GATRANEWS

Empat Warga Sipil Korban Penembakan TNI Masih Dirawat
Friday, 28 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Sebanyak empat warga sipil, korban penembakan yang diduga dilakukan oleh...
Diduga Mabuk, Anggota TNI Tembak Empat Warga Timika
Friday, 28 August 2015

Jayapura,GATRAnews- Empat warga Timika diduga ditembak oleh dua oknum anggota TNI Kodim 1710. Dari...
Kronologis Penembakan 2 Warga Papua Versi Mabes TNI
Friday, 28 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Mabes TNI menjelaskan kronologi kejadian penembakan yang diduga dilakukan...
Tolak Pelantikan Sekda Sarmi, Warga Turun ke Jalan
Friday, 28 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Masyarakat Kabupaten Sarmi yang mengatasnamakan sebagai masyarakat peduli...
Polisi Periksa 16 Saksi Dugaan Manifest Palsu Trigana Air Service
Thursday, 27 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Sebanyak 16 orang dari keluarga korban kecelakaan Trigana Air Service jenis...
Anak Buah Dipukuli, CEO Gojek: Itu Kriminal
Thursday, 27 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Kekerasan kembali menimpa pengemudi Gojek, bernama Asep Supriatna. Ia ...
Ahok Tidak Akan Keluarkan Imbauan Penggunaan Produk Lokal
Wednesday, 26 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak akan mengeluarkan imbauan...
Dua Kabupaten di Papua Minim Serapan Raskin
Monday, 24 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Perum Bulog Divre Papua dan Papua Barat mengklaim realisasi penyaluran beras...
Doa Bersama untuk Korban Trigana Air
Monday, 24 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Tangisan sesegukan itu keluar dari ratusan murid SD, SMP, SMA se-Kota Jayapura...
Pemerintah Harus Tetap Buka Dialog Jakarta-Papua
Monday, 24 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Komunitas wartawan Jayapura bersama Indonesian Journalist Network (IJN)...
Forum Sunda Ngumbara Berniat Biakkan Domba Garut di Papua
Sunday, 23 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Warga Sunda di Papua dan Papua Barat, yang tergabung dalam Forum Sunda...
Polda Papua Hadirkan 16 Psikolog Dampingi Keluarga Korban Trigana
Saturday, 22 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Polda Papua menyediakan 16 orang psikologi untuk menemani dan memantau...
Kemenristek Dikti Bakal Kembangkan Sapi Kabupaten Sorong
Saturday, 22 August 2015

Sorong, GATRAnews - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi berencana mengembangkan sapi...
Maskapai Trigana Laksanakan Upacara Penghormatan Pilot Hasanuddin
Saturday, 22 August 2015

Jayapura, GATRAnews- PT Trigana Air Service akan memberikan penghormatan terakhir di Bandara Halim...
Pangkalan TNI AL Sorong Naik Kelas Menjadi Lantamal
Friday, 21 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Pangkalan TNI AL (Lanal) Sorong Jumat (21/8) secara resmi naik status dari...
Ketua Komite II DPD Minta Pemerintah Siapkan Transportasi Alternatif
Thursday, 20 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Parlindungan Purba...
Komite II DPD RI: Pesawat Perintis di Daerah Masih Kurang
Thursday, 20 August 2015

Jakarta, GATRAnews - Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI meminta pemerintah untuk menambah...
4 Jenazah Korban Trigana Sudah Teridentifikasi
Thursday, 20 August 2015

Jayapura, GATRAnews- Sebanyak empat jenazah korban jatuhnya pesawat Trigana jenis ATR42 nomor...
Kem-PUPR Dukung Percepatan Pembangunan La Pago Papua
Thursday, 20 August 2015

Yahukimo, GATRAnews - Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kem-PUPR) memberikan...
Empat Jenazah Lagi Korban Trigana Tiba di Jayapura
Wednesday, 19 August 2015

Jayapura, GATRAnews - Sebanyak empat kantong jenasah korban pesawat Trigana jenis ATR 42 PK YRN...

Goliat Tabuni Diimbau Hentikan Kekerasan

Jayapura, GATRAnews - Ketua umum badan pelayan pusat atau pimpinan Persekutuan Gereja Gereja Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, meminta Goliat Tabuni dan kelompoknya agar menghentikan kekerasan yang mereka lakukan selama ini.

Imbauan pendeta itu menyusul sejumlah kekerasan berupa penembakan terhadap delapan aparat TNI dan empat warga sipil, serta melukai beberapa orang lainya, yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, pada 21 Februari lalu. Sejumlah kasus kekerasan lainnya juga terjadi, dan memakan korban baik materi dan imateri.

"Saya minta kepada Goliat Tabuni dan rekan-rekan agar tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan. Kekerasan sudah tidak zamannya lagi, tapi dengan cara perjuangan damai lewat dialog yang bermartabat itu yang baik karena tidak mengorbankan rakyat banyak," kata Pendeta Socrates kepada Antara, di Jayapura, Papua, Kamis (7/3).

"Kekerasan itu tidak pernah menyelesaikan persoalan, kekerasan itu selalu melahirkan kekerasan yang lebih masif dan lebih keras.  Jadi untuk menyelesaikan masalah atau persoalan Papua itu harus melalui pendekatan damai. Saya harap teman-teman yang berada atau yang menggunakan kekerasan seperti Goliat Tabuni harus dihentikan," katanya.

Lebih lanjut, pendeta yang rajin menulis opini di berbagai media cetak lokal dan nasional itu, juga mempertanyakan apakah benar penembakan di Puncak dan Puncak Jaya benar-benar dilakukan oleh Goliat Tabuni dan kawan-kawan. Atau apakah ada pihak lain yang mencoba mencari keuntungan di balik peristiwa memilukan itu. "Dan Apakah Goliat Tabuni atau bukan, ini kan jadi pertanyaan juga, seluruh kekerasan di Papua, dari Sorong-Merauke harus dihentikan," katanya.

Socrates juga menyampaikan jika kekerasan-kekerasan tersebut terus diberikan ruang maka hal itu akan memberikan legitimasi kepada negara untuk menumpas kekerasan yang terjadi yang bisa berujung pada pengiriman pasukan yang lebih besar dan bisa memutuskan kehidupan orang Papua yang sudah sedikit jadi tambah habis dan punah.

"Jadi saya tegaskan lagi, apakah kekerasan yang terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak dan di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya itu apakah dilakukan oleh OPM? Itu menjadi pertanyaan, karena sejak 2004 hingga sekarang kekerasan itu terus terjadi tidak pernah berhenti dan belum terungkap," katanya.

Ketika disinggung soal legislatif dan eksekutif di daerah dan di Papua yang terkesan diam dan tidak berbuat apa-apa, Socrates sampaikan hal itu tidak bisa dikatakan begitu, "Jadi begini, kita tidak bisa melihat Pemerintah Provinsi Papua atau pemerintah di daerah seperti itu tapi ini remot kontrolnya ada di Jakarta," katanya.

"Jakarta punya kepentingan, jadi siklus kekerasan itu didiamkan seperti itu. Jadi pemerintah di Papua itu 'powerless' atau tidak punya daya sama sekali untuk mengatakan ini, kalau dia melawan dia akan ditekan oleh yang punya kepentingan," lanjutnya.

Socrates juga mengaku sependapat dengan Pendeta Beny Giay yang mengimbau agar warga masyarakat asli Papua untuk tidak tergiur membeli senjata api dan amunisi. "Kami mengimbau kepada rakyat sipil, orang asli Papua jangan beli senjata, untuk melawan negara atau melawan kekerasan ini, sebaiknya sekolahkan anak setelah sekolah baru berjuang berbicara tentang kebenaran, berjuang dan berbicara secara bermartabat," katanya.

"Untuk itu kami imbau kepada seluruh masyarakat Papua tidak usah beli senjata, senjata itu sekarang dijual liar (bebas), belilah buku di Toko Buku Yoman Ninom, supaya bisa gunakan senjata, dengan peluru yakni 26 pahlawan A-Z, untuk berjuang," tambahnya. (TMA)

Design © GATRANEWS | GATRA. All rights reserved.

Top Desktop version

twn Are you sure that you want to switch to desktop version?