| Pengantar Berita |
Ikon Bakso Taoge Jalan Steindamm Toko bumbu dapur yang dikelola Jamal, pemuda Indonesia keturunan Arab Manado dan Jerman, melayani seluruh Eropa, dari Inggris sampai Yunani. Ia menggunakan sistem prabayar (nachname), yaitu sistem prabayar yang pendebetannya dilakukan setelah barang diterima. Usahanya terus berkembang. Dia mengawali bisnis dengan menawarkan 400 jenis barang. Sekarang lebih dari 1.000 item ditawarkan secara online. Selama enam tahun bisnisnya berjalan, permintaan terlaris dari pelanggan tak beranjak dari kisaran beberapa jenis barang, seperti gula jawa, emping, teh botol, mi instan, dan ikan asin. Dengan empat pegawai, rumah makan dengan nama Cita Rasa --restoran bangkrut di samping toko yang dibelinya-- itu setiap hari menyiapkan 300 porsi hingga pukul enam sore. Kadang pukul tiga sore pun tak ada yang tersisa. Pada akhir pekan, Cita Rasa menyediakan menu khusus, yaitu bakso. "Orang Jerman di sini mulai makan bakso. Tadinya mereka pikir itu sup, tapi itu bakso. Lengkap dengan taoge, mi, sayur, jeruk, dan sambal," tuturnya.
[Ekonomi, Gatra Nomor 45 Beredar Kamis, 18 September 2008] |