Anton Tabah: Pernyataan Ahok Soal Memilih Pemimpin Rusak NKRI

Jakarta, GATRAnews - Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah Digdoyo, menilai, pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentang memilih pemimpin berdasarkan agama adalah salah dan inkonstitusional, merupakan pernyataan yang bisa merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Pemahaman Ahok sangat kacau, dan justru Ahok yang tidak konstitusional pikiran dan pemahamannya terhadap konstitusi Indonesia seperti itu salah besar akan merusak dan menghancurkan NKRI," katanya, di Jakarta, Senin (13/2).

Pemikiran atau pemahaman seperti itu, lanjut Anton, bertentangan dengan pemikiran para pendiri (founding fathers) bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai panduan berbangsa dan bernegara.

"Pancasila dan UUD 1945 menjadi panduan seluruh kehidupan bangsa Indonesia baik dalam individu, bermasyarakat, berbangsa, bernegara juga lambang negara Bhineka Tunggal Ika. Semua harus menjadikan agama sebagai dasar berperikehidupan NKRI sesuai amanat UUD 1945, Pasal 29 dan 28," ujar purnawirawan perwira tinggi Polri itu.

Jika Ahok berpendapat dan mempunyai pemahaman seperti yang dinyatakan kemarin, rujukannya konstitusi negara yang mana, karena NKRI sangat religius dan para pendiri bangsa tegas menyatakan NKRI adalah negara beragama, bukan negara sekuler dan liberal.

"Itu juga menunjukkan bahwa pemahaman Ahok tentang kebebasan sangat nirbatas seperti faham kebebasan ala sekuler liberal yang serba boleh yang abaikan agama," katanya.

Pehamanan bahwa bangsa Indonesia boleh apa saja dan boleh bertentangan dengan agama sekali pun, muaranya seperti negara-negara liberal yang menyatakan boleh tidak beragama, kawin sejenis, atheis, bahkan menentang menyerang Tuhan dan seterusnya.

"Seperti ucapan Ahok yang sangat populer 'Kalau Tuhan ngaco pun saya lawan'. Sungguh kata-kata itu tak pantas diucapkan seorang warga bangsa Indonesia yang sangat religius, sangat menghormati Tuhan yang terpatri dalam imannya bahwa Tuhan tak pernah salah apalagi ngaco," kata Anton.
 
Menurut Anton, karena pemahaman Ahok seperti itu, maka iapun sangat enteng menista Al Quran dengan mudah mengatakan 'Jangan mau dibohongi pake Al Maidah ayat 51 dan seterusnya.

Relevansi antara pikiran, sikap, dan ucapannya semakin nyata menunjukkan siapa dia jika tetap dalm pemahamannya dia bukan lagi tak pantas menjadi pejabat apapun di NKRI, bahkan dia tidak layak menjadi warga bangsa Indonesia.

"Dari sini kita ingatkan siapapun pendukung Ahok dengan pemahaman seperti itu telah gagal faham, telah salah pikir. Orang seperti itu juga tak layak menjadi warga bangsa Indonesia yang sangat religius. Ya siapapun tanpa kecuali. Semoga pengurus-pengurus dan anggota parpol pendukungnya sadar dengan masalah yang sangat prinsip, serius ini demi keselamatan dan kejayaan NKRI," kata Anton.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Share this article