Penderita Kusta di Sulteng Enggan Berobat

Palu - Pejabat Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah mengatakan, banyak penderita kusta di wilayahnya enggan berobat karena merasa malu. "Padahal kita sudah menyampaikan bahwa pengobatan itu gratis," kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, Saleh Amin, di Palu, Jumat (3/2).

Menurutnya, sebagian besar penderita kusta masih menganggap penyakit yang dialaminya adalah kutukan Tuhan sehingga mereka malu dan akhirnya malas berobat.

Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah mencatat jumlah penderita kusta di wilayahnya pada 2011 mencapai 302 orang, sedangkan pada 2010 tercatat sebanyak 285 penderita.

Saleh Amin memperkirakan masih banyak penderita kusta yang tidak tercatat sehingga bisa menularkan penyakitnya.

Menurut dia, kusta atau sering juga disebut lepra masih ditakuti karena dapat menyebabkan pemendekan jari-jari atau cacat tubuh sehingga menimbulkan masalah sosial, psikologis dan ekonomis.

Olehnya, jika mengalami gejala awal kusta segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit.

Saleh Amin menjelaskan kusta adalah penyakit infeksi menahun yang disebabkan kuman mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi.

Mycobacterium leprae merupakan salah satu kuman yang berbentuk basil yang tahan asam dan alkohol.

Cara penularan kusta bisa melalui pernafasan atau kontak kulit.

Saleh Amin menegaskan kusta bukan merupakan penyakit keturunan. Penderita kusta adalah orang yang punya satu atau lebih dari tanda pasti kusta yang ditemukan pada pemeriksaan klinis.

Tanda ini antara lain terdapat bercak putih pada kulit atau kemerahan dengan mati rasa, penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada otot tangan, kaki dan mata.

Pada umumnya tanda awal dari penyakit ini adalah perasaan tebal pada kulit. Rasa pertama yang hilang dari kulit adalah sensasi terhadap temperatur panas dan dingin, hilangnya sensasi sentuhan ringan, nyeri dan tekanan.

Saleh Amin mengatakan, kehilangan respon sensoris itu biasanya dimulai dari jari tangan dan kaki.

Dia menekankan agar penderita kusta agar berobat dengan pengobatan kombinasi guna mencegah timbulnya kekebalan kuman terhadap obat.

Obat antikusta yang paling banyak dipakai saat ini adalah diamino difenil sulfon (DDS), klofasimin dan rifampisin. [TMA, Ant]

 


Twitter Facebook

Tambah Komentar


Kode Keamanan
Perbaharui

Berita Terkini 

VMware View 5.1 "Kawinkan" Apple dan Android
Jakarta - Solusi virtualisasi dan infrastruktur Cloud VMware,Inc. memperkenalkan VMware View 5.1 yang menghubungkan berbagai perangkat seperti PC, komputer tablet dan ponsel pintar, baik berbasis...