Program INGAGE Menyemai Toleransi pada Kaum Muda

Manado, GATRAnews — Puluhan kaum muda di Manado Sulawesi Utara baru saja menyelesaikan kegiatan bertajuk Interfaith New Generation Initiative and Engagement atau INGAGE. Lewat kegiatan itu para peserta diajak membangun jembatan toleransi dalam latar lintas iman dan budaya.

Asri Rasjid, perwakilan pemuda dari Umat Syiah di Manado yang mengikuti program itu menyatakan apa yang dilaluinya telah membuka ruang toleransi pada kaum muda yang menjadi pewaris Nusantara. “Saya kira metode yang kami lakukan di INGAGE sangat relevan untuk membangun sikap toleransi mengingat kami yang berkumpul di situ berasal dari latar berbeda-beda,” cetus Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulut itu, Sabtu (11/2).

Sekitar tiga puluh pemuda dan pemudi lintas iman, berusia antara 18 hingga 30 tahun, dikumpulkan oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) selaku penggagas kegiatan pada akhir 2016. Selain Asri yang Syiah, ada juga peserta dari kalangan Kristen, Hindu serta penganut kepercayaan. Mereka menerima berbagai materi antara lain soal hak asasi manusia, dunia digital, keberagaman agama-agama. Setelah itu peserta diajak mengikuti live-in, yaitu menginap di rumah warga yang berbeda keyakinan selama 3 hari. Total sepekan mereka menghabiskan waktu dalam kegiatan tersebut.

“Jadi tidak hanya teori, tapi langsung mengimplementaskan sikap toleransi terhadap keragaman agama, suku, budaya dan sebagainya,” ujar Asri. “Program INGAGE sangat sistematis, untuk itu saya mengharapkan pemerintah, ormas dan seluruh komunitas yang ada di Indonesia agar menyelenggarakan lagi secara intens, supaya ke depan menjadi generasi yang bukan hanya toleran, tetapi jeli melihat dan memahami akan kemajemukan negara yang kita cintai bersama,” harapnya

Susan Jaquelin selaku panitia pelaksana INGAGE di Manado mengatakan, kegiatan itu ikut membangun rasa saling percaya antar-individu berbeda keyakinan. “Ternyata saat ada komunikasi dengan orang berbeda keyakinan yang muncul rasa saling percaya, memahami keyakinan satu dengan yang lain,” cetus Susan. Hasilnya menurut dia bisa memupuk toleransi, kemudian rasa aman untuk bergaul bersama. Dia berharap alumni INGAGE bisa menularkan pengalaman yang diterima kepada lingkungan sekitar.

Selain ICRS, pelatihan itu ikut digawangi The Lutheran World Federation (LWF) dan atas dukungan Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD). Sejumlah akademisi bergabung melakukan pembinaan, seperti Dr Al Makin dari Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta serta Dra Alviani Permata MHum dari Universitas Kristen Duta Wacana

INGAGE sebelumnya telah dilaksanakan di Kota Medan pada tanggal 1-7 September 2016, dan akan dilaksanakan di Ambon pada 13-19 Oktober 2016. "Kami memilih Medan, Manado, dan Ambon, dikarenakan ketiga kota ini memiliki tradisi dan sejarah yang kuat, serta perbandingan populasi umat beda agama yang hampir berimbang. Di Kota Manado sendiri, dari 120 pendaftar yang berminat mengikuti kegiatan ini, dapat disimpulkan generasi mudanya sangat kreatif," kata Dr Leonard Eprafas dari ICRS.

Di penghujung kegiatan mereka tahun ini, komunitas INGAGE telah menerbitkan buku bertajuk “Jabat Erat dari Ambon, Manado dan Medan” berisi kumpulan jurnal terpilih dari para peserta. Jurnal dimaksud berupa pengalaman mereka selama ikut kegiatan tersebut. 



Reporter: Ady Putong
Editor: Rosyid

Share this article