GATRANEWS

1 dari 10 Penduduk Indonesia Pernah Terkena Hepatitis

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 200 orang dari lintas Kementerian, perwakilan rumah sakit, profesional, dan perwakilan LSM ikut ambil bagian dalam acara Seminar Pengendalian Hepatitis Secara Komprehensif di Indonesia, senin (8/4). Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), mengatakan keberhasilan pengendalian hepatitis sangat ditentukan oleh dukungan semua pihak.

 

“Saya berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan kurikulum pendidikan kesehatan bagi pelajar dan mahasiswa mengenai cara pencegahan dan penularan Hepatitis.” kata Tjandra. Perusahaan farmasi di bawah Kementerian Negara BUMN diharapkan dapat menyediakan obat Hepatitis dengan harga terjangkau. Peran lembaga donor dunia juga dinilai diperlukan untuk pendampingan dana pemerintah.

 

Menurut Tjandra, resolusi yang diagendakan WHO diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan perhatian serius pada pengendalian hepatitis, khususnya di Asia Tenggara yang merupakan wilayah endemis Hepatitis B. Acara ini juga dihadiri Presiden World Hepatitis Alliance dr. Charles Gore yang membawakan materi Viral Hepatitis: Public Awarness and Education in Indonesia.

 

Indonesia bersama Brazil menjadi pemrakarsa keluarnya Resolusi tentang Virus Hepatitis pada Sidang Majelis Kesehatan Dunia (WHA) ke 63 tahun 2010. WHO telah menjadikan virus Hepatitis sebagai salah satu agenda prioritasnya melalui Resolusi yang disebut 63.18. Untuk menindak lanjuti resolusi tersebut, Dirjen P2PL mengatakan, perlu mengkaji berbagai aspek lain dari Pengendalian Hepatitis. Misalnya imunisasi pada remaja dan dewasa, deteksi dini, akses diagnostik dan pengobatan yang terjangkau, keterpaduan antara progam Hepatitis, HIV-AIDS dan KIA, serta aspek pembiayaan kesehatan yang saat ini sudah dilakukan oleh Jamkesmas maupun Askes, yang kedepannya diharapkan dapat menjadi bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

 

Tjandra juga menjelaskan, hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 menunjukkan prevalensi Hepatitis B sebesar 9,4%. Artinya 1 dari 10 penduduk Indonesia pernah terinfeksi Hepatitis B. Jika dikonversikan dengan jumlah penduduk Indonesia, maka jumlah penderita Hepatitis B totalnya mencapai 23 juta orang. Hepatitis B adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan pemberian imunisasi. Pengendalian Hepatitis B dimulai dari penanganan pada Ibu hamil yang mengidap Hepatitis. Pemberian imunisasi pada bayi yang dilahirkan juga akan memutus mata rantai pertama penularan penyakit Hepatitis.

 

Imunisasi Hepatitis B di Indonesia diawali dengan proyek awal imunisasi pada bayi pada tahun 1987-1997 di Pulau Lombok. Pada bulan April 1997 imunisasi Hepatitis B masuk dalam program imunisasi nasional. Strategi penggunaan Uniject untuk imunisasi pada bayi baru lahir dilaksanakan sejak tahun 2003. Strategi imunisasi ini kemudian diadopsi oleh WHO dan 177 negara lain. Selain Hepatitis B, Hepatitis A dan C juga perlu mendapat perhatian. Hepatitis A sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sementara Hepatitis C sampai saat ini belum tersedia vaksinnya, sehingga upaya pencegahan melalui promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menghindari perilaku berisiko, serta penapisan darah donor menjadi prioritas. (*/Ven)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?