GATRANEWS

ICRAF: Agroforestri Terbukti Menguntungkan

Malang, GATRAnews - Dalam tiga dekade terakhir, perkembangan riset agroforestri telah berkembang pesat. Hal yang paling menggembirakan adalah pada akhirnya agroforestri dapat diterima di lingkungan Kementrian Kehutanan. Ini ditandai dengan masuknya istilah agroforestri di rumusan kebijakan pemerintah di bidang kehutanan. Hal tersebut dikemukakan Dr. Meine van Noordwijk, Chief Science Advisor World Agroforestry Centre (ICRAF) dalam seminar Agroforestri untuk Pangan dan Lingkungan yang Lebih Baik.

 

Setidaknya, sekitar 300 peserta terlibat dalam seminar yang diselenggarakan atas kerja sama Balai Penelitian Teknologi Agroforestri (BPTA Litbang Kementrian Kehutanan), Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, ICRAF dan Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI) di Widya Loka Kampus Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (21/5). Mereka terdiri dari para peneliti, praktisi, penyuluh, dosen, mahasiswa, aktivis lembaga swadaya masyarakat dan perwakilan berbagai instansi pemerintah baik pusat dan daerah.

 

Selain proses pada kebijakan, lanjut Meine, bukti lain adalah berdirinya Balai Penelitian Teknologi Agroforestri di Ciamis pada 2011, yang turut didukung ICRAF. Oleh sebab itu, Meine yakin jika kesadaran agroforestri telah terbentuk dan terbukti menguntungkan secara ekonomi, maka sejumlah persoalan berat Indonesia di bidang lahan dapat sedikit demi sedikit terurai. "Kemungkinan lahan hutan atau kebun untuk dialihgunakan menjadi bentuk penggunaan lain relatif kecil, peluang masyarakat berpindah lahan garapan pun akan menjadi lebih kecil, kecuali tentunya bila ada tawaran lain yang jauh lebih menarik," ujar Meine dalam keterangan pers yang diterima GATRAnews.

 

Namun secara umum, lanjut Meine, sistem agroforestri relatif lebih aman dari resiko gagal panen, lebih stabil dari fluktuasi harga pasar dan lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim. "Inilah yang menjadi kekuatan agroforestri sebagai buffer terhadap goncangan biofisik, ekonomi dan sosial yang bisa menjamin keberlangsungan penghasilan para petani dalam kerangka ekonomi hijau.

 

Lebih lanjut, Meine menyebutkan seminar ini tak lepas dari hasil renungan 20 tahun ICRAF berkiprah di Indonesia. "Serta 100 tahun penelitian kehutanan dengan pendirian kantor di Gunung Batu Bogor tahun 1913 oleh Pemerintah Belanda,” tambah doktor dari Universitas Wageningan Belanda, yang bergabung dengan ICRAF pada 1993 ketika pusat agroforestri dunia ini memulai operasinya di Indonesia. (Nhi)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?