GATRANEWS

Error
  • There was a problem loading image 20140228003.jpg
  • There was a problem loading image 20140707Paus-Fransiskus.jpg
  • There was a problem loading image 20141218Maulana-Fazlullah.gif
  • There was a problem loading image 20141216Man-Haron-Monis.gif

SMC: ASEAN Biarkan "Pemusnahan" Etnis Muslim Rohingya

Jakarta, GATRAnews - Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Rabu, (24/10) menegaskan, negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) masih membiarkan kekerasan terhadap etnis muslim Rohingya di Myanmar karena sampai saat ini masih berlangsung. 

 

"Negara-negara yang tergabung dalam kerjasama regional ASEAN dirasakan aneh, masih membiarkan tragedi pembantaian warga sipil beragama di negara koleganya sendiri, yang sejauh ini menelan ribuan korban jiwa yang sebagian besar pria, disusul perempuan dan anak-anak, termasuk balita," tegas Syahganda.

 

Di luar itu, ungkapnya, tak terhitung juga yang mengalami kelaparan hingga menderita penyakit mengkhawatirkan, akibat seringkali diblokadenya bantuan internasional bagi muslim Rohingnya.”ASEAN dan utamanya Indonesia, Malaysia, serta Brunei Darussalam sebagai negara berpenduduk muslim, sepatutnya mengambil prakarsa serius guna menghentikan situasi kelam yang diciptakan untuk merenggut nyawa dan memberangus etnis muslim Rohingya secara barbar, karena fenomena seperti itu tidak pantas terjadi di era moderen yang mendasarkan prinsip saling menghargai kebebasan beragama atau rasa kemanusiaan,” beber pria yang juga anggota dewan pengarah Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Pusat itu.

 

Atas dasar itu, Syahganda menyesalkan peristiwa getir dan biadab itu tidak memperoleh perhatian sama sekali dari pejuang HAM Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang juga memimpin Partai Liga Nasional Demokrasi (LND) selaku pemenang suara mayoritas di parlemen. Lebih lagi, Suu Kyi merupakan pemenang nobel untuk kategori perdamaian dan kemanusiaan (1991).

 

Menurut Syahganda, pemerintah Myanmar seharusnya dapat mengakhiri penderitaan kemanusiaan yang dialami kalangan muslim Rohingya karena sudah terjadi cukup lama. Bahkan, akibat malapetaka yang terjadi pada etnis Rohingya, protes keras kerap disampaikan berbagai kelompok pejuang kemanusian di dunia, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Organisasi Konferensi Islam (OKI), selain tak sedikit negara ikut mengutuk, di antaranya Amerika Serikat, yang meminta pemerintah militer Myanmar menghentikan pertumpahan darah dengan menyebabkan penderitaan muslim Rohingya itu.

 

Namun faktanya, pemerintah di negara itu tetap mendukung upaya pembunuhan sekaligus pengusiran dan memberlakukan etnis Rohingya tanpa status kewarganegaraan di Myanmar sejak berabad-abad lamanya. Menurutnya, rangkaian kekejian terhadap etnis muslim Rohingya berlangsung karena disengaja oleh kelompok ekstremis Budha melibatkan aparat keamanan pemerintah, baik berupa pembunuhan, penganiayaan dengan pemerkosaan, penjarahan harta benda, pembakaran pemukiman dan penodaan sarana ibadah, pengisolasian diikuti pengusiran, dan maupun sejumlah penistaan lain yang mengindikasikan pelanggaran berat Hak Azasi Manusia (HAM).”Semua bentuk kejahatan kemanusiaan dan ancaman itu memiliki tujuan ’pemberangusan’ ataupun ’pemusnahan’ atas keberadaan umat Islam di sana, yang praktiknya ditolerir oleh pemerintahan junta militer Myanmar,” ungkapnya.

 

Dipaparkan, dari jumlah penduduk Myanmar sekitar 50 juta saat ini, terdapat 89 persen berbangsa Burma sebagai pemeluk agama Budha di wilayah negara seluas 678,000 km2 itu. Sedangkan minoritasnya terdiri etnis Karen, Chin, Kachin, Shan, dan Rohingya yang memeluk Islam berkisar 4-5 persen dari total penduduk Myanmar.Muslim Rohingya pada umumnya mendiami Provinsi Arakan (dulu dikenal Rakhine). Mereka sudah berdatangan ke Myanmar mulai abab 8-9 Masehi dengan mengembangkan jalur perdagangan, yang meliputi asal-usul Benggali (Bangladesh), Turki, Persia, serta dari kawasan Arab.(IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?