GATRANEWS

Tokoh Papua Barat Bahas Kerjasama Pembangunan dengan Belgia dan Uni Eropa
Thursday, 16 October 2014

Belgia, GATRAnews - Franz Albert Joku dan Suriel Semuel Mofu, tokoh-tokoh penting dari Papua Barat,...
Gempa 5,1 SR Guncang Yalimo Papua
Monday, 29 September 2014

Bandarlampung, GATRAnews - Gempa bumi berkekuatan 5,1 pada skala Richter (SR) mengguncang barat...
Dua Polisi Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata di Papua
Tuesday, 29 July 2014

Jakarta, GATRAnews - Dua anggota polisi tewas dalam peristiwa kontak tembak dengan kelompok...
Anggota TNI Yonif 751 Tembak Mati Komandan OPM
Sunday, 08 June 2014

Jakarta, GATRAnews- Anggota TNI dari Batalyon Infantri (Yonif) 751/Vira Jaya Sakti Kodam...
Prajurit Paskhas Tewas ditembak di Pasar Malam Biak
Monday, 28 April 2014

Biak, GATRAnews - Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, Senin, secara resmi menutup pasar malam...
KPU Papua Distribusikan Logistik Pemilu ke Biak
Monday, 07 April 2014

Biak, GATRAnews - Dua hari menjelang hari pemilihan anggota legislatif (pileg) 2014 (H-2), Komisi...
Longsor di Jayapura Timbun 12 Orang
Sunday, 23 February 2014

Jayapura, GATRAnews - Hujan deras yang terus menguyur, sejak Sabtu (22/2), sekitar pukul 18.30 WIT,...
Budaya dan Tradisi Bisa Minimalisir Tindak Kekerasan
Monday, 03 February 2014

Ambon, GATRAnews - Budaya dan tradisi dapat meminimalisir terjadinya tindak kekerasan, kata...
Warga Ambon Kritis, Diduga Dianiaya Oknum Anggota TNI
Sunday, 01 December 2013

Jakarta, GATRAnews - Kasus kekerasan personil militer terhadap warga sipil terjadi di Maluku. Welco...
Dua Orang Hilang Disapu Banjir Bandang di Wasior
Wednesday, 13 November 2013

Jakarta, GATRAnews - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hujan deras yang...
Di Raja Ampat Papua Barat Ada Desa Bernama Surya Paloh
Tuesday, 29 October 2013

Jakarta, GATRAnews - Sebuah Desa di Raja Ampat Papua Barat, kini bernama Desa Surya Paloh. Nama...
Papua Diguncang Dua Kali Gempa
Sunday, 01 September 2013

Jayapura, GATRAnews - Papua dan Papua Barat, Minggu (1/9), pukul 00.56 dan pukul 14.24 waktu...
Gempa 4,8 SR Guncang Jayapura
Sunday, 01 September 2013

Jayapura, GATRAnews - Gempa bumi berkekuatan 4,8 skala richter mengguncang Kabupaten Jayapura dan...
APKLI Siap Sejahterakan PKL Papua
Friday, 30 August 2013

Jakarta, GATRAnews - Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kali Lima Indonesia (APKLI), Ali Mahsun,...
Wali Kota Jayapura Tuntut Ilmu ke Harvard, Bulan Depan
Tuesday, 27 August 2013

Jayapura, GATRAnews - Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Manoi pada pertengahan September mendatang...
Papua Kembali Diguncang Gempa
Sunday, 21 July 2013

Jakarta, GATRAnews - Gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) kembali mengguncang wilayah Papua....
Gempa Guncang Sarmi Papua, Warga Berhamburan
Saturday, 20 July 2013

Jakarta, GATRAnews - Warga berhamburan saat gempa berkekuatan pada 5,5 Skala Richter mengguncang...
Nama 18 Korban Kerusuhan Penonton Tinju Nabire
Monday, 15 July 2013

Jayapura, GATRAnews - Polisi sudah memeriksa 13 orang untuk meminta keterangan soal kerusuhan dalam...
DPR Papua: Pindahkan Kantor Freeport ke Papua
Friday, 05 July 2013

Jayapura, GATRAnews - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua meminta PT Freeport Indonesia (PTFI) agar...
Mantan Bupati Merauke Jadi Tersangka Suvenir Kulit Buaya
Tuesday, 25 June 2013

Jayapura, GATRAnews - Tiga mantan pejabat di lingkungan Pemda Merauke yakni mantan Bupati JGG,...

Goliat Tabuni Diimbau Hentikan Kekerasan

Jayapura, GATRAnews - Ketua umum badan pelayan pusat atau pimpinan Persekutuan Gereja Gereja Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, meminta Goliat Tabuni dan kelompoknya agar menghentikan kekerasan yang mereka lakukan selama ini.

Imbauan pendeta itu menyusul sejumlah kekerasan berupa penembakan terhadap delapan aparat TNI dan empat warga sipil, serta melukai beberapa orang lainya, yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, pada 21 Februari lalu. Sejumlah kasus kekerasan lainnya juga terjadi, dan memakan korban baik materi dan imateri.

"Saya minta kepada Goliat Tabuni dan rekan-rekan agar tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan. Kekerasan sudah tidak zamannya lagi, tapi dengan cara perjuangan damai lewat dialog yang bermartabat itu yang baik karena tidak mengorbankan rakyat banyak," kata Pendeta Socrates kepada Antara, di Jayapura, Papua, Kamis (7/3).

"Kekerasan itu tidak pernah menyelesaikan persoalan, kekerasan itu selalu melahirkan kekerasan yang lebih masif dan lebih keras.  Jadi untuk menyelesaikan masalah atau persoalan Papua itu harus melalui pendekatan damai. Saya harap teman-teman yang berada atau yang menggunakan kekerasan seperti Goliat Tabuni harus dihentikan," katanya.

Lebih lanjut, pendeta yang rajin menulis opini di berbagai media cetak lokal dan nasional itu, juga mempertanyakan apakah benar penembakan di Puncak dan Puncak Jaya benar-benar dilakukan oleh Goliat Tabuni dan kawan-kawan. Atau apakah ada pihak lain yang mencoba mencari keuntungan di balik peristiwa memilukan itu. "Dan Apakah Goliat Tabuni atau bukan, ini kan jadi pertanyaan juga, seluruh kekerasan di Papua, dari Sorong-Merauke harus dihentikan," katanya.

Socrates juga menyampaikan jika kekerasan-kekerasan tersebut terus diberikan ruang maka hal itu akan memberikan legitimasi kepada negara untuk menumpas kekerasan yang terjadi yang bisa berujung pada pengiriman pasukan yang lebih besar dan bisa memutuskan kehidupan orang Papua yang sudah sedikit jadi tambah habis dan punah.

"Jadi saya tegaskan lagi, apakah kekerasan yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya itu apakah dilakukan oleh OPM? Itu menjadi pertanyaan, karena sejak 2004 hingga sekarang kekerasan itu terus terjadi tidak pernah berhenti dan belum terungkap," katanya.

Ketika disinggung soal legislatif dan eksekutif di daerah dan di Papua yang terkesan diam dan tidak berbuat apa-apa, Socrates sampaikan hal itu tidak bisa dikatakan begitu, "Jadi begini, kita tidak bisa melihat Pemerintah Provinsi Papua atau pemerintah di daerah seperti itu tapi ini remot kontrolnya ada di Jakarta," katanya.

"Jakarta punya kepentingan, jadi siklus kekerasan itu didiamkan seperti itu. Jadi pemerintah di Papua itu 'powerless' atau tidak punya daya sama sekali untuk mengatakan ini, kalau dia melawan dia akan ditekan oleh yang punya kepentingan," lanjutnya.

Socrates juga mengaku sependapat dengan Pendeta Beny Giay yang mengimbau agar warga masyarakat asli Papua untuk tidak tergiur membeli senjata api dan amunisi. "Kami mengimbau kepada rakyat sipil, orang asli Papua jangan beli senjata, untuk melawan negara atau melawan kekerasan ini, sebaiknya sekolahkan anak setelah sekolah baru berjuang berbicara tentang kebenaran, berjuang dan berbicara secara bermartabat," katanya.

"Untuk itu kami imbau kepada seluruh masyarakat Papua tidak usah beli senjata, senjata itu sekarang dijual liar (bebas), belilah buku di Toko Buku Yoman Ninom, supaya bisa gunakan senjata, dengan peluru yakni 26 pahlawan A-Z, untuk berjuang," tambahnya. (TMA)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?