GATRANEWS

HIPMAS Sambut Baik Penunjukan Osman Jadi Kepala BPJ
Wednesday, 05 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Ketua Himpunan Pengusaha Muda Masyarakat Asli (HIPMAS) Papua Hendrik Yance...
Kondisi Koperasi Papua Suram
Monday, 03 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Kondisi Koperasi Papua mengalami masa suram. Banyak koperasi di Papua yang...
Evan Diduga Tewas Karena MOS, KPAI: Perlu Investigasi Komprehensif
Monday, 03 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Seorang siswa SMP Flora, Pondok Ungu, Bekasi bernama Evan Christopher...
Gubernur Papua Didesak Jamin Keamanan Warganya
Saturday, 01 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Gubernur Papua, Lukas Enembe didesak memberikan keamanan bagi masyarakat...
Fraksi Hanura DPR Papua: Proses Hukum Insiden Tolikara Harus Dilanjutkan
Saturday, 01 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Fraksi Hanura DPR Papua mendesak kepolisian Papua untuk terus melanjutkan...
3 Rumah Sakit Jadi Rujukan Pemeriksaan Calon Kepala Daerah di Papua‏
Thursday, 30 July 2015

Jayapura, GATRAnews- Tiga rumah sakit di Papua menjadi rujukan bagi calon kepala daerah dan...
Pemprov Papua Jadikan Tiga Daerah Percontohan Kota Layak Anak‏
Thursday, 30 July 2015

Jayapura, GATRAnews- Kabupaten Jayapura, Merauke dan Kota Jayapura menjadi proyek percontohan...
PMII: Kasus Tolikara Harus Diselesaikan Secara Hukum
Thursday, 30 July 2015

Jakarta, GATRAnews – Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Timur mengecam keras...
Pengemudi Go-Jek Belum Perlu Perlindungan Khusus DKI
Tuesday, 28 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Basuki Tjahaja Purnama menilai pengemudi Go-Jek belum memerlukan perlindungan...
Sejumlah Bangunan Rusak Diguncang Gempa Papua
Tuesday, 28 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Papua diguncang gempa bumi berkekuatan 7,2 pada Skala Richter (SR), pada pukul...
Gempa 7,2 SR Guncang Papua
Tuesday, 28 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) mengguncang daerah Mamberamo Raya,...
Gempa 7,2 SR Membuat Warga Memberamo Raya Panik
Tuesday, 28 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) mengguncang Papua pada pukul...
Tekan Angka Kekerasan Anak, Anggaran KPPPA Masih Minim
Sunday, 26 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Keberpihakan negara terhadap perlindungan anak khususnya dalam bidang...
Fahira Idris: Jokowi Harus 'Turun Tangan' Atasi Masalah Kekerasan Anak
Sunday, 26 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Meski sudah mempunyai Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak sejak 2002 lalu,...
Ustad Fadlan Jadi Khatib Jumat di Karubaga Tolikara
Friday, 24 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Kaum Muslimin di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, melaksanakan Shalat...
Pembangunan Trans Papua Butuh Dana Rp 12,5 Trilyun
Thursday, 23 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono...
Hidayat Nur Wahid: Awas Waspada Penyusup Tragedi Tolikara
Thursday, 23 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Kasus insiden Tolikara Papua pada hari raya Idul Fitri sangat menyentak umat...
Ini 3 Langkah Jokowi Selesaikan Insiden Tolikara
Thursday, 23 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan tiga instruksi untuk menyelesaikan...
Fahira Idris: Otak Insiden Tolikara Harus Ditangkap
Tuesday, 21 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Insiden penyerangan terhadap umat Muslim Tolikara saat melakukan shalat Idul...
Banser Minta Aparat Tingkatkan Deteksi Dini Terkait Insiden Tolikara
Monday, 20 July 2015

Jakarta, GATRAnews - Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna atau Satkornas Banser...

Goliat Tabuni Diimbau Hentikan Kekerasan

Jayapura, GATRAnews - Ketua umum badan pelayan pusat atau pimpinan Persekutuan Gereja Gereja Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, meminta Goliat Tabuni dan kelompoknya agar menghentikan kekerasan yang mereka lakukan selama ini.

Imbauan pendeta itu menyusul sejumlah kekerasan berupa penembakan terhadap delapan aparat TNI dan empat warga sipil, serta melukai beberapa orang lainya, yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, pada 21 Februari lalu. Sejumlah kasus kekerasan lainnya juga terjadi, dan memakan korban baik materi dan imateri.

"Saya minta kepada Goliat Tabuni dan rekan-rekan agar tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan. Kekerasan sudah tidak zamannya lagi, tapi dengan cara perjuangan damai lewat dialog yang bermartabat itu yang baik karena tidak mengorbankan rakyat banyak," kata Pendeta Socrates kepada Antara, di Jayapura, Papua, Kamis (7/3).

"Kekerasan itu tidak pernah menyelesaikan persoalan, kekerasan itu selalu melahirkan kekerasan yang lebih masif dan lebih keras.  Jadi untuk menyelesaikan masalah atau persoalan Papua itu harus melalui pendekatan damai. Saya harap teman-teman yang berada atau yang menggunakan kekerasan seperti Goliat Tabuni harus dihentikan," katanya.

Lebih lanjut, pendeta yang rajin menulis opini di berbagai media cetak lokal dan nasional itu, juga mempertanyakan apakah benar penembakan di Puncak dan Puncak Jaya benar-benar dilakukan oleh Goliat Tabuni dan kawan-kawan. Atau apakah ada pihak lain yang mencoba mencari keuntungan di balik peristiwa memilukan itu. "Dan Apakah Goliat Tabuni atau bukan, ini kan jadi pertanyaan juga, seluruh kekerasan di Papua, dari Sorong-Merauke harus dihentikan," katanya.

Socrates juga menyampaikan jika kekerasan-kekerasan tersebut terus diberikan ruang maka hal itu akan memberikan legitimasi kepada negara untuk menumpas kekerasan yang terjadi yang bisa berujung pada pengiriman pasukan yang lebih besar dan bisa memutuskan kehidupan orang Papua yang sudah sedikit jadi tambah habis dan punah.

"Jadi saya tegaskan lagi, apakah kekerasan yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya itu apakah dilakukan oleh OPM? Itu menjadi pertanyaan, karena sejak 2004 hingga sekarang kekerasan itu terus terjadi tidak pernah berhenti dan belum terungkap," katanya.

Ketika disinggung soal legislatif dan eksekutif di daerah dan di Papua yang terkesan diam dan tidak berbuat apa-apa, Socrates sampaikan hal itu tidak bisa dikatakan begitu, "Jadi begini, kita tidak bisa melihat Pemerintah Provinsi Papua atau pemerintah di daerah seperti itu tapi ini remot kontrolnya ada di Jakarta," katanya.

"Jakarta punya kepentingan, jadi siklus kekerasan itu didiamkan seperti itu. Jadi pemerintah di Papua itu 'powerless' atau tidak punya daya sama sekali untuk mengatakan ini, kalau dia melawan dia akan ditekan oleh yang punya kepentingan," lanjutnya.

Socrates juga mengaku sependapat dengan Pendeta Beny Giay yang mengimbau agar warga masyarakat asli Papua untuk tidak tergiur membeli senjata api dan amunisi. "Kami mengimbau kepada rakyat sipil, orang asli Papua jangan beli senjata, untuk melawan negara atau melawan kekerasan ini, sebaiknya sekolahkan anak setelah sekolah baru berjuang berbicara tentang kebenaran, berjuang dan berbicara secara bermartabat," katanya.

"Untuk itu kami imbau kepada seluruh masyarakat Papua tidak usah beli senjata, senjata itu sekarang dijual liar (bebas), belilah buku di Toko Buku Yoman Ninom, supaya bisa gunakan senjata, dengan peluru yakni 26 pahlawan A-Z, untuk berjuang," tambahnya. (TMA)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?