip Matahari.

 

Para astronom tidak yakin tentang komposisi Kepler 69c, menakar umur orbitnya, dia menyerupai planet tetangga kita, Venus. Temuan Kepler 69c dipublikasikan di Astrophysical Journal, Kamis, 18 April 2013. Thomas Barclay dari Bay Area Environmental Research Institute di California mengatakan bahwa planet itu mungkin dekat dengan bintangnya dan panas seperti Venus. Jadi dia lebih mirip Super Venus, daripada Super Bumi. 

 

Para ilmuwan tidak tahu apakah kehidupan bisa ada di planet yang mengorbit tepi dalam (pinggiran dekat bintang) zona habitasi itu. Tetapi itu bisa menjadi sinyal, bahwa kita selangkah lebih dekat untuk menemukan sebuah dunia mirip Bumi di sekitar bintang seperti Matahari.

 

"Pesawat ruang angkasa Kepler telah berubah menjadi bintang rock ilmu pengetahuan," kata John Grunsfeld, administratur Direktorat Misi Sains NASA di Washington. Penemuan planet berbatu di zona layak huni membawa lebih dekat untuk menemukan tempat seperti Bumi. “Ini hanya masalah waktu sebelum kita tahu apakah galaksi (Bima Sakti) adalah rumah bagi banyak planet seperti Bumi,” katanya. Dengan menggunakan metode transit, Kepler telah mendeteksi 2.740 kandidat. Menggunakan berbagai teknik analisis teleskop berbasis di Bumi, dan aset ruang angkasa lainnya, 122 planet telah dikonfirmasi. (ROH)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?