Jalan Raya: Tempat Efektif Mendidik Karakter

Jakarta, GATRAnews - Jalan raya menjadi wahana paling strategis untuk mengajarkan nilai-nilai sosial kepada individu dan masyarakat umum sekalipun.

Sampai saat ini, sekolah diyakini sebagai tempat paling efektif menanamkan karakter kepada siswa. Tidak mengherankan ketika kemudian pemerintah menggencarkan pendidikan karakter di sekolah. Bahkan, pendidikan ini menjadi muatan utama kurikulum di sekolah.

Namun, penulis berkeyakinan lain. Sekolah bukanlah tempat efektif membentuk karakter siswa. Sekolah masih terlalu eksklusif untuk menanamkan nilai-nilai sosial kepada siswa. Bahkan, pendidikan karakter di sekolah masih berkutat pada masalah formalitas belaka. Penulis berpendapat bahwa tempat paling efektif untuk melakukan pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai sosial dalam diri individu adalah jalan raya.


Sekolah Eksklusif

Sekolah sebenarnya gagal menjalankan fungsinya sebagai benih penyemaian karakter sosial dalam diri anak karena masih bersifat eksklusif. Sekolah masih berisi anak-anak dari golongan yang sama, kelas sosial yang relatif sama, dan agama yang hampir sama (terutama di sekolah-sekolah berbasis agama).

Sekolah elite hanya diisi anak-anak kelas atas, sedangkan sekolah-sekolah di pinggiran dan pelosok desa diisi anak-anak kelas bawah. Di sekolah tidak ada interaksi antara anak-anak miskin dan kaya. Sekolah justru menjadi lembaga yang mewujudkan segregasi sosial (Goldhaber, 1996; Torres, 2006).

Selain itu, sekolah gagal mengajarkan toleransi karena anak tidak diajarkan secara langsung bagaimana mereka berinteraksi secara langsung setiap hari dengan anak-anak yang berbeda kelas sosial dan agama. Ini disebabkan setiap hari anak-anak hanya belajar dan berinteraksi dengan teman-teman yang relatif homogen dan situasi sosial di sekolah kurang berwarna.

Siswa gagal ''menghargai orang lain dari latar belakang yang berbeda''. Setiap hari mereka diajari untuk berkompetisi, menjadi yang terbaik, dan ''mengalahkan orang lain''. Kompetisi selalu diklaim sebagai senjata ampuh mengajari anak untuk maju dan ''menjadi lebih baik''. Padahal, kompetisi sejatinya hanya mengajarkan ''aku harus sama dengan teman-temanku agar aku bisa mengalahkan mereka''.

Sekolah tidak menyadari bahwa setiap anak adalah berbeda, sehingga mereka tidak layak dipaksa berkompetisi. Mereka memiliki potensi unik. Potensi anak adalah untuk dikembangkan, bukan untuk dibandingkan, disamakan, apalagi untuk diadu.

Sekolah kemudian hanya melahirkan generasi yang suka beradu dengan lainnya demi mencapai gelar siswa berprestasi. Sekolah gagal melahirkan siswa yang bangga dengan kelebihan atau potensi yang dimilikinya. Tidak ada lagi generasi yang berani mengalah demi kebaikan atau untuk membantu orang lain.


''Sekolah'' Inklusi

Mengapa jalan raya? Secara sosiologis, ada dua alasan yang menjelaskan mengapa jalan raya menjadi wahana paling strategis untuk mengajarkan nilai-nilai sosial kepada individu dan masyarakat umum sekalipun.

Pertama, jalan raya adalah ruang publik ''bebas kelas''. Siapa pun dapat mengakses jalan raya. Semua masyarakat dari semua golongan, usia, jenis kelamin, kaya-miskin, agama, suku, etnis, asal tempat tinggal, semua dapat menggunakan jalan raya dengan mudah dan gratis. Inilah ''sekolah inklusi'' yang sebenarnya.

Kita bandingkan dengan ruang sekolah yang terbatas hanya untuk kelompok tertentu saja. Sekolah favorit hanya untuk siswa kaya saja, dan mereka pun harus membayar lebih mahal. Sekolah Islam hanya untuk siswa muslim, sekolah dasar hanya diperuntukkan bagi individu usia tujuh sampai 12 tahun saja.

Sementara itu, di jalan raya, anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan remaja, orang dewasa, bahkan kakek-nenek sekalipun. Identitas pekerjaan, suku, dan agama, semuanya luntur di jalan raya. Semua berbaur menjadi satu. Untuk ''berinteraksi'' di jalan raya, semua orang tidak perlu saling berkenalan. Tidak ada pembedaan etnis, semua orang yang menggunakan jalan raya memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Kedua, jalan raya adalah ruang publik yang dapat diakses kapan saja. Tidak ada batasan waktu untuk menggunakan jalan raya. Pagi, siang, sore, dan malam kita dapat ''mengakses'' jalan raya. Sebaliknya, belajar di sekolah dibatasi waktu. Anak-anak berinteraksi di sekolah hanya dalam waktu tertentu. Alhasil, pendidikan sepanjang hayat mudah dilakukan di jalan raya.

Ketiga, jalan raya adalah ruang publik yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial yang sangat cepat. Di jalan raya, orang dapat berpindah dari status satu ke status yang lain. Seorang pengemudi mobil (sebagai simbol kelas atas) akan cepat berpindah status menjadi pejalan kaki (sebagai simbol kelas bawah). Perpindahan status ini hampir tidak akan terjadi di sekolah.
 
Melatih Diri

Banyak hal yang dapat dipelajari individu di jalan raya. Ketika individu dapat berinteraksi secara ''bebas'' di jalan raya. Individu akan belajar ''disiplin'', ''tertib'', ''sabar'', dan mampu ''menahan diri'': sabar untuk berjalan di jalanan yang ramai tanpa terburu-buru, sabar menahan emosi ketika lalu lintas macet, menahan diri dari keinginan membunyikan klakson untuk hal-hal yang tidak perlu, menahan diri untuk tidak mengendarai kendaraan dalam kecepatan tinggi, dan sebagainya.

Ketika menggunakan jalan raya, setiap individu sebenarnya juga sedang dilatih menghargai dan toleran terhadap orang lain. Kemungkinan terjadinya mobilitas sosial yang cepat di jalan raya, seharusnya menjadi alasan utama untuk setiap orang menghargai orang lain. Mereka seharusnya mampu menempatkan diri ''sebagai orang lain''.

Seorang pengendara motor atau mobil seharusnya menghargai keberadaan pejalan kaki dengan memberinya kesempatan menyeberang jalan. Memprioritaskan penyeberang jalan seharusnya menjadi budaya dan etika berlalu lintas. Akan tetapi, fenomena yang terjadi bukanlah demikian. Para penyebarang jalan justru harus rela menunggu sangat lama untuk menunggu lalu lintas lengang, meskipun mereka berada di zebra cross. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi ketika pengguna jalan lainnya mengutamakan pejalan kaki.

Ketika seorang pengemudi mobil atau pengendara motor dapat berempati, mereka pasti akan berpikir, ''Bagaimana jika saya menjadi penyeberang jalan itu?'' Untuk itu, mereka tentu dengan senang hati akan memberikan kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang jalan, dan bukan justru mengeraskan bunyi klaksonnya.

Pada intinya, jalan raya adalah tempat berlatih dan membentuk karakter individu. Semua orang dari berbagai golongan atau status sosial akan dikenai aturan yang sama. Ini adalah bentuk meritokrasi sempurna yang tidak pernah terwujud di sekolah.

Bagaimanapun juga, sekolah masih membeda-bedakan siswanya berdasarkan asal usul sosialnya. Si kaya akan mencapai prestasi tinggi lebih mudah daripada si miskin. Sementara, asal usul sosial tidak berlaku di jalan raya.

Akhirnya, jalan raya adalah media paling efektif sebagai sarana berlatih bagi setiap individu untuk mempelajari dan menerapkan berbagai nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Karakter masyarakat sebuah negara tercermin dari kondisi jalan raya.


Oleh: Nanang Martono
Dosen Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto; doktor sosiologi pendidikan dari Universitas Lyon, Prancis.

Share this article