Oknum Disparbud Manado Dilaporkan ke Polisi Gara Gara Pelecehan Seksual

Ilustrasi kekerasan pada wanita (GATRA/Dharma Wijayanto/re1)

Manado, GATRAnews – Kasus dugaan pelecehan seksual melibatkan siswi salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pejabat di Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, Sulawesi Utara, mencuat. Korban, sebut saja Mawar, 16 tahun, telah melaporkan perbuatan tidak senonoh yang menimpa dirinya ke aparat penegak hukum kepolisian daerah Sulut, Kamis (15/9).

Saat menyampaikan laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sulut, korban dan ibunya terpantau didampingi Ketua Komisi Daerah Perlindungan Anak Sulut Jull Takaliuang dan perwakilan LSM Swara Parangpuan —lembaga yang sering mengadvokasi korban kekerasan perempuan di Manado dan sekitarnya.

Jull membenarkan yang dilaporkan adalah tindak dugaan pelecehan yang terjadi akhir Agustus 2016. “Korban memang tidak langsung mengungkap apa yang terjadi pada saat itu karena dia tengah menjalani praktik sistem ganda di kantor lokasi kejadian, dia khawatir kalau bicara terbuka akan mempengaruhi nilai di sekolah,” kata Jull pada wartawan.

Nanti baru praktik selesai, Mawar berani buka mulut pada keluarga termasuk mengungkap hal itu ke pihak sekolah. Jull menutur, korban tampak gigih ingin menuntaskan masalah tersebut hingga melaporkannya ke polisi.

“Artinya sebagai anak yang masih di bawah umur dia punya alasan jelas sampai berani bicara terbuka dan kami menduga telah terjadi tindak pidana di situ karena korban diraba dan dipangku oleh oknum kepala dinas,” tandas Jull meyakinkan.

Dari informasi yang dihimpun, diketahui peristiwa terjadi pada Agustus lalu saat suasana kantor Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Manado lagi lengang.

Oleh oknum kepala Disparbud berinisial HW, korban dibawa ke ruang kerja kemudian dipangku. Bagian tubuh korban pun sempat dielus. HW bahkan sempat basa basi bertanya apa keinginan korban selepas sekolah, ingin menjadi tenaga honor di kantornya atau bahkan dibantu menjadi Nona Manado; kontes lokal berbasis brain, beauty, behavior? Merasa risih dan bingung, Mawar mengelak dari pangkuan oknum itu.

HW yang dikonfirmasi masalah via pesan sms, hanya menjawab singkat, “Harus hormati proses (hukum) nya.”

Sementara pihak sekolah lewat Kepsek Moodie Lumintang yang ditanyai lewat seluler mengaku dirinya dalam posisi menunggu perkembangan kasus karena mengedepankan azas praduga tak bersalah.

“Siswi kami masih di bawah umur, sementara yang menjadi terlapor adalah orang yang sudah berkeluarga, bagaimanapun juga kami harus menghormati azas praduga tak bersalah,” sebut dia.


Reporter: Ady Putong

Editor: Nur Hidayat

Share this article