Sarlito Wirawan: LGBT Gaul

Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, Gurubesar Psikologi UI (Majalah GATRA)
Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, Gurubesar Psikologi UI (Majalah GATRA)

Jakarta, GATRAnews - Siapa yang tidak tahu Dorce Gamalama? Semua pun tahu bahwa ibu berjilbab yang artis serba bisa dan filantropis ini adalah seorang transgender, jadi beliau tergolong LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Tetapi tidak ada yang pernah komplain tentang beliau, malah yang memuji amal Islam-nya banyak sekali, jadi Ibu Dorce adalah seorang LGBT yang lebih banyak manfaat dari pada mudaratnya untuk umat sekitarnya. 


Dulu di era Suharto juga pernah ada seorang menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (almarhum) yang sudah menjadi rahasia umum bahwa beliau adalah seorang gay, jadi LGBT juga. Tetapi juga tidak ada keluhan tentang beliau, bahkan kariernya menanjak terus dari seorang Kepala Rumah Tangga Kepresidenan sampai menjadi menteri dan hasil-hasil karya beliau masih ada sampai sekarang, terutama di bidang seni dan budaya. 


Dua tokoh di atas adalah contoh-contoh public figures yang LGBT dari sono-nya (bawaan) dan tidak mencoba lari dari kenyataan yang melekat pada dirinya, melainkan mencoba mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk kemashlatan orang lain. Dalam psikologi, LGBT (dulu dinamakan homoseksual saja) jenis ini dinamakan homoseksual tipe sistonik.  


Selain yang tipe sistonik, ada juga homoseksual tipe distonik, yaitu LGBT yang merasa tersiksa dengan keadaan dirinya yang homoseksual dan mencari bantuan konseling kepada psikiater atau psikolog untuk dikembalikan menjadi heteroseksual.

 

Celakanya, tidak sedikit psikiater atau psikolog yang tidak tahu, justru membantunya dengan memberikan terapi, mantra atau doa, bahkan ayat-ayat suci yang justru tidak akan berhasil dan membuatnya bertambah stres. 


Sepanjang yang saya tahu, Dorce Gamalama mendapat pencerahan justru setelah bertemu dengan Gus Dur (almarhum), yang seorang ulama (bukan psikiater atau psikolog) yang memberinya nasihat agar dia bersyukur atas pemberian Allah pada dirinya, menerima keadaan dirinya sendiri dan berbuat baik sebanyak-banyak yang dia mampu untuk membantu orang lain. 


Tetapi akhir-akhir ini, UI disibukkan dengan isu tentang LGBT masuk kampus. Bahkan Menteri Riset, Ilmu dan Teknologi, Muhamad Nasir, sempat mengeluarkan larangan untuk semua bentuk kegiatan (seminar, diskusi, konsultasi, konseling) yang menyangkut LGBT di semua kampus di seluruh Indonesia.  

 

Larangan ini tentu saja menjadi bahan tertawaan, karena jumlah LGBT yang asli (bawaan) sedikit sekali. Mereka bukan penyakit menular dan mereka yang LGBT sistonik justru lebih banyak yang membawa manfaat daripada mudarat kepada masyarakat di sekelilingnya. Sedangkan LGBT distonik lebih suka bersembunyi dan mencari bantuan profesional (tetapi justru dilarang?). 


Walaupun demikian, kekhawatiran Mensristek itu bukannya tanpa alasan. Di era gadget yang makin merajalela seperti sekarang ini, ideologi apa pun bisa dengan mudah merasuki benak anak-anak dan anak muda yang suka gaul. Dalam hal perilaku seksual, LGBT ini dianggap sebagai salah satu ancamannya.  

 

Ilustrasi LGBT Gaul (Majalah GATRA)
Ilustrasi LGBT Gaul (Majalah GATRA)

Secara kasatmata kita lihat, misalnya, sekarang makin banyak cowok pakai anting dan berambut panjang. Bahkan ada yang dinamakan cowok metroseksual, yaitu cowok ganjen yang doyan ke salon, creambath, manicure-pedicure, atau ke desainer untuk membuat baju yang eksklusif dan sebagainya. Tetapi mereka sama sekali bukan LGBT. Contohnya adalah David Beckam, pesepak bola yang juga foto model, dia seorang metroseksual yang jauh dari LGBT. 

 

Lain halnya dengan berbagai bar eksklusif untuk para gay yang banyak terdapat di Bangkok. Para pelayannya laki-laki semua dan kebanyakan dari mereka bukan gay. Mereka berperan jadi gay hanya kalau berdinas di malam hari untuk melayani para hidung belang yang doyannnya dengan sesama lelaki. 


Di siang hari mereka adalah mahasiswa atau karyawan biasa. Di Thailand pula banyak klinik-klinik operasi kelamin yang legal. Orang Amerika sekalipun yang ingin berganti kelamin kebanyakan malah pergi ke Thailand, karena mereka memberikan servis yang lebih baik, yang di Amerika Serikat sendiri jarang didapat. 


Di India, di kalangan beberapa etnik tertentu yang beragama Hindu, ada kasta tertentu yang sengaja dibiarkan menjadi transgender (waria), karena mereka dianggap sakti dan bisa menyembuhkan. Di Albania, wanita-wanita yang tidak punya suami atau tidak punya keturunan laki-laki yang bisa mempertahankan harta miliknya diizinkan untuk berperan sebagai laki-laki dan dihargai status kelaki-lakiannya, agar tidak ada yang mengganggu propertinya. 


Sementara itu di Amerika Serikat, Amerika Latin, dan negara Eropa lainnya setiap musim semi selalu diselenggarakan festival Mardigras, yaitu perayaan yang awalnya adalah tradisi Kristen, tetapi lama-kelamaan diadopsi menjadi festival gay.

 

Bahkan perkembangan mutakhir di luar sana sudah sampai mensahkan secara hukum perkawinan sesama jenis. Tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa kemungkinan merebaknya semua ideologi ataupun kebiasaan sangat tergantung kebudayaan lokal yang berlaku. 


Thailand dan India yang memeluk agama Budha dan Hindu tidak mempunyai ajaran atau sikap yang negatif pada LGBT. Sebaliknya, agama Kristen dan Islam mengharamkan homoseksual. Bahwa kemudian di AS dan negara-negara Eropa terjadi pelonggaran dan pelanggaran norma agama yang terkait dengan LGBT, ini adalah karena norma agama itu sendiri tidak lagi dianggap prioritas oleh masyarakat setempat. 


Lain halnya dengan di Indonesia. Reaksi Menristek menunjukkan reaksi bertahan (defense mechanism) dari salah satu unsur masyarakat terhadap ancaman LGBT yang dianggap membahayakan. Saya yakin, LGBT di Indonesia tidak akan punah, karena itu sebagian dari sunatullah juga. 


Tetapi saya juga percaya bahwa LGBT tidak akan membesar selama mayoritas umat Islam dan Kristen Indonesia masih menganggapnya sebagai aib. Dorongan penolakan akan selamanya lebih besar daripada desakan pengembangan diri kelompok itu, apalagi sebagian besar dari kelompok itu bukan LGBT asli, melainkan LGBT gaul (ikut-ikutan, gaya hidup dan lain-lain). 


Penulis: Sarlito Wirawan Sarwono 

Profesor Psikologi Universitas Indonesia 

Kolom Majalah GATRA no 14 tahun XXII, Beredar Kamis 4 Februari 2016

 

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain.  


Klik www.gatra.com/telkomsel untuk daftar online kartuHalo Telkomsel tanpa harus datang ke kantor GraPARI

Last modified on 11/02/2016

Share this article