Jakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan, sebanyak 321 kabupatan dan kota di Indonesia beresiko tinggi terkena bencana.
"Berdasarkan peta multi-bahaya dari 13 jenis bencana, 321 (65%) kabupaten atau kota atau memiliki resiko tinggi terkena bencana. Sedangkan 173 kabupaten/kota beresiko sedang (35%)," ungkapnya kepada Gatra.com via telepon, Kamis, (8/2), di Jakarta.
Menurutnya, hal tersebut berdasarkan hasil peta resiko nasional yang telah diselesaikan BNPB. "Semua provinsi telah dipetakan 13 resiko bencana. Dalam peta itu, memuat peta bahaya, peta kerentanan, dan peta kapasitas.
Dijelaskannya, 13 jenis bencana yang ada di Indonesia, yaitu;gempabumi, tsunami, letusan gunungberapi, puting beliung, kekeringan, banjir, tanah longsor, gelombang pasang, kebakaran lahan dan hutan, epidemi dan wabah penyakit, gagal teknologi, kebakaran gedung dan permukiman, dan konflik sosial.
"Berdasarkan peta resiko tersebut, maka tidak ada kabupaten atau kota yang beresiko rendah terhadap bencana," ujarnya.
Atas dasar itu, menurutnya, pemerintah daerah (Pemda) perlu memberikan prioritas pembangunan terhadap penanggulangan bencana. Nanum pada kenyataannya, masih ada 138 kabupaten atau kota yang belum membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Yang sudah terbentuk BPBD pun, nyatanya masih sangat terbatas dukungan anggaran, peralatan, dan SDM-nya sehingga pemda bersama DPRD perlu memberikan dukungan," jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut merupakan kewenangan bupati atau walikota bersama DPRD. "Jika tidak, maka bencana akan terus menimbulkan kerusakan dan kerugian yang besar," tegasnya. [IS]