Lihat Nasib Bahowo, Hutan Mangrove di Sisa Gempuran Reklamasi Manado

Kawasan hutan mangrove di Bawoho, Manado (GATRAnews/Ady Putong)

Manado, GATRAnews — Pembangunan bisa berdampak positif, namun bisa juga dapat mengorbankan segalanya. Dampak reklamasi yang menggerogoti garis pantai di Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, telah menunjukkan hal itu. Tak hanya mata pencaharian nelayan tradisional terganggu, ekosistem alamiah yang membentang sejauh 18 kilometer di pesisir jadi tidak seimbang lagi.

Sejak 1998 proyek reklamasi pantai dengan total luasan lahan 700 hektare telah menghabisi tepian pantai dari sebelah Selatan ke tengah kota. Selang 20 tahun sejak masa itu, pesisir Manado kini berganti pusat-pusat perbelanjaan. Reklamasi masih dilanjutkan menuju Utara, menyentuh kawasan-kawasan yang didiami nelayan tradisional. Asa menahan gempuran reklamasi masih tersisa di Bahowo, yang disebut sebagai pertahanan terakhir mangrove di Manado.

Begitulah setidaknya, telaah Wildlife Conservation Society (WCS). “Hutan mangrove (bakau) yang masih tersisa di Manado daratan, adalah di Bahowo. Bahkan ini jadi benteng terakhir mangrove setelah gempuran reklamasi yang terjadi hampir dua dekade terakhir ini,” ujar Sonny Tawisjawa dari WCS salah satu LSM yang aktif mengadvokasi masyarakat pesisir pantai. 

Bahowo adalah kawasan setingkat RT di kelurahan Tongkaina Kecamatan Bunaken darat Manado. Dari pusat kota, perjalanan menuju Bahowo menempuh waktu sekitar 30 menit visa perjalanan darat. Lokasi itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Minahasa Utara.

Warga Bahowo sejak dulu menggantungkan hidup dari hasil melaut, mengingat kondisi geografisnya berada di pesisir. Luas hutan mangrove yang tersisa di Keluarahan Tongkaina, termasuk di Bawoho tinggal 84 hektar. Keberadaan hutan mangrove mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat pesisir karena mempunyai peran ekologis, biologis, juga ekonomi.

“Secara fisik berfungsi sebagai stabilisator lahan, yakni berperan dalam mengakumulasi substrat lumpur oleh perakaran bakau. Sehingga sering kali memunculkan tanah timbul dan juga mampu menahan abrasi air laut. Selain itu juga mampu menghadang intrusi air laut ke daratan,” papar Sonny.

Fungsi biologisnya, lanjut dia, ialah sebagai tempat berlindung, bertelur dan berkembang biak bagi ikan. “Sementara secara ekonomi hutan mangrove menghasilkan kayu yang nilai kalornya tinggi sehingga sangat bagus untuk bahan baku arang,” papar Sonny.

Soal kesadaran warga akan pentingnya Mangrove, ikut disampaikan Kepala Lingkungan IV Bahowo, Benyamin Loho. “Kami menjaga dengan baik hutan mangrove di sini. Bahkan penanaman dilakukan rutin oleh masyarakat, terutama kelompok mangrove yang terbentuk.”

Cornela Salaeng, warga Bahowo yang juga anggota kelompok mangrove, mengakui upaya penanaman di pesisir pantai mengalami banyak kesulitan. Hal ini berbeda dengan penanaman mangrove ke arah daratan. “Perbandingannya kalau tanam ke arah daratan, pasti bertumbuh dengan baik. Maka mungkin kita harus memperkuat wilayah agak ke daratan, baru perlahan masuk ke pesisir,” tuturnya.


Reporter: LFP

Editor: Nur Hidayat

Share this article