GATRANEWS

Jakarta Diguyur Hujan, Pohon Tumbang dan Genangan di Ruas Jalan
Saturday, 19 April 2014

Jakarta, GATRAnews – Hujan mengguyur Kota Jakarta dan sekitarnya sejak siang hingga sore hari....
Bus Transjakarta Mogok Tersangkut Pembatas
Saturday, 19 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Bus Transjakarta bernomor TJ00023 mogok di tengah hujan deras karena...
Libur Panjang, Bandung "Diserbu" Wisatawan
Saturday, 19 April 2014

Bandung, GATRAnews - Memasuki libur panjang tiga hari (liburan Paskah plus akhir pekan), arus...
Gempa Susulan Guncang Gunung Kidul DIY
Friday, 18 April 2014

Bandarlampung, GATRAnews - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan adanya...
Ratusan Polisi dan Satpol PP berjaga-jaga di Katedral Jakarta
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 123 petugas dari Kepolisian Sektor Sawah Besar dan Satuan Polisi...
Tol Jagorawi dan Cikampek masih Padat
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Liburan panjang hari Paskah betul betul membuat warga Jakarta bepergian ke...
Jakpro Janjikan Rebalancing Kontrak Palyja
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - PT Jakarta Propertindo (Jakpro) segera me-rebalancing kontrak jika sukes...
APBD DKI Disusupi 18.000 Mata Anggaran Ganda‏!
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 18.000 mata anggaran dalam Anggarran Pendapatan dan Belanja Daerah...
Takut Pinalti, PAM Jaya Tidak Ikut Campur Akusisi Palyja‏
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah DKI Jakarta berupaya mengakusisi 100% saham PT Palyja yang dimiliki...
LBH Jakarta: Swastanisasi Air, DKI Rugi Rp 1,1 Triliun!
Friday, 18 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Akumulasi kerugian Pemprov DKI Jakarta akibat swastanisasi air di Jakarta...
KCJ Janji Perbaiki Stasiun Sudirman‏
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) menjanjikan penataan Stasiun Sudirman,...
Pengamat Khawatirkan Ujian Nasional SD di Jakarta Telat‏
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pengamat Pendidikan Dharmaningtyas mengkhawatirkan Ujian Sekolah Berstandar...
Naskah Telat Dicetak, Ujian Nasional SD di Jakarta Terancam Molor
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Daerah (USBD) tingkat Sekolah Dasar (SD)...
BPN Jaksel Luncurkan ''Pesat'' dan ''Night Service''
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan mulai Sabtu (26/4) pekan depan...
Lahan Parkir Blok G Tanah Abang Dibahas Pekan Depan‏
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah DKI bersedia membangun lahan parkir untuk kendaraan roda dua dan...
PT KAI Minta Maaf, Pemblokiran Stasiun Bekasi Berakhir
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Aksi unjuk rasa penumpang dengan cara memblokir Stasiun Kereta Api Bekasi...
Stasiun Bekasi Diblokir, Perjalanan KA Terganggu
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Ribuan calon penumpang kereta api di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, memblokir...
Sekarang Bisa Beli Tiket KRL dengan E-Money
Thursday, 17 April 2014

Jakarta, GATRAnews - PT KAI Commuter Jakarta (KCJ) meluncurkan layanan isi ulang (reload) tiket...
Jokowi Janjikan Revitalisasi Terminal Selesai di 2014‏
Wednesday, 16 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meresmikan penggunaan terminal bus...
Pekan Depan DKI Bangun Dua Waduk Baru‏
Wednesday, 16 April 2014

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah DKI Jakarta akan memulai pembangunan dua waduk baru di Ibukota...

Syiah-Sunni Membara, Sampang Berdarah

Suasana Idul Fitri di Madura, Jawa Timur, ternoda dengan tragedi bentrok antar aliran beragama. Pada Minggu (26/8/2012), kelompok Islam Syiah dan Sunni adu gebuk, hingga menyebabkan satu orang tewas. Bahkan Kapolsek Omben, AKP Aris, turut menjadi korban dalam bentrokan tetsebut. Kapolsek dikabarkan mengalami luka parah akibat sabetan parang.

Satu warga yang tewas akibat bentrokan di Desa Karang Gayam kecamatan Omben dan Desa Bluuran Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang, Jawa Timur, itu adalah pengikut syiah bernama Hamamah (39). ia menghembuskan nafasnya di tengah kerumunan masa.

Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Hadiatmoko membenarkan informasi tersebut. "Aksi tersebut menyebabkan satu korban tewas, dua orang mengalami kritis dan empat orang luka-luka, termasuk di dalamnya Kapolsek Omben AKP Aris Dwiyanto yang terkena lemparan pecahan genting di pelipis kirinya," terangnya.

Ditambahkan Hadiatmoko, tindakan yang dilakukan sekelompok masyarakat tersebut sudah anarkis, sehingga pihaknya akan melakukan tindakan tegas dan terukur. "Ini murni pidana dan kami tegas untuk melakukan tindakan," tandasnya.

Tak hanya itu menurut keterangan beberapa warga yang berada di lokasi, puluhan warga antara Syiah dan Suni mengalami luka-luka akibat saling serang dengan mengunakan clurit dan pedang. "Satu warga Syiah bernama Husin tadi saya lihat tangannya putus," terang salah satu warga yang engan di sebutkan namanya.

Sementara beberapa wartawan yang melakukan peliputan di larang masuk kelokasi oleh sabagian warga lantaran isu adanya dipasangi bom atau ranjau yang teruat dari petasan bom untuk mengamankan rumah pengikut syiah. Pada minggu sore, massa dari Islam Sunni berkumpul dengan membawa berbagai senjata tajam.

Sementara upaya aparat untuk membujuk warga untuk bubar, tidak membuahkan hasil. Puluhan aparat kepolisian berjaga-jaga di lokasi pintu masuk Kecamatan Omben hingga menuju Desa Karang Gayam yang menjadi lokasi basis Syiah. Tak hanya itu, iring-iringan kendaraan pasukan Brimob juga memasuki lokasi.

Pemicu Masalah

Informasi yang beredar, bentrok Syiah-Sunni di Sampang berawal dari rombongan siswa dari komunitas Syiah yang akan kembali ke Bangil, Pasuruan. Saat hendak kembali itu, puluhan massa sudah menghadang dan mengancam akan membakar dan membunuhnya.

"Anak-anak komunitas tersebut akan kembali ke Bangil setelah mengikuti Lebaran," kata Kulsum, istri Tajul Muluk, ustad kelompok Syiah. Tajul Muluk adalah pimpinan dari komunitas Syiah Sampang yang telah divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sampang karena dituduh melakukan penodaan agama.

Pelarangan dan penghadangan para pelajar Syiah itu kemudian berlanjut dengan aksi pembakaran pekarangan rumah mereka di 20 titik. Jumlah rumah yang terbakar mencapai 37. Sekelompok massa itu menyerbu dan mendatangi rumah istri Tajul Muluk.

Rumah Tajul Muluk pernah dibakar oleh sekelompok pemuda antisyiah pada akhir Desember 2011. Namun rumah dari sisa-sia kebakaran yang ditempati oleh Ny Kulsum, istri Tajul Muluk, beserta dua anaknya itu pun kembali dibakar oleh para pemuda antisyiah.

Aksi pembakaran mengakibatkan bentrok antara dua kelompok. Pemuda dari komunitas syiah Sampang yang ingin melindungi keluarga Tajul Muluk membalas aksi pelemparan dari sekelompok massa tersebut. Belasan rumah milik pengikut Syiah hangus rata menjadi tanah.

Setelah membakar belasan rumah pengikut Syiah, ribuan massa dari kelompok Sunni mulai melakukan penyisiran dengan bergerombol di sekitar SDN Karang Gayang, Omben, Sampang yang diduga menjadi tempat persembunyian beberapa warga Syiah. Hingga minggu malam, beberapa rumah pengikut Syiah masih mengepulkan asap pasca pembakaran oleh massa.

Untuk mengantisipasi kejadian agar tidak meluas, beberapa pasukan bantuan mulai didatangkan. Satuan Peleton Brimob Pamekasan pun menjaga lokasi tersebut hingga Senin (27/8/2012) pagi ini. "Kami menerjunkan satu peleton," kata Iptu Didik Sulityoso, Kasubden Brimob Pamekasan di lokasi, Minggu (26/8/2012), seperti dikutip Antara.

Persoalan Keluarga

Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya, KH Rois, yang beraliran Sunni. Ketua Bidang Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia, Hertasning Ichlas, pernah mengatakan bahwa konflik Sampang bukan bermotif masalah perbedaan mazhab, namun murni berlatar belakang masalah keluarga.

"Saat ini telah terjadi opini yang salah kaprah di kalangan media. Substansinya bukan pada pergolakan mazhab tetapi soal keluarga," ungkapnya. Dituturkan oleh Hertasning, perseteruan  berawal dari sebuah keluarga terpengaruh, yakni antara Tajul Muluk Syiah dan Rois (33) yang merupakan prepresentasi Islam Sunni di daerahnya.

Suatu ketika, Rois berkeinginan untuk menikahi salah satu santri putri Tajul Muluk. Hasrat Rois  tidak dipenuhi Tajul Muluk. Pasalnya, Rois tukang kawin dan tabiat negatif itu kurang mendapat tempat di hatinya, sehingga  melarang Rois mempersunting salah satu santri putrinya. Lantaran merasa ditentang, emosi jiwa muda  Rois meledak-ledak dan mengajak pihak-pihak lain yang memang punya sentimen negatif kepada Tajul Muluk untuk melampiaskan amarahnya.

Gayung bersambut, amarah Rois tersalurkan dengan melakukan pembakaran pesantren dan rumah ibu serta adiknya. "Kebetulan Tajul Muluk ini dahwahnya mulai naik daun dan mungkin ada yang merasa tersaingi. Pihak-pihak yang tersaingi inilah yang ditunggangi atau dimanfaatkan Rois untuk membalas sakit hatinya karena gagal melancarkan hasrat menikahi salah satu santri Tajul," tuturnya.

Dikatakan Hertasning, konflik keluarga dibawa-bawa ke medan mazhab. "Persoalan mendasar yang memalukan ini tidak banyak diketahui orang. Media dan tokoh agama lebih sibuk membincang masalah konflik antara Sunni dan Syiah," ujarnya.

Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.

Bentrokan pernah terjadi pada 29 Desember 2011. Kala itu terjadi pembakaran rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah. Sebanyak 335 orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika itu. (HP, Ant)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?