GATRANEWS

Setelah Kondom Gratis, Forum Pemred Ricuh

Jakarta, GATRAnews - Setelah heboh pembagian kondom gratis merek Meoong, acara Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) yang dihelat di Bali selama dua hari, Rabu-Kamis (13-14/6), masih dihebohkan satu peristiwa lagi, yang memicu kericuhan di kalangan para petinggi media massa di Tanah Air itu.

Kejutan itu berupa kericuhan saat jamuan makan malam yang dihelat di Stone Hotel Bali, Kamis malam. Suasana tiba-tiba berubah menjadi keruh, hingga memicu sejumlah Pemred memilih keluar dari tempat jamuan makan malam itu.

Apa pasal? Ternyata, sang pemilk The Stone Hotel, Oesman Sapta, pada jamuan makan tersebut, tiba-tiba meluncurkan media bernama "Suara Forum Pemred" dan "MenitTV", yang sebenarnya tidak ada dalam jadwal jamuan tersebut.

"Pada malam ini, saya luncurkan media baru, 'Suara Forum Pemred' dan 'MenitTV'. Inilah media para pemred untuk menyalurkan aspirasinya," ucap Oesman, seperti dilansir dalam milis wartawan.

Selain itu, Oesman juga mempersilakan semua Pemred bergabung dengan media yang baru dirilisnya itu. "Apabila di antara saudara tidak kerasan lagi di tempat kerja sekarang, media ini bisa menampung," ujarnya, seraya menunjukkan halaman demi halaman Suara Forum Pemred tersebut di atas layar.

Sejurus kemudian, pembawa acara memanggil Ketua Forum Pemred, yang juga Pemred Majalah Tempo, Wahyu Muryadi; Pemred Metro TV, Suryopratomo; Pemred Kompas, Ricard Bagun, Pemred Jurnas, Asro Kamal Rokan, dan Pemred Suara Pembaruan, Primus Dorimoru; serta Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, untuk menerima edisi perdana Suara Forum Pemred.

Setelah dipanggil beberapa kali, Asro dan Primus tak juga naik panggung, sehingga pembawa acara meminta agar Oesman Sapta menyerahkan edisi perdana Suara Forum Pemred kepada Wahyu, Suryopratomo, Ricard, dan Agus.

Setelah penyerahan edisi perdana Suara Forum Pemred kepada kelima petinggi media massa ternama itu, tidak ada tepuk tangan sama sekali, apalagi suara gemuruh sorak sorai.

Sementara itu, di meja bagian tengah terdengar keributan kecil. Seorang mantan Pemred menggerutu atas peluncuran dua media milik Oesman Sapta tersebut, yang memang tidak ada pemberitahuan jadwal peluncurannya dalam acara tersebut.

Beberapa Pemred mengaku dipecundangi oleh Oesman Sapta. Lebih dari itu, mereka tidak habis mengerti, mengapa Oesman Sapto menamai medianya dengan Suara Forum Pemred. "Terlalu mahal harga makan malam di sini. Ayo keluar!" seru seorang Pemred media online.

Beberapa Pemred pun sepakat untuk walk out dan langsung ngibrit meninggalkan ruangan jamuan makan malam tersebut sebagai protes tidak suka dimanfaatkan oleh Oesman Sapta.

"Tidak ada agenda peluncuran. Kita datang ke sini untuk makan malam. Tapi dipecundangi. Kita makan malam di luar saja!" kata seorang Pemred media cetak Jakarta.

Meski demikian, acara makan malam tetap berlanjut. Namun suasana jadi tidak nyaman. Hampir semua peserta merasa dimanfaatkan oleh Oesman Sapta. Mereka juga menyayangkan sikap beberapa Pemred yang mau begitu saja tampil dipanggung dan ikut menerima edisi perdana Suara Forum Pemred yang diterbitkan Oesman Sapta.

Sejumlah Pemred menggerutu, seharusnya Wahyu Muryadi cs mestinya protes, bukan malah ikut meluncurkan media Oesman Sapta dan para petinggi media massa ini tidak ingat pepatah yang sering mereka kutip, "Tidak ada makan siang gratis."

Menurut Atma Kusumah, ongkos perjalanan dari narasumber atau potensial narasumber masuk kategori amplop. Ini dibahas dalam Pelatihan Kode Etik yang dibuat LPDS-Dewan Pers yang diikutinya.

"So, kalau seluruh Pemred diongkosi pihak lain, jalan-jalan ramai-ramai, pesawat gratis, hotel gratis, makan gratis, bahkan kondom gratis, itu apa namanya? Jadi malu ngajar etika jurnalistik," cetusnya.

Sesuai acara, besok para petinggi media massa nasional ini akan ke Tanah Lot, ucap Atmakusumah. "Mau apa gitu dengan sponsor Danone dan apa gitu, ntar malam kabaret. Ngerinya, semalam meong-meong cantik sudah masuk ke kamar masing-masing peserta. Maklum satu orang satu kamar," ujarnya.

Kejadian tersebut membuktikan analisa sejumlah wartawan politik tentang Forum Pemred. Pasalnya, sejak dibentuk sampai saat ini, mulai terkuak ketidakberesan forum tersebut. Berdasarkan pengamatan wartawan di Jakarta, gelagat "menginjak kaki" para pengusaha, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menteri hingga presiden sudah mulai terendus.

Berdasarkan informasi yang beredar, untuk melakukan hal tersebut dioperatori oleh tiga orang, termasuk yang saat ini menjadi keua forum tersebut. Sedangkan yang lainnya hanya dayang-dayang saja dan hanya mendapat recehan.

Saat pembentukan forum tersebut, beberapa wartawan Jakarta mengatakan, suatu saat, ketika mereka yang "diinjak kakinya" kesel, sewot, marah atas ulah Forum Pemred, mereka akan membongkarnya.

Pertemuan di Bali itu merupakan awal yang memalukan bagai profesi jurnalistik. Tidak ada yang dibanggakan lagi ketika Pemred sudah bermain mata. Pemred bekoalisi dengan penguasa dan pengusaha. Tak ada lagi independensi dalam media. (IS)

 

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?