Tingkat Pengaruh ISIS ke Indonesia Sudah ''Person to Person''

Jakarta, GATRAnews - Kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah menjadi ancaman nyata bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini. Pasca terdesak dari Suriah, kelompok ini menargetkan kawasan Asia Tenggara untuk dijadikan 'sarang' baru.    Merujuk pada pernyataan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kelompok ini akan mendirikan kekhalifahan baru di empat negara, yakni Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Di Indonesia, menurut  pengamat Intelijen, Muhammad Dahrin La Ode, ISIS menggunakan organisasi masyarakat (Ormas) tertentu menjadi penghubung (Proxy) dari tujuan mereka. Target mereka bahkan melalui person to person. "Itu sudah jadi ancaman nyata dan gangguan, kalau ancaman itu kan masih bayang-bayang dulu tapi sekarang sudah jadi fakta dan hidup didalam masyarakat kita," tegas Dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) ini saat dihubungi di Jakarta, Minggu (11/12).

Guna menangkal aksi ekstrim yang kerap dilakukan ISIS, dia meminta peranan aktif dari Polsi maupun TNI untuk melindungi pemerintahan yang sah. Sasaran ISIS salah satunya melemahkan peranan pemerintah yang sah. Salah satu kasus bagaimana ISIS sudah merambah ke dalam tindakan personal ada pada kasus yang diungkap Polri di Bekasi. "Jadi mereka sasarannya selain membuat ketakutan di dunia khususnya di seluruh Indonesia, sekarang sudah person to person," jelas dia.

Dahrin menambahkan mereka yang merupakan proxy ISIS di Indonesia target atau tujuannya sudah semakin fokus dan ini sangat berbahaya. Misalnya, mereka mau membunuh presiden, membunuh wakil presiden, membunuh Panglima TNI, membunuh Kapolri, Ketua DPR, Ketua MK. "Sekarang sudah kesitu arah mereka," katanya.  

Oleh karena itu, kata Dahrin, aparat keamanan nasional baik BAIS (intelijen TNI), Badan Intelijen Negara (BIN) dan intelijen polisi khususnya penegakan hukum itu harus betul-betul sangat siaga. "Jadi sekecil apapun masyarakat berkomentar itu harus dianalisis oleh mereka, tidak boleh kendor. Aparat kamnas tidak boleh lengah, informasi apakah itu canda atau serius, itu harus diperhatikan aparat kamnas," demikian.


Reporter : Wem Fernandez 

Editor: Nur Hidayat

Share this article

Tagged under