GATRANEWS

Lokomotif Tabrak Dinding Pembatas Saat Uji Pengereman
Saturday, 29 August 2015

Yogyakarta, GATRAnews - Sebuah lokomotif yang tengah melakukan uji pengereman, menabrak dinding...
Tiket.com Tingkatkan Wisatawan via Teknologi Informasi‬
Saturday, 29 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Perusahaan travel online rintisan, Tiket.com, sepakat melakukan kerja sama...
KOHATI PB HMI Ikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR RI
Saturday, 29 August 2015

Jakarta,GATRAnews - Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan...
Ketua MPR: Saatnya Kita Pusatkan Pembangunan Pada SDM
Saturday, 29 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan mengaku tak habis pikir mengapa kesejahteraan...
Anggota MPR Paparkan Sejarah Konstitusi RI dari Masa ke Masa
Saturday, 29 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Anggota MPR RI dari Fraksi PPP Drs. H. Zainut Tauhid Sa'adi, M. Si. memaparkan...
Harga Minyak Brent Kembali Sentuh US$ 50 per Barel
Saturday, 29 August 2015

New York, GATRANews - Harga minyak mentah dunia mencetak kenaikan besar dua berturut-turut...
Penuhi Hak Anak, Banyuwangi Diganjar KPAI Award
Friday, 28 August 2015

Banyuwangi, GATRAnews - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan penghargaan kepada...
Menpora Dampingi Menko PMK Lepas Peserta Sail Tomini 2015
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Hari Jumat (28/8) pagi Menpora Imam Nahrawi mendampingi Menteri Koordinator...
Asisten Deputi OKP Mandir Ahmad Hadiri Rakornas KHMDI XII
Friday, 28 August 2015

Lampung, GATRAnews - Asisten Deputi Organisasi Kepemudaan Kemenpora Mandir Ahmad Syafii, mewakili...
Kontingen Sepakbola Pelajar Asia Indonesia U-18 Dilepas Deputi IV
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Kontingen Sepakbola Pelajar Asia Indonesia U-18 yang akan bertanding ke...
Deputi I Menerima Kunker Komisi IV DPRD Lampung Utara
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Hari Kamis (27/8) pagi, Deputi I Bidang Pemberdayaan Pemuda Yuni Poerwanti...
Gelorakan Semangat Bahari Bersama Sail Tomini 2015
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Menpora Imam Nahrawi hari Kamis (27/8) malam didampingi Deputi Bidang...
Pentingnya Bisa Menulis Berita di Kemenpora
Friday, 28 August 2015

Bogor, GATRAnews - Hari Kamis (27/8) Kepala Biro Humas, Hukum dan Kepegawaian, Sriyono membuka...
Kawasan Timur Butuh Jaringan Listrik 35 Ribu MW
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah akan terus menambah kapasitas pembangkit listrik di Tanah Air....
BKPM: JK Dorong Investasi dari Korsel
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani mengatakan, pertemuan...
Himpunan Alumni Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) Diterima Menpora
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Hari Kamis (27/8) Menpora Imam Nahrawi didampingi Sesmenpora Alfitra Salamm...
BI: Inflasi Akhir Agustus 0,3%
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan, hingga pekan terakhir Agustus inflasi...
Menpora Menerima Wakil Menteri Olahraga, Pariwisata dan Budaya Korea Kim Chong
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Menpora Imam Nahrawi hari Kamis (27/8) sore menerima kunjungan Wakil Menteri...
September, Harga BBM Tidak Naik
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak akan menaikkan atau...
Pelni Gandeng BRI Luncurkan e-ticketing
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - PT Pelayaran Indonesia atau PT Pelni (Persero) bersama Bank BRI melakukan...

Syiah-Sunni Membara, Sampang Berdarah

Suasana Idul Fitri di Madura, Jawa Timur, ternoda dengan tragedi bentrok antar aliran beragama. Pada Minggu (26/8/2012), kelompok Islam Syiah dan Sunni adu gebuk, hingga menyebabkan satu orang tewas. Bahkan Kapolsek Omben, AKP Aris, turut menjadi korban dalam bentrokan tetsebut. Kapolsek dikabarkan mengalami luka parah akibat sabetan parang.

Satu warga yang tewas akibat bentrokan di Desa Karang Gayam kecamatan Omben dan Desa Bluuran Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang, Jawa Timur, itu adalah pengikut syiah bernama Hamamah (39). ia menghembuskan nafasnya di tengah kerumunan masa.

Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Hadiatmoko membenarkan informasi tersebut. "Aksi tersebut menyebabkan satu korban tewas, dua orang mengalami kritis dan empat orang luka-luka, termasuk di dalamnya Kapolsek Omben AKP Aris Dwiyanto yang terkena lemparan pecahan genting di pelipis kirinya," terangnya.

Ditambahkan Hadiatmoko, tindakan yang dilakukan sekelompok masyarakat tersebut sudah anarkis, sehingga pihaknya akan melakukan tindakan tegas dan terukur. "Ini murni pidana dan kami tegas untuk melakukan tindakan," tandasnya.

Tak hanya itu menurut keterangan beberapa warga yang berada di lokasi, puluhan warga antara Syiah dan Suni mengalami luka-luka akibat saling serang dengan mengunakan clurit dan pedang. "Satu warga Syiah bernama Husin tadi saya lihat tangannya putus," terang salah satu warga yang engan di sebutkan namanya.

Sementara beberapa wartawan yang melakukan peliputan di larang masuk kelokasi oleh sabagian warga lantaran isu adanya dipasangi bom atau ranjau yang teruat dari petasan bom untuk mengamankan rumah pengikut syiah. Pada minggu sore, massa dari Islam Sunni berkumpul dengan membawa berbagai senjata tajam.

Sementara upaya aparat untuk membujuk warga untuk bubar, tidak membuahkan hasil. Puluhan aparat kepolisian berjaga-jaga di lokasi pintu masuk Kecamatan Omben hingga menuju Desa Karang Gayam yang menjadi lokasi basis Syiah. Tak hanya itu, iring-iringan kendaraan pasukan Brimob juga memasuki lokasi.

Pemicu Masalah

Informasi yang beredar, bentrok Syiah-Sunni di Sampang berawal dari rombongan siswa dari komunitas Syiah yang akan kembali ke Bangil, Pasuruan. Saat hendak kembali itu, puluhan massa sudah menghadang dan mengancam akan membakar dan membunuhnya.

"Anak-anak komunitas tersebut akan kembali ke Bangil setelah mengikuti Lebaran," kata Kulsum, istri Tajul Muluk, ustad kelompok Syiah. Tajul Muluk adalah pimpinan dari komunitas Syiah Sampang yang telah divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sampang karena dituduh melakukan penodaan agama.

Pelarangan dan penghadangan para pelajar Syiah itu kemudian berlanjut dengan aksi pembakaran pekarangan rumah mereka di 20 titik. Jumlah rumah yang terbakar mencapai 37. Sekelompok massa itu menyerbu dan mendatangi rumah istri Tajul Muluk.

Rumah Tajul Muluk pernah dibakar oleh sekelompok pemuda antisyiah pada akhir Desember 2011. Namun rumah dari sisa-sia kebakaran yang ditempati oleh Ny Kulsum, istri Tajul Muluk, beserta dua anaknya itu pun kembali dibakar oleh para pemuda antisyiah.

Aksi pembakaran mengakibatkan bentrok antara dua kelompok. Pemuda dari komunitas syiah Sampang yang ingin melindungi keluarga Tajul Muluk membalas aksi pelemparan dari sekelompok massa tersebut. Belasan rumah milik pengikut Syiah hangus rata menjadi tanah.

Setelah membakar belasan rumah pengikut Syiah, ribuan massa dari kelompok Sunni mulai melakukan penyisiran dengan bergerombol di sekitar SDN Karang Gayang, Omben, Sampang yang diduga menjadi tempat persembunyian beberapa warga Syiah. Hingga minggu malam, beberapa rumah pengikut Syiah masih mengepulkan asap pasca pembakaran oleh massa.

Untuk mengantisipasi kejadian agar tidak meluas, beberapa pasukan bantuan mulai didatangkan. Satuan Peleton Brimob Pamekasan pun menjaga lokasi tersebut hingga Senin (27/8/2012) pagi ini. "Kami menerjunkan satu peleton," kata Iptu Didik Sulityoso, Kasubden Brimob Pamekasan di lokasi, Minggu (26/8/2012), seperti dikutip Antara.

Persoalan Keluarga

Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya, KH Rois, yang beraliran Sunni. Ketua Bidang Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia, Hertasning Ichlas, pernah mengatakan bahwa konflik Sampang bukan bermotif masalah perbedaan mazhab, namun murni berlatar belakang masalah keluarga.

"Saat ini telah terjadi opini yang salah kaprah di kalangan media. Substansinya bukan pada pergolakan mazhab tetapi soal keluarga," ungkapnya. Dituturkan oleh Hertasning, perseteruan  berawal dari sebuah keluarga terpengaruh, yakni antara Tajul Muluk Syiah dan Rois (33) yang merupakan prepresentasi Islam Sunni di daerahnya.

Suatu ketika, Rois berkeinginan untuk menikahi salah satu santri putri Tajul Muluk. Hasrat Rois  tidak dipenuhi Tajul Muluk. Pasalnya, Rois tukang kawin dan tabiat negatif itu kurang mendapat tempat di hatinya, sehingga  melarang Rois mempersunting salah satu santri putrinya. Lantaran merasa ditentang, emosi jiwa muda  Rois meledak-ledak dan mengajak pihak-pihak lain yang memang punya sentimen negatif kepada Tajul Muluk untuk melampiaskan amarahnya.

Gayung bersambut, amarah Rois tersalurkan dengan melakukan pembakaran pesantren dan rumah ibu serta adiknya. "Kebetulan Tajul Muluk ini dahwahnya mulai naik daun dan mungkin ada yang merasa tersaingi. Pihak-pihak yang tersaingi inilah yang ditunggangi atau dimanfaatkan Rois untuk membalas sakit hatinya karena gagal melancarkan hasrat menikahi salah satu santri Tajul," tuturnya.

Dikatakan Hertasning, konflik keluarga dibawa-bawa ke medan mazhab. "Persoalan mendasar yang memalukan ini tidak banyak diketahui orang. Media dan tokoh agama lebih sibuk membincang masalah konflik antara Sunni dan Syiah," ujarnya.

Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.

Bentrokan pernah terjadi pada 29 Desember 2011. Kala itu terjadi pembakaran rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah. Sebanyak 335 orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika itu. (HP, Ant)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?