GATRANEWS

Polair Selamatkan Dua ABK Filipina di Raja Ampat
Saturday, 31 January 2015

Jayapura, GATRAnews - Satuan Polisi Perairan Polda Papua Barat, Jumat (30/1), berhasil...
Rapat Hingga Dini Hari, Komisi VII DPR Kasih Banyak PR ke Menteri ESDM
Wednesday, 28 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Rapat kerja Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Kementerian Energi...
Freeport Langgar MoU, Pemerintah Siapkan Status Default‏
Tuesday, 27 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said menyangkal...
Pemerintah Perpanjang Izin Ekspor Freeport Indonesia
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah memberikan rekomendasi persetujuan ekspor PT Freeport Indonesia (PT...
Pemerintah Minta Freeport Lebih Berkontribusi bagi Masyarakat Papua
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan bahwa PT...
Gubernur Lukas: Masyarakat Papua Tolak Freeport Bangun Smelter di Gresik
Monday, 26 January 2015

Jakarta, GATRANews - Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, Majelis Rakyat Papua, DPR Papua, dan...
Wakil Kepala SKK Migas Pamit Mundur Lewat Surat Terbuka
Thursday, 15 January 2015

Jakarta, GATRNews - "Rekan-rekan semua yang saya banggakan, pada kesempatan ini saya pribadi dan...
Tiga Rencana Kadin Tingkatkan Ekonomi Indonesia Wilayah Timur
Monday, 12 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Umum Kelompok Kerja (Pokja) Kamar Dagang dan Industri Indonesia...
Polisi Ciduk 11 Preman Monas dan Tanah Abang
Sunday, 11 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Polda Metro Jaya mengamankan 11 orang yang diduga preman, dari beberapa lokasi...
Mahasiswa Tolak Pendekatan Militeristik Terhadap Papua
Friday, 09 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Barisan Aksi Pemuda dan...
Mantan Pejabat UP4B Ungkap Alasan Pembangunan Papua Tak Pernah Terwujud
Thursday, 08 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Mantan Deputi Bidang Pengembangan Ekonomi dan Infrastruktur, Unit Percepatan...
Kadin Minta Pemerintah Fokuskan Peningkatan Ekonomi Indonesia Timur
Thursday, 08 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk...
Ahok: Foke terlalu Baik, Tidak Berani Pecat Pejabat
Friday, 02 January 2015

Jakarta, GATRAnews - Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama melantik 4.676 pejabat struktural di...
APKLI Kecam Kekerasan Satpol PP Terhadap PKL Jelang Tahun Baru
Wednesday, 31 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) mengutuk ulah Satpol PP yang...
Wapres: Anggaran Pemerintah Untuk Papua 35 Trilyun Per Tahun
Thursday, 11 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menegaskan pemerintah selalu memberi perhatian...
TNI Bakal Tambah Kodam di Papua
Thursday, 11 December 2014

Jakarta, GATRAnews - Guna memperkuat kemanan dan pertahanan di wilayah Papua, Panglima TNI Jenderal...
Dua Anggota Brimob Tewas Ditembak di Papua
Wednesday, 03 December 2014

Jayapura, GATRANews - Dua anggota Brimob di Kabupaten Ilaga, Papua, tewas ditembak anggota kelompok...
Menteri Yohana Didemo di Jayapura
Thursday, 27 November 2014

Sentani, GATRAnews - Sebanyak enam perempuan pendemo menolak kedatangan Menteri Pemberdayaan...
Tokoh Papua Barat Bahas Kerjasama Pembangunan dengan Belgia dan Uni Eropa
Thursday, 16 October 2014

Belgia, GATRAnews - Franz Albert Joku dan Suriel Semuel Mofu, tokoh-tokoh penting dari Papua Barat,...
Gempa 5,1 SR Guncang Yalimo Papua
Monday, 29 September 2014

Bandarlampung, GATRAnews - Gempa bumi berkekuatan 5,1 pada skala Richter (SR) mengguncang barat...

Goliat Tabuni Diimbau Hentikan Kekerasan

Jayapura, GATRAnews - Ketua umum badan pelayan pusat atau pimpinan Persekutuan Gereja Gereja Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, meminta Goliat Tabuni dan kelompoknya agar menghentikan kekerasan yang mereka lakukan selama ini.

Imbauan pendeta itu menyusul sejumlah kekerasan berupa penembakan terhadap delapan aparat TNI dan empat warga sipil, serta melukai beberapa orang lainya, yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, pada 21 Februari lalu. Sejumlah kasus kekerasan lainnya juga terjadi, dan memakan korban baik materi dan imateri.

"Saya minta kepada Goliat Tabuni dan rekan-rekan agar tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan. Kekerasan sudah tidak zamannya lagi, tapi dengan cara perjuangan damai lewat dialog yang bermartabat itu yang baik karena tidak mengorbankan rakyat banyak," kata Pendeta Socrates kepada Antara, di Jayapura, Papua, Kamis (7/3).

"Kekerasan itu tidak pernah menyelesaikan persoalan, kekerasan itu selalu melahirkan kekerasan yang lebih masif dan lebih keras.  Jadi untuk menyelesaikan masalah atau persoalan Papua itu harus melalui pendekatan damai. Saya harap teman-teman yang berada atau yang menggunakan kekerasan seperti Goliat Tabuni harus dihentikan," katanya.

Lebih lanjut, pendeta yang rajin menulis opini di berbagai media cetak lokal dan nasional itu, juga mempertanyakan apakah benar penembakan di Puncak dan Puncak Jaya benar-benar dilakukan oleh Goliat Tabuni dan kawan-kawan. Atau apakah ada pihak lain yang mencoba mencari keuntungan di balik peristiwa memilukan itu. "Dan Apakah Goliat Tabuni atau bukan, ini kan jadi pertanyaan juga, seluruh kekerasan di Papua, dari Sorong-Merauke harus dihentikan," katanya.

Socrates juga menyampaikan jika kekerasan-kekerasan tersebut terus diberikan ruang maka hal itu akan memberikan legitimasi kepada negara untuk menumpas kekerasan yang terjadi yang bisa berujung pada pengiriman pasukan yang lebih besar dan bisa memutuskan kehidupan orang Papua yang sudah sedikit jadi tambah habis dan punah.

"Jadi saya tegaskan lagi, apakah kekerasan yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya itu apakah dilakukan oleh OPM? Itu menjadi pertanyaan, karena sejak 2004 hingga sekarang kekerasan itu terus terjadi tidak pernah berhenti dan belum terungkap," katanya.

Ketika disinggung soal legislatif dan eksekutif di daerah dan di Papua yang terkesan diam dan tidak berbuat apa-apa, Socrates sampaikan hal itu tidak bisa dikatakan begitu, "Jadi begini, kita tidak bisa melihat Pemerintah Provinsi Papua atau pemerintah di daerah seperti itu tapi ini remot kontrolnya ada di Jakarta," katanya.

"Jakarta punya kepentingan, jadi siklus kekerasan itu didiamkan seperti itu. Jadi pemerintah di Papua itu 'powerless' atau tidak punya daya sama sekali untuk mengatakan ini, kalau dia melawan dia akan ditekan oleh yang punya kepentingan," lanjutnya.

Socrates juga mengaku sependapat dengan Pendeta Beny Giay yang mengimbau agar warga masyarakat asli Papua untuk tidak tergiur membeli senjata api dan amunisi. "Kami mengimbau kepada rakyat sipil, orang asli Papua jangan beli senjata, untuk melawan negara atau melawan kekerasan ini, sebaiknya sekolahkan anak setelah sekolah baru berjuang berbicara tentang kebenaran, berjuang dan berbicara secara bermartabat," katanya.

"Untuk itu kami imbau kepada seluruh masyarakat Papua tidak usah beli senjata, senjata itu sekarang dijual liar (bebas), belilah buku di Toko Buku Yoman Ninom, supaya bisa gunakan senjata, dengan peluru yakni 26 pahlawan A-Z, untuk berjuang," tambahnya. (TMA)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?