GATRANEWS

Inilah Pahlawan Baru

Bung Karno dan Bung Hatta, dua proklamator Republik Indonesia, akhirnya tahun 2012 ini diputuskan mendapat gelar pahlawan nasional. Dalam masa Orde Baru, ada pro dan kontra tentang pemberian gelar pahlawan nasional untuk mereka, terutama untuk Bung Karno. ''Bung Karno sudah mendapat gelar proklamator RI, tidak ada yang lebih tinggi dari gelar itu, karena tidak akan ada lagi proklamasi," kata seorang pejabat pemerintah ketika itu, menyembunyikan alasan politik yang sebenarnya. 

 

Jenazah kedua proklamator itu tidak dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP). Jenazah Bung Karno terbaring bersama makam orangtuanya di Blitar, Jawa Timur, dan jenazah Bung Hatta di TPU (tempat pemakaman umum) di Tanah Kusir, Jakarta. Memang pahlawan bukan ''hanya'' mereka yang jenazahnya terbaring di TMP. Kata ''hanya'' sengaja saya beri tanda petik karena kata itu merupakan kunci dari jawaban atas pertanyaan: siapakah pahlawan itu? 

 

Jika kata ''hanya'' itu dibuang, maka artinya bertolak belakang dengan apa yang dipahami banyak orang selama ini. Jika kata itu dicoret, maka kalimat itu akan berbunyi: pahlawan bukan mereka yang jenazahnya terbaring di TMP. Ada lho yang setuju dengan pencoretan itu, karena mereka menganggap tidak semua yang jenazahnya dimakamkan di TMP adalah pahlawan. Oleh sebab itu, sejumlah tokoh, sekalipun menyandang hak untuk dimakamkan di TMP, karena memiliki tanda bintang gerilya atau gelar mahaputra, tidak mau dimakamkan di TMP. Alasannya, tidak mau jenazahnya berjejer dengan musuh negara dan musuh rakyat, terutama koruptor. 

 

Pahlawan Adalah Relawan 

Kepahlawanan masa kini, menurut saya, adalah kerelawanan dan pahlawan adalah relawan. Seorang relawan adalah orang yang dengan sukarela, tanpa pamrih, dan sukacita melakukan sesuatu untuk kebaikan orang banyak. Relawan tidak berharap apa-apa, baik tanda jasa maupun hak dimakamkan di TMP. Sebuah rumusan yang lebih lengkap tentang relawan atau volunteer dalam bahasa Inggris adalah orang yang dengan sukarela (tanpa diwajibkan atau tanpa dipaksa) memberikan waktu, tenaga, pikiran (keahlian), uang, dan harta bendanya atau gabungan semuanya untuk membantu orang lain tanpa pamrih demi mendapat kompensasi finansial, pujian, atau ganjaran lainnya. 

 

''Sukarela'' dan ''tanpa pamrih'' adalah dua kata kunci dalam rumusan ini. Dan, saya yakin, orang yang memiliki dua sifat luhur itu digerakkan oleh cinta kepada sesama, tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras, suku, golongan, agama, keyakinan ideologi politik, bangsa dan negara, tapi semata-mata demi ibadah kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pecinta. 



Relawan Sosial 

Dengan banyaknya masalah sosial, Indonesia kini memerlukan banyak relawan sosial, yakni orang yang secara sukarela dan tanpa pamrih membantu orang lain di bidang-bidang sosial, minus bidang politik. Ini membedakannya dari relawan politik yang sering muncul untuk mendukung partai politik tertentu menjelang pemilu/pilkada. 
Relawan sosial bekerja di bidang penanganan penyandang masalah sosial, kelompok rentan (penyandang cacat, anak, dan lansia), korban peristiwa alam (tsunami, gempa bumi, badai), dan bencana buatan manusia (man-made disaster) seperti banjir, tanah longsor, dan konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) sebagaimana yang baru saja meletus di Lampung. 

 

Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) yang diselenggarakan di Batam, Juli 2011, memutuskan secara aklamasi membentuk Ikatan Relawan Sosial Indonesia (IRSI), menindaklanjuti deklarasi IRSI tanggal 10 November 2010 di Surabaya dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Keanggotaan IRSI bersifat stelsel aktif, masing-masing menjadi anggota sebagai pribadi, lintas gender, usia, agama, suku, ras, ideologi, dan profesi.

 

Relawan dengan semangat kerelawanannya selalu diperlukan sepanjang zaman, sebab umat manusia tidak pernah lepas dari penderitaan akibat kemiskinan, kekurangan, dan bencana alam serta bencana buatan manusia. 
Tatkala sebuah negara dalam kesulitan karena minus keteladanan seperti Indonesia saat ini, relawan sosial dengan semangat kerelawanannya diperlukan sebagai penentu arus utama (mainstream) transformasi melalui kerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare), perubahan sosial (social change), dan keadilan sosial (social justice). 

 

Mencoba menangkap semangat zaman, Dompet Dhuafa (DD) memaknai Hari Pahlawan 2012 dengan aksi kerelawanan sosial, yakni membersihkan sampah bersama 1.000 relawan DD. Tidak mau ketinggalan, DD Yogyakarta menggelar aksi pembagian susu untuk para veteran setelah upacara di TMP. Barangkali sampah dan susu pas untuk memaknai kepahlawanan kini?

 

Parni Hadi,  Ketua Umum Ikatan Relawan Sosial Indonesia 

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?