GATRANEWS

KPAI Akan Panggil Guru dan Kepsek SDN 25

Jakarta, GATRAnews - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) segera memanggil guru dan kepala sekolah SDN 25 Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, untuk dimintai klarifikasi atas dugaan tindakan intimidasi lisan, sebagaimana pengaduan enam orangtua siswa yang tergabung dalam Mama Peduli.

"Langkah pertama, kita akan selesaikan kasusnya, kita akan panggil guru dan kepala sekolah," kata Ketua KPAI, Badriyah Fayumi kepada Mama Peduli di KPAI, Jakarta Pusat, Senin (15/4).

Setelah memanggil dan memintai klarifiasi guru dan kepsek SDN 25 tersebut, pihak KPAI juga akan memanggil kembali Mama Peduli untuk memediasi permasalahan tersebut.

"Kita panggil terlapor (guru dan kepsek, Red.), kemudian memanggil pelaor (orangtua siswa, Red.) dan kita pertemukan untuk mediasi," ujarnya.

Saat disinggung soal rekomendasi yang akan diberikan kepada pihak sekolah atau pihak terkait lainnya, Badriyah mengatakan, hal itu tergantung dari hasil mediasi, jika terbukti para guru dan kepala sekolah tersebut melakukan intimidasi dan sejumlah pungutan liar sebagaimana diadukan Mama Peduli.

"Rekomendasi nanti akan dikeluarkan jika terbukti, tapi itu tergantung kasusnya," jawab Badriyah.

Sedangkan terkait pungutan liar, Badriah menjelaskan, hal itu perlu diselesaikan denggan Dinas Pendidikan. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan KPAI juga memanggil pihak Dinas Pendidikan untuk dimintai klarifikasi.

Langkah tersebut akan ditempuh KPAI setelah mendapat laporan dari enan orangtua siswa kelas II SDN Utan Kayu Selatan, yang mengadu karena ada dugaan intimidasi lisan terhadap anak-anaknya, setelah orangtuanya menolak membayar sejumlah pungutan yang dinilainya merupakan pungutan liar.

"Tito sering diimintimidasi oleh wali kelas, semacam bahasa yang tidak pantas, sehingga mengganggu mental anak saya. Seharusnya guru itu tidak sampaikan seperti itu, karena dia cermin, kami menyekolahkan dan mempercayakan kepada mereka (guru, Red.)," kata Ketua Mama Peduli, Noviana Eka Purnama, yang merupakan ibu dari Tito.

Eka menuturkan, seorang guru bahkan pernah mengingatkan anak didiknya agar tidak berlaku "macam-macam" seperti orangtua mereka yang ditudingnya berulah, karena tidak setuju dengan berbagai pungutan liar.

"Bu Tuti bilang, jangan macam-macam, nanti masuk koran, seperti ibu kalian yang jahat-jahat," tutur Eka, menirukan ucapan putranya.

Kemudian, imbuh Eka, karena anaknya tidak bisa ikut karyawisata ke Puncak, Jawa Barat, akibat tidak mampu membayar biaya sebesar Rp 150.000, anaknya kerap disindir oleh beberapa guru.

"Saat tidak ikut karyawisata, dikatain orangtua kalian kere-kere. Ini pernah dikeluhkan anak saya," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Mama Peduli, Siti Aminah yang putrinya mengalami hal serupa dari gurunya. Siti mengatakan, Tuti pernah menyindir anaknya karena tidak bisa ikut karyawisata.

"Aulia anaknya selalu merekam apa yang disampaikan gurunya. Dia mengadu ke saya, Bu Tuti menyebut orangtua kalian kere-kere, sampai anak saya trauma, dia takut ke kantin karena saat mau jajan ada Bu Ria, Yanti, dan Tuti yang suka bilang, itu anak pengadu," ujarnya.

Bahkan, imbuh dia, salah seorang guru kelas V pernah menyarankan seorang guru lainnya agar "memainkan" nilai murid-murid yang orangtuanya kerap melaporkan pungutan liar kepada dinas terkait, bahkan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok. (IS)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?