Kelainan Bawaan Ancaman Baru Kematian Bayi

Jakarta, GATRAnews - Dalam lima belas tahun terakhir, Indonesia mengalami perubahan pola penyakit yang disebut transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian akibat penyakit tidak menular. Demikian pula penyebab kematian bayi, juga terjadi pergeseran.  Sudah terjadi penurunan  jumlah kematian karena asfiksia dan infeksi yang dulu merupakan penyebab utama kematian bayi yang baru lahir. Ancaman kematian bayi justru berasal dari kelainan bawaan dari janin.

Kelainan bawaan merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia. Berdasarkan laporan Riskesdas  (Riset Kesehatan Dasar) 2007,  kelainan bawaan berkontribusi 1,4 persen terhadap kematian bayai  0 – 6 hari dan 18,1% terhadap kematian bayi 7 – 28 hari.

Penelitian Kemenkes  lewat program Surveilans Kelainan Bawaan sejak September 2014 sampai Desember 2016 di 19 RS yang yang memiliki resiko pencemaran lingkungan tinggi menemukan 16 jenis kelainan bawaan yang paling sering muncul.  Dari 19 RS dilaporkan 494 kasus. Dari jumlah itu yang terbanyak adalah Talipes/kaki melengkung  (20,6%),  celah pada bibir dan langit-langit  dan neural tube defects masing-masing 99 kasus (20%) , Omphalochele 58 kasus (11,7 %), Atresia ani 50 kasus (10,1%) dan Gastroschisis 27 kasus (5,5%).

Laporan yang diterima kemenkes, pada 2014 dari 22 propinsi diketahui 77 persen penyebab kematian neonatal (bayi 0 -6 hari) adalah kelainan bawaan.  Sedikit turun dari 2013 yang mencapai 78 persen.

Menurut Direktur Kesehatan Keluarga  Kemenkes dr. Eni Gustina  MPH, penyebab kelainan bawaan itu disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat seperti kekurangan asam folat, merokok dan konsumsi alkohol. Juga kurang aktifitas fisik, mengkonsumsi obat-obat teratogenik (obat yang mengganggu pertumbuhan janin).  Selain itu dipengaruhi pula oleh pencemaran lingkungan seperti merkuri, timbal, arsen dan zat organophosphate pada pestisida.

“Di Brebes dan Bondowoso, kematian akibat kelainan bawaan sangat tinggi, mencapai 12 persen. Ternyata setelah diselidiki kandungan pestisida pada tanaman  dilingkungan mereka yang sangat tinggi,” kata  Eni Gustina di Jakarta, Senin (20/3).

Untuk mengkaji lebih jauh tentang pencegahan kelainan bawaan, Kemekes menggelar Seminar Kelainan Bawaan  bertema “Cegah Kelainan Bawaan  Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” . Seminar untuk memperingati hari Kelainan Bawaan Sedunia itu dilaksanakan pada hari Selasa 21 Maret 2017 di gedung Kemenkes Jakarta.



Editor: Rosyid

Share this article