Saturday, 11 February 2012 06:35
Kudus - Mantan pemain tim nasional, Ricky Yacob, menilai kompetisi sepak bola usia dini di Tanah Air perlu ditingkatkan untuk menjaring bibit baru berkualitas di bidang sepak bola guna mengangkat prestasi sepak bola di Tanah Air.
"Persoalan yang dihadapi sekolah sepak bola (SSB) selama ini, masih minimnya kompetisi yang mengakomodir pemain seusia mereka yang berkisar antara 10 hingga 17 tahun," ujar Ricky Yacob ditemui ketika melakukan klinik pelatihan singkat terhadap murid SSB Djarum di Lapangan Sepak Bola Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus, di Kudus, Jum`at (10/2).
Seharusnya, kata Ricky, yang merupakan pemain andalan klub Arseto Solo, Pengurus Cabang PSSI di masing-masing daerah memberikan wadah kompetisi untuk usia dini, karena potensi pemain sepak bola usia dini yang berkualitas cukup besar.
Pembinaan sepak bola yang selama ini dilakukan, katanya, masih sering terputus. "Jika ada kompetisi sepak bola yang berkesinambungan, tentunya akan tersedia basis data pemain muda berbakat, sehingga pilihan pemain yang akan memperkuat tim nasional lebih mudah karena tersedia stok pemain berkualitas yang cukup banyak," ujar legenda sepak bola medio 1980-an itu.
Untuk itu, Ricky berharap, kompetisi diperbanyak untuk menjaring bibit-bibit unggul.
Sementara, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus Muhammad Ridwan mengungkapkan, sejak beberapa tahun terakhir KONI Kudus sudah berupaya mendorong pembinaan sepak bola lewat kompetisi rutin yang digelar di Kudus. "Untuk sementara, kompetisi yang rutin digelar memang untuk kelompok usia 23 tahun, sedangkan untuk kelompok usia dini atau tingkat SSB memang belum terakomodir secara maksimal karena terkendala anggaran," ujarnya.
Padahal, lanjutnya, jumlah SSB di Kudus cukup banyak, bahkan hampir di setiap kecamatan sudah ada, sehingga bisa diselenggarakan kompetisi untuk usia dini.
Dengan bergulirnya kompetisi di semua kelompok umur, katanya, potensi menjaring bibit muda berbakat tentunya semakin terbuka lebar, sehingga tim profesional tidak perlu kesulitan mendapatkan pemain lokal.
Apabila kompetisi di setiap kelompok umur terselenggara, katanya, jenjang kompetisinya juga perlu dipikirkan tidak hanya berkembang di tingkat lokal, melainkan harus ada jenjang kompetisi hingga tingkat nasional.
Terkait dengan anggaran yang akan diusulkan pada tahun anggaran 2012, katanya, masih dalam proses pembahasan di dewan. "Pembinaan semua cabang olahraga, tetap menjadi perhatian, terutama pemenuhan sarana dan prasarananya yang belum mendukung," ujarnya.
Dengan demikian, kata Ridwan, terselenggaranya kompetisi sepak bola usia dini, juga disesuaikan dengan jumlah anggaran yang tersedia. "Kami juga berharap, adanya perhatian dari sejumlah perusahaan swasta di Kudus untuk mendukung bergulirnya kompetisi usia dini di Kudus untuk menjaring pemain muda berbakat," ujarnya.
[EL, Ant]
Tambah Komentar